*Budaya Nusantara mengajarkan pengetahuan kearifan lokal dan interaksi antara manusia dengan alam yakni budaya*
*Mayoritas masyarakatnya bertani, nelayan dan berdagang , mereka menerapkan sistem kehidupan yang tetap menjaga keseimbangan alam. Sebab bagi mereka, hidup berasal dari dan untuk sang pencipta alam.*
*Mereka yang sesungguhnya bercocok tanam, berteriak, berdagang dan bekerja sebagai nelayan dengan tidak menggunakan cara cara yang dapat merusak alam. Hasilnya, cukup untuk makan sehari-hari. Mereka tak berpikir untung rugi, karena yang terpenting bagi mereka adalah rasa “cukup”.*
*Mereka hidup serba sederhana–dalam pandangan mayoritas orang kota–rumah-rumah mereka lebih pada menjaga lingkungan sekelilingnya ada tegal dan sawah yang hijau dan luas. Semuanya asri, meski jalan setapaknya belum beraspal. Selain itu, mereka gemar saling membantu jika sesamanya ada yang kesulitan. Mereka tak meminta bayaran. Semuanya ikhlas berotong-royong untuk saling tolong menolong.*
*Formula yang membentuk masyarakat menjadi demikian. Mereka berpegang teguh pada budaya yang terdiri dari tuntunan, pepali (larangan), dan pedoman.*
*Ajaran itu berisi pesan moral antara lain jujur, sabar, trokal (berusaha) lan narimo (menerima dengan ikhlas akan anugerah sang pencipta), rukun (pertalian persahabatan dan persaudaraan), gotong royong (kerja sama) memacu hening buwono langgeng.*
*Kelima tuntunan tersebut saling berintegrasi dan menjadi perekat hubungan antarsesama manusia, yang akhirnya membentuk kedamaian pada masyarakat berbudi luhur ( Berakhlak karimah).*
*Sebagai pembendung sifat-sifat tercela, ada pula lima larangan mutlak dalam ajaran budaya. Seperti bersikap drengki (tindak tanduk yang jahil), srei (menjegal), dahpen (suka mencela), kemeren (iri hati), pek pinek liyan (mengambil milik orang lain tanpa ijin), dan beda sapodo padaning urip (membeda-bedakan sesama makhluk hidup).*
*Larangan inilah yang menjauhkan masyarakat dari segala bentuk kejahatan sehingga tingkat kriminalitas sangat sangat minim*
*Selebihnya, untuk mempertahankan konsistensi norma hidup yang arif, masyarakat berpegangan teguh pada tiga pedoman, seperti pangucap, pertikel, dan kelakuan yang artinya ucapan, pikiran dan tindakan yang perlu diperhatikan. Maka dari itu, masyarakat senantiasa menjaga perasaan*.
*Meski begitu, masyarakat pernah punya sejarah panjang sejak masa kolonial, setelah menyatukan barisan untuk membela negara tanpa senjata api dan hanya bermodalkan senjata sederhana yakni sabar,narimo.*
*Pada masa kini, mereka tidak lengah dengan tetap merekatkan ajaran-ajaran pada kehidupan sehari-hari. Dari keindahan hidup yang berpendar dari kearifan dan kesederhaan, ambisi dan egoisme yang menjangkiti kebanyakan masyarakat modern nyaris tak terlihat.*
*Hingga saat ini masyarakat masih tetap menggiatkan , aksi peduli lingkungan hidup melawan pemanasan global seperti, “Think globally, act locally” yang ternyata justru telah dilakukan oleh masyarakat sejak dulu.*
*Mereka tidak hanya memikirkan tentang keseimbangan alam dan kerukunan hidup antarwarga saja, namun juga memikirkan kelangsungan alam untuk generasi penerus dan membantu dalam menjaga keutuhan persatuan nasional. Bagaimana bisa ajaran tersebut bertahan di era yang sudah modern ini. Karena ajaran tersebut sudah menyatu pada sistem kehidupan masyarakat .*
*Seorang Antropolog bernama Radcliffe Brown dengan konsep fungsionalismenya, menekankan bahwa suatu kebiasaan tertentu pada nyatanya berfungsi membantu pemeliharaan sistem sosial masyarakat.*
*Maka dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa ajaran tersebut diteruskan secara oleh generasi penerusnya, namun dengan cara yang alami, yakni terus menerus dilakukan sehingga ajaran tersebut tidak utopis, melainkan sudah menubuh pada diri masing masing pribadi.*
*Hal ini patut untuk dipercontohkan pada masyarakat lain pada umumnya, agar norma hidup gotong-royong yang menjadi jati diri bangsa Indonesia, tidak hilang ditelan zaman yang semakin riuh dan hanya tertinggal menjadi sebuah kenangan dan sejarah.*
*Upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kehidupan dunia, sehingga tercermin akhlak yang mulia dan dekat dengan Allah SWT.*
*Subtansi keselarasan dengan ajaran islam merupakan jalan keluar terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah yang dipahami sebagai salah satu elemen penting dalam ajaran Islam, sehingga semakin dekat seorang hamba kepada Allah semakin besar pula pengorbanannya kepada lingkungan sekitarnya.*
*Ajaran Islam sebagaimana terkandung dalam kedua sumbernya, Al Qur’an dan as-Sunah, yakni mendorong untuk hidup sufistik. Selain itu, kedua sumber tersebut mendorong agar umatnya beribadah, berperilaku baik, shalat , berpuasa dan sebagainya, yang semua itu merupakan subtansinya*
*Kedua sumber tersebut juga mendorong kepada umat manusia agar mempunyai sifat-sifat terpuji. Dalam berbagai ayat banyak dijumpai sifat damai jauh dari keresahan, agar manusia termotivasi mencari subtansi akhlakul karimah dan menjauhkan diri dari sikap yang jauh dari sifat kasih yang menyayangi*.




