Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail merupakan salah satu pelajaran tauhid paling agung dalam ajaran Islam. Dari kisah ayah dan anak ini, umat manusia diajarkan tentang keimanan, ketundukan, dan kepasrahan total kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tauhid bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi harus dibuktikan dengan pengorbanan, kesabaran, dan ketaatan dalam kehidupan nyata.
Nabi Ibrahim dikenal sebagai kekasih Allah karena keteguhan imannya. Sejak muda, beliau telah menolak penyembahan berhala yang dilakukan kaumnya. Dengan akal yang jernih dan hati yang bersih, beliau menyadari bahwa patung-patung tidak pantas disembah. Beliau mengajak manusia hanya menyembah Allah Yang Maha Esa. Perjuangan beliau dalam menegakkan tauhid penuh dengan ujian dan tantangan. Bahkan beliau pernah dibakar oleh Raja Namrud karena dakwah tauhidnya. Namun Allah menyelamatkannya, sehingga api yang panas menjadi dingin dan tidak membahayakan.
Pelajaran besar tentang tauhid semakin terlihat ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya yang sangat dicintainya, yaitu Nabi Ismail. Perintah itu datang melalui mimpi yang diyakini sebagai wahyu dari Allah. Nabi Ibrahim tidak mendahulukan perasaan, hawa nafsu, atau cinta dunia. Beliau lebih mengutamakan perintah Allah daripada segala-galanya. Inilah hakikat tauhid, yaitu menempatkan Allah di atas semua kecintaan.
Yang lebih mengagumkan, Nabi Ismail juga menunjukkan keimanan yang luar biasa. Ketika ayahnya menyampaikan perintah Allah tersebut, beliau tidak marah, tidak menolak, dan tidak memberontak. Selengkapnya baca di Buletin Jum’at HAMZANWADI Edisi 289
Donasi ke Panti Asuhan Nahdlatul Wathan Jakarta melalui rekening resminya di – 32500 1002 159536 Bank BRI- atas nama PA.AS NAHDLATUL CQ SUHADI




