Prof Dr H Harapandi : “Sayangilah orang yang Lebih Tua” 

banner post atas

Diceritakan bahwa pada suatu pagi Sayyidina ‘Ali Radliyallahu Anhu tergesa-gesa berangkat dari rumahnya untuk menunaikan ibadah salat fajar, lalu di tengah perjalanannya beliau menjumpai seorang syaikh (orang tua-renta) berjalan dengan perlahan.

Melihat orang tua yang berjalan dengan perlahan, sayyidina ‘Ali tidak mau mendahuluinya, iapun mengikuti irama langkah kaki sang syaikh, beliau menunjukkan kasih-sayangnya dan rasa ta’dzimnya kepada orang tua tersebut, juga beliau ingin memberikan penjagaan, khawatir lelaki tua tersebut terjatuh dan tidak kuat berjalan, perjalanan ini memakan waktu hingga hampir akan terbit matahari.

Setelah sampai di dekat masjid, lelaki tua tersebut duduk di dekat pintu masjid tidak meneruskan langkahnya masuk ke dalam masjid, disanalah ‘Ali bin Abi Thalib mengetahui bahawa lelaki tua yang ia jaga dan khawatirkan di perjalanan adalah seorang Nashrani. Lalu sayyidina ‘Alipun masuk ke dalam masjid dan mendapatkan Rasulullah dan para Sahabat beliau sedang ruku’ rakaat kedua. Rukuk kali ini, dilakukan Rasulullah sepanjang dua kali rukuk sehingga ‘Ali menjumpainya.

Iklan

Setelah Nabi dan para Sahabat selesai menjalankan salat subuh, lalu ‘Ali pun bertanya;”Wahai Rasulullah, mengapa engkau panjangkan rukukmu pada salat kali ini padahal selama ini engkau belum pernah melakukannya?, Rasulullah menjawab;” ketika aku rukuk dan membaca tasbih سبحان ربي العظيم seperti biasanya dan ketika aku akan mengangkat kepala, tiba-tiba Malaikat Jibril datang dan meletakkan sayapnya di atas pundakku sehingga aku rukuk panjang seperti ini, ketika dia mengangkat sayapnya, maka akupun bangun dari rukukku.
Mendengar penjelasan tersebut, lalu para sahabat bertanya;”mengapa Malaikat Jibril melakukan itu wahai Rasul, Nabi berkata;”Aku tidak bertanya tentang itu kepadanya”.

Lalu Malaikat Jibril datang kepada Nabi dan berkata;”Wahai Muhammad, ketahuilah bahawa ‘Ali keluar dari rumahnya tergesa-gesa ingin menjumpai salat jama’ah bersamamu, lalu ia menjumpai seorang lelaki tua Nasharni dan berjalan di hadapannya, dia tidak ingin mendahului langkah lelaki tua tersebut karena rasa hormat dan untuk menjaganya, maka Allah memerintahkanku untuk menahan rukukmu pada rakaat kedua agar ‘Ali menjumpai salat bersamamu. Peristiwa yang aku lakukan ini –lanjut Malaikat Jibril—bukanlah perkara aneh, melainkan yang lebih mengherankan lagi Allah perintahkan Malaikat Mikail untuk menahan dan menutupi matahari dengan sayapnya agar matahari tidak terbit karena sikap ‘Ali yang menjaga dan menghormati lelaki tua tersebut.

Dahsyat, memberi hormat, menjaga dan mengasihi orang-orang tua, tidak kenal agama, suku, ras dan bangsa adalah sifat yang sangat terpuji, Allah memberikan hak-hak spesial bagi siapa saja yang memiliki sifat seperti Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhahu. Karena menjaga lelaki tua Nashrani, maka Allah memberikan dua keutamaan yang sangat luar biasa kepada beliau, bagaimana halnya jika yang kita sayangi, kita jaga dan kita rawat adalah lelaki mahupun perempuan tua adalah ayah ibu kita?, maka Allah akan memberikan kemuliaan jauh lebih besar dibandingkan keutamaan yang didapatkan Sayyidina ‘Ali.

Nasihatnya, perhatikan, jaga dan sayangi ibu bapak kita yang sudah tua renta, kulitnya telah mengeriput, tulang-belulangnya telah rapuh, sendi-sendinya menjadi rentan patah dan tiada memiliki kekuatan lagi, disinilah kita datang sebagai anak yang telah mereka rawat dan sayangi ketika kita tidak dapat berkata-kata, tangis dan tawa menjadi media, mereka–ibu bapak kita–, paham apa yang kita rasakan dan inginkan, saat tubuh kita terasa sakit, demam panas bahkan menggigil kedinginan, hati mereka terluka karena sakit yang kita alami dan rasakan bahkan tidak jarang mereka bergumam sambil berdoa;”Ya Rabbi, jika engkau ingin, pindahkanlah sakit anakku kepadaku, biarkanlah aku yang merasakan sakit, sehatkanlah mereka”.