Menikah bukan satu-satunya Tujuan Hidup oleh : Dewi Sasmita

banner post atas

Ini agaknya akan menjadi topik pembahasan yang menarik, ditengah gentirnya orang-orang mencari pasangan hidup, saya justru terinspirasi menulis Tulisan ini semata-mata untuk mengingatkan diri saya pribadi.

Ketika seseorang ditanya tentang Pernikahan pasti semua orang akan menjawab Ingin Menikah, Anak-anak yang baru beranjak Dewasapun akan menjawab dengan jawaban serupa. Tapi pernahkah kita sedikit merenungkan bahwa Nikah bukanlah satu-satunya Tujuan Hidup?

Ketika seseorang telah Menikah, seseorang merasa telah mencapai Life Goals nya, padahal dalam kehidupan pernikahannya seseorang justru akan dihadapkan dengan banyak permasalahan dan munculnya tujuan-tujuan hidup yang lainnya. Seperti setelah Menikah ingin punya Anak 10, setelah punya anak ingin punya rumah mewah, setelah punya rumah mewah ingin punya Bisnis Sukses, setelah bisnis sukses ingin menambah Jumlah isteri, setelah menambah isteri ingin punya cucu, setelah punya cucu ingin punya punya Mobil banyak, Tujuan yang akan selalu berubah-ubah bergantung pada Kondisi Seseorang, Tujuan yang tak berujung dan hanya Kematian yang akan menghentikan Manusia untuk menetapkan Tujuan Hidupnya.

Iklan

Kilas Balik kita mengingat Kisah seorang Sufi perempuan yang sangat terkenal dan masih diperbincangkan hingga hari ini, Dia adalah Rabiatul Adawiyah seseorang hamba yang terkenal dengan Kecintaannya kepada Tuhannya sampai-sampai ia memilih untuk tidak menikah hanya karena ia ingin satu-satunya yang ada dihatinya hanya Tuhan (Allah)
Ada juga Imam Ahmad bin Hambal dan Ibnu Taimiyah juga tidak sempat menikah. Bukan karena tidak mau, tapi karena kesibukan mengajarkan dan membela Islam saat itu. Lalu apakah bisa dikatakan bahwa Agama mereka semua tidak sempurna hanya karena tidak menikah?
Tentu jawabannya sama sekali Tidak. Secara mereka semua adalah Sufi dan Imam, tapi sebelum menyimpulkan apapun tentunya kisah ini bukanlah sebuah ideologi yang harus dipatuhi apalagi dijadikan dalil untuk tidak menikah. Tentu tidak!

Lalu apa yang dimaksud dengan Hadist menikah adalah penyempurna separuh agama?
Baik,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفُ الدِّيْنِ فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي

“Ketika seorang hamba menikah, berarti dia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka bertaqwalah kepada Allah pada setengah sisanya.”

Ini merupakan isyarat tentang keutamaan nikah, yaitu dalam rangka mlindungi diri dari penyimpangan (zina), agar terhindar dari kerusakan. Karena yang merusak agama manusia umumnya adalah dua hal, yakni : kemaluannya dan perutnya.
Dan Dengan menikah, maka salah satunya telah terpenuhi inilah yang dimaksud dengan penyempurna agama bahwa nikah akan melindungi orang dari zina. Sementara menjaga kehormatan dari zina termasuk salah satu yang mendapat jaminan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan surga. Beliau mengatakan, ‘Siapa yang dilindungi Allah dari dua bahaya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga, yaitu dilindungi dari dampak buruk mulutnya dan kemaluannnya.

BACA JUGA  Zulkarnaen: Mengkaji Buah Pikir Hamzanwadi; Sebuah Kode dari Realitas-Kedisinian

Jadi tidak bisa diartikan mentah-mentah bahwa Menikah itu adalah Tambal dari ketidaksempurnaan agama, seperti contoh sufi dan para imam diatas, mereka semua terkenal dengan kesalihan dan ke-alimannya dan sangat tidak bisa diasumsikan bahwa agama mereka belum sempurna.

Dari penjelasan ini semakin meyakinkan bahwa menikah bukan satu-satunya tujuan Hidup. Tujuan Hidup yang paling Utama adalah Tuhan (Allah) beserta Keridha-an Nya. Dan untuk mencapai Ridha-Nya harus dengan Ibadah, Ibadah adalah salah satu Wasilah kita untuk Mendekatkan diri dengn Tuhan.
Allah SWT Berfirman

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepadaku”. (QS. Adzaariyaat:56)

Makna ibadah diatas tidaklah semata-mata diartikan bahwa setiap saat kita harus shalat, tadarus, puasa dan sujud terus menerus. Melainkan setiap sesuatu yang dilakukan dengan baik atau sesuatu yang dilakukan untuk menunjang ibadah maka hal itu juga dihukumi ibadah.
Segala sesuatu yang diniatkan untuk ibadah maka hal itu juga dianggap ibadah meskipun amalannya berbentuk amalan dunia. Misalnya saja bekerja, bekerja akan menjadi nilai ibadah jika kita niati untuk menafkahi keluarga, atau untuk menunjang kebutuhan sehari-hari agar tenang dalam beribadah.

Ibadah itu sangat luas Ruang Lingkupnya, Tidak sesempit yang yang kita pikirkan.
Bahkan Menuntut ilmu pun menjadi Ibadah yang Diwajibkan bagi muslim Laki-laki maupun Perempuan, menjadi Ibadah yang lebih Diutamakan dibandingkan Ibadah yang lainnya, karena Tanpa Ilmu kita tidak akan Bisa melaksanakan Ibadah.
Ibadah bukan hanya Menikah, Menikahpun sewaktu-waktu Hukumnya bisa berubah menjadi Haram bergantung kepada kondisi Seseorang.

4 Tahun belakangan ini Banyaknya Narasi-narasi, ataupun edukasi yang Mengkempanyekan Nikah Muda, seolah Didewasa ini Nikah Muda dijadikan sebuah trand. Banyak sekali video-video yang berisikan adegan-adegan yang menarik orang lain untuk Menikah muda, sangat jarang sekali Ada edukasi-edukasi tentang Dampak Negatif Nikah dibawah Usia Matang, sangat jarang edukasi-edukasi tentang bagaimana cara untuk Survive dalam Pernikahan seburuk apapun Kondisi pernikahan itu.
Pernikahan seolah dijadikan Konten bukan lagi sebagai Kenyataan Hidup, setiap Konten dalam Video yang menggambarkan kegiatan sehari-hari Suami Isteri dan hanya menampilkan sisi Baik Pernikahan, hal yang dipersiapkan sebelum membuat Konten tentunya adalah konsep-konsep supaya Kontenya menjadi Menarik dan Menarik banyak Viewers dan begitu sampai seterusnya sehingga kehidupan nyata mereka hanya ada pada Konten bukan pada Realita. Lebih menyedihkannya sekali Menikah dijadikan Konten Monetisasu.

Banyak orang-orang yang beralasan Menikah hanya karena Dorongan Zaman, dengan Dalih “Sebentar lagi Kiamat” padahal Kiamat ataupun Tidak apa pengaruhnya untuk kita, yang dipertanyakan nanti bukan Status Pernikahan bukan ditanyakan “Sudah Menikah atau Belum?” melainkan Amal Ibadah, Ketauhidan & Aqidah kita yang akan dipertanyakan.
Banyak orang Menikah namun Secara Fisik, Mental, Finansial jauh dari kata Siap tapi karena memenangkan Hawa Nafsu banyak Pernikahan didasari Ketidaksiapan dan Ujung-ujungnya Pernikahan Muda hanya melahirkan Kasus-kasus Perceraian yang Baru.

BACA JUGA  Samsul Hadi: Berbuat baik saja, selebihnya adalah akibat

Terlepas dari itu semua, tulisan ini bukan untuk Melarang orang untuk Menikah melainkan meng-edukasi orang untuk Merubah Mind set tentang Pernikahan diusia Muda.
Saya sangat menyayangkan maraknya konten-konten yang beredar yang mengajak orang untuk menikah muda, seolah tujuan hidup satu-satunya hanya menikah. Dari sisi psikologisnya pun hal ini sangat mempengaruhi terutama psikologis anak dibawah umur. Mereka akan terdorong untuk menikah akibat dari menjamurnya konten-konten Pernikahan Muda.

Sangat sedikit sekali konten-konten yang me-motivasi untuk Sukses di usia Muda, sehingga Anak Muda saat ini lebih tertarik untuk Menikah di Usia Muda dibandingkan Sukses diusia muda. Ini bisa jadi ancaman besar bagi masa depan negara kita kedepannya, kalau hari ini saja anak muda hanya memikirkan pernikahan lalu 10 tahun kedepan yang akan memikirkan Negara ini siapa? Tidak mungkin yang Tua akan terus menguasai negara ini. Realita ini sangat menyedihkan bagi diri saya pribadi. Disaat negara lain sibuk membangun negaranya, sibuk mempersiapkan Anak mudanya sebagai generasi selanjutnya, di Indonesia justru sebaliknya.

Sudah sepantasnya kita mulai membuka Pikiran kita, sudah sepantasnya kita bertindak untuk masa depan negara tercinta ini.
Konten-konten yang berisikan narasi untuk menikah Muda harusnya tidak dibiarkan bebas untuk diakses, kalau Film 18+ saja diabatasi aksesnya, lalu kenapa konten-konten yang mengkhawatirkan bagi masa depan pemuda bangsa ini tidak dibatasi?

Peran orangtua juga sangat penting untuk mengedukasi anak-anaknya untuk menjauhi Zina bukan hanya dengan Menikah, karena pernikahan bukan hanya tentang Zina saja, tapi ada banyak sekali hal yang harus dipertimbangkan dalam pernikahan, karena Pernikahan tidak selamanya bisa menghindari dari Zina contohnya saja banyak Zina dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Yang bisa menghindari Zina itu hanyalah Pemahaman dan Kesadaran tentang dampak Buruk dari Zina itu sendiri.

Jadi berhentilah membuat narasi untuk menikah muda hanya karena alasan menghindari Zina, banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk mengedukasi publik untuk tidak berbuat Zina.

Terlalu banyak hal yang harus dipikirkan untuk Kemajuan Negara ini, terutama dalam Kondisi seperti ini Indonesia akan diperkirakan mengalami krisis ekonomi, seharusnya pemuda hari ini sudah mulai memikirkan tindakan-tindakan bagimana cara bertahan dalam situasi tersebut. Pemuda hari ini seharusnya fokus untuk mengasah skil supaya bisa menjadi pemuda yang produktif.
Pemuda-pemuda Indonesia harus proaktif dalam Bertindak menghadapi masa sulit karena Pandemi Covid-19 ini. Lebih-lebih Indonesia sudah memasuki tahap Resesi, jadi kalau bukan Inovasi-inovasi dari Generasi Milenial yang disumbangkan, entah bagaimana nasib negara Ini kedepannya.