Tauhid adalah bahasa yang lebih akrab dari monoteisme Islam. Monoteisme sendiri berarti aliran yang meyakini adanya satu tuhan. Karena memang di dunia terdapat aliran yang meyakini tuhan lebih dari satu dan ada juga yang tak meyakini satupun atau disebut ateis. Kita biasanya sudah berdiri dalam sebuah keyakinan akan satu tuhan. Orang tua kita adalah seorang muslim.
Dalam kondisi tersebut, banyak dari kita yang sama sekali tidak pernah memilih agama. Seharusnya agama adalah sesuatu yang harus dipilih. Kebebasan manusia berfungsi dalam konteks ini. Banyaknya pilihan yang ada di dunia meniscayakan yang namanya kebebasan. Setiap pilihan adalah hasil dari kebebasan itu.
Akibatnya, ritual beragama kita, mungkin masih pada level hapalan saja. Sholat yang saya lakukan dan anda mungkin tak pernah senikmat apa yang diceritakan oleh para sufi. Sholat yang seharusnya membuat kita ingat kepada Allah, mungkin sampai sekarang hanya menjadi medium mengingat apa yang kita lupakan. Barangkali sering dalam sholat kita mengingat hal-hal yang kita lupakan dan kita lupa kepada Allah.
Seharusnya level ibadah kita tidak sama dengan 10 tahun lalu. Kita masih sama pasca kita menghapal bacaan-bacaan sholat itu waktu kecil dan kita mempertahankannya, mungkin sampai sekarang. Kita seperti tak pernah menilai kualitas ibadah kita sendiri. Kita terkesan tak serius dalam memperbaiki hubungan kita dengan pencipta.
Level itu mungkin bisa bergeser jika kita mau memilih agama ini secara sadar. Taklid agama sejauh ini tak terlalu bagus dalam menentukan perilaku beragama kita. Kalaupun kita tak punya waktu untuk menguji kebenaran agama-agama di dunia. Kita bisa mulai untuk menguji kebenaran agama dimana kita berdiri hari ini. Saya pikir agama adalah hal yang perlu diseriusi. Ini soal kehidupan setelah mati. Serius dalam konteks ini adalah untuk menguji kebenarannya. Kita tentu tak mau berdiri dalam ketidak benaran.
Saya pikir kita sepakat, akal membantu, membimbing, menunjukkan kita kepada hal-hal baik. Kita bisa membedakan baik buruk dengannya. Yang perlu kita lakukan adalah menguji Islam dengan akal kita. Kita tak punya alternatif lain untuk menguji kebenarannya selain dengan akal sebelum menggunakan pendekatan apa yang disebut oleh sumber primer Islam. Kita perlu menguji kebenarannya dulu baru kita ikuti. Di sinilah nanti level kita akan bergeser kepada yang lebih baik.
Jika anda ragu melakukan ini. Mungkin anda perlu membaca bagaimana Nabi mendakwahkan Islam. Objek dakwah dalam sejarahnya tak langsung percaya. Mereka menguji kebenaran apa yang dibawa Nabi. Mereka menggunakan akal untuk mengujinya. Anda mungkin akrab dengan asbabun nuzul dari surat Al lahab. Pendekatan kebenaran koherensi, digunakan Nabi ketika mendakwahkan kebenaran saat itu.
Selain akal memang ada sesatu yang lain yang digunakan objek dakwah untuk menguji kebenaran. Misalnya adalah hati nurani. Banyak dari kaum lemah saat itu masuk ke dalam Islam karena ajaran Islam lebih sesuai dengan hati nurani dibanding ajaran kaum jahiliah saat itu. Islam dalam hal ini disebut sebagai agama kaum tertindas oleh mereka yang Islam kiri dan tentu sesuai dengan hati nurani manusia.
Cerita di atas adalah sekelumit soal bagaimana para sahabat melakukan pengujian kebenaran terhadap Islam. Jika anda ingat bagaimana para sahabat dipuji oleh tuhan. Hal itu disebabkan oleh penghayatan mereka kepada agama yang mereka pilih. Mereka menguji, memilih kemudian total atau kaffah dalam menjalani Islam.
Jika anda mau melakukan pengujian, anda bisa mulai dari mempertanyakan yang namanya kebenaran menurut akal. Ini perlu, karena bisa saja kita berada dalam cara berpikir yang salah. Istilahnya logical fallacy. Ada belasan cara berpikir yang salah menurut kajiannya. Oleh karena itu perlu kita pastikan cara berpikir kita dulu.
Yang jelas, pasti akan ada hal yang berbeda ketika kita benar-benar memilih agama ini dengan sadar, karena anda harus benar-benar memastikan cara berpikir anda benar dulu. Di sisi lain, catatan taklid ummat Islam dalam konteks ini memiliki pengaruh yang besar terhadap citra ummat Islam sendiri. Tulisan Orientalis soal Timur yang terbelakang, tidak rasional agaknya benar. Namun terlepas soal tulisan itu, ada pentingnya memilih agama monoteis ini dengan fitrah kebebasan kita.




