Menampar Pendidikan Indonesia
Oleh Zulkarnaen Mahasiswa Fakultas Pendidikan Universitas Hamzanwadi
Ang. Bid. Pendidikan HIMMAH NW Lombok Timur
“di tengah banyaknya kasus korupsi di Indonesia, seharusnya Pendidikan lah yang harus tersinggung” (Prof. Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam) Masih hangat dalam jagad sosial media, soal kasus Novel Baswedan. Tidak sedikit yang ikut berkomentar soal kasus ini. Ada yang melontarkan kepesimisan soal keadilan, ada yang melontarkan betapa lucunya negara ini, ada yang mengatakan ini adalah karma.
Dalam tulisan, penulis mencoba menawarkan sebuah pandangan akan relasi Pendidikan dan kasus tersebut. Dalam khazanah dunia pendidikan, kita akan menemukan salah satu pikiran pendidikan yang memiliki orientasi pembebasan dan menjelaskan keterkaitan sistem yang berlaku dalam sebuah tatanan sosial, seperti dalam pikiran pindidikan Paulo Freire. Dalam tulisan ini, akan dibahas sekelumit soal pikiran pendidikan Paulo Freire.
Freire memberikan demarkasi soal kesadaran masyarakat. Pertama, kesadaran magis dimana menurut Freire masyarakat dalam kesadaran ini melihat suatu realitas memang begitu adanya, bahkan mereka menganggap realitas itu adalah bagian kehendak dari luar diri manusia, mereka memandangnya sebagai nasib yang tidak bisa diubah, mereka hanya meyakini bahwa akan ada giliran menjadi lebih baik, hanya menunggu ia datang. Contoh yang diberikan Freire dalam karyannya, pedagogy oppressed bagaimana masyarakat Brasil melihat kemiskinan yang mereka rasakan sama sekali tidak memiliki kaitan dengan sistem ekonomi dan politik yang tidak berpihak untuk mereka.
Kedua, kesadaran naif dimana masyarakat dalam kesadarannya melihat suatu realitas sebagai sesuatu yang harus diikuti. Dalam kesadaran ini kemudian, masyarakat hanya melakukan penyesuain yang masih dalam konteks tidak berusaha merubah keadaan mereka yang sedang ditindas. William A. Smith dalam buku Conscientizacao; Tujuan Pendidikan Paulo Freire menyebut meraka yang dalam kesadaran ini tidak suka membicarakan apa yang seharusnya mereka lakukan dalam merubah keadaaan mereka. Mereka lebih suka membahas masa lalu.
Ketiga, kesadaran kritis dimana masyarakat dalam kesadaran ini melihat realitas merupakan kesatuan yang terintegrasi. Freire menjadi saksi akan adanya masyarakat ini di Brasil. Mereka melihat relasi kemiskinan dengan sistem ekonomi dan politik yang tidak berpihak untuk mereka. Pendidikan inilah yang diinisiasi oleh Freire, pendidikan untuk kaum tertindas.
Meminjam pikiran Freire soal kesadaran kritis, bahwa ada kaitan antara pendidikan dan kasus Novel Baswedan. Realitas tersebut erat kaitannya dengan pendidikan yang sudah sedang berlangsung di dalam negara ini. Mengutip apa yang dikatakan prof. Ahmad Tafsir dalam bukunya, filsafat pendidikan Islam bahwa kita harus lebih waspada kepada manusia yang terampil, profesional, memiliki skill yang hebat. Prof. Tafsir melanjutkannya dengan mengatakan banyak manusia yang gagal menjadi manusia disebabkan oleh pendidikan yang hanya membantu mengembangkan otak dan jasmani manusia. Bahkan menurutnya, terlalu banyak catatan soal jauhnya inti pendidikan kita dengan produknya. Menyiram orang dengan air panas sama sekali tidak mencerminkan manusia yang Indonesia yang inti pendidikannya pada bagaimana membantu manusia menjadi manusia yang taat kepada tuhannya.
Dalam buku tersebut, prof. Tafsir menjelaskan paradigma pendidikan Indonesia berdasarkan ideologi yang dianutnya yaitu Pancasila. Beliau dalam buku tersebut menjelasakan filosofi kenapa simbol sila yang pertama berada di tengah dan masuk ke sila-sila yang lain. Bahwa membantu manusia menjadi manusia yang taat kepada tuhan adalah inti pendidikan Indonesia dan masuk ke dalam setiap relung oprasional pendidikan.
Kasus ini seharusnya menjadi perhatian segenap pendidik dan pemangku pendidikan di Indonesia. Ada jarak yang cukup jauh dengan inti pendidikan dengan hasil. Realitas masyarakat adalah cermin, ia erat kaitannya dengan realitas pendidikan yang dimana ia berada. Ini kemudian penting menjadi catatan dan bahan pertimbangan bagi pendidik dan pemangkunya.



