Tetangga Beda Manhaj oleh : Zulkarnaen

banner post atas

Fenomenanya setiap kelompok menyebut diri bermanhaj salaf. Fenomena ini mirip dengan truth claim-nya sekte-sekte dalam Islam. Setiap sekte menyebut diri sebagai golongan ahlussunnah wal jama’ah, golongan yang selamat. Ini wajar terjadi karena hal prinsip sekali. Ini soal keselamatan nanti di akhirat. Soal manhaj salaf juga menjadi fenomena yang tak lebih sama. Setiap sekte menyebut diri bermanhaj salaf.

Kondisi tersebut bisa berujung pada ketidak bisaan menerima perbedaan. Ummat Islam memiliki pengalaman buruk soal perbedaan. Ummat Islam pernah berbeda ijtihad politik lalu saling bunuh. Bagusnya perbedaan hari ini tak sampai membuat saling bunuh. Sejauh ini perbedaan manhaj membuat satu kelompok mengkatagorisasikan kelompok lain sebagai ahli neraka. Namun Ini cukup menyebabkan terjadinya disintegrasi sosial di dalam internal ummat Islam sendiri.
Pernah lama sekali ummat Islam saling salah menyalahkan. Kondisi inilah yang menjadi faktor masih stagnan-nya Islam dalam percaturan peradaban dunia. Ummat Islam mau tidak mau harus mencari titik temu dari perbedaan-perbedaan yang berimplikasi saling menyalahkan. Saling menjatuhkan karena perbedaan jelas kontradiksi dengan apa yang terdapat dalam Al Quran. Dalam konteks sesama muslim, Islam menjadikan saya dan anda sebagai saudara semuslim. Islam dalam hal ini bahkan menggunakan diksi saudara kandung atau kata ikhwah dalam sebuah ayat.

Apa yang disampaikan oleh Prof. Quraish sepertinya bagus untuk menjadi tengah. Bahwa perpecahan ummat Islam yang terdapat dalam hadits bukan merupakan perpecahan kontra produktif. Namun pada posisi berlomba-lomba dalam kebaikan. Prof. Quraish menyebut hadits tersebut adalah hadits maqlubah. Matan hadits-nya sebenarnya bukan mengatakan ahlussunnah wal jama’ah yang selamat, namun matan-nya mengatakan bahwa ada satu kelompok yang tidak selamat dari api neraka, yakni mereka yang tak percaya Allah dan Rosulnya. Perbedaan di antara kelompok Islam hanya dalam konteks furu’iyah saja.

Iklan

Apapun manhaj yang kita pakai karena perbedaan kelompok kita. Selama yang usuliyah tak berbeda, maka itu tak apa-apa. Kalaupun kita berbeda dalam usuliah sekalipun, tak boleh membuat kita saling bunuh. Kita masih saudara semanusia. Saya pikir untuk konteks kita, penting untuk melakukan pertemuan. Ummat Islam sejauh ini masih berjamaah dalam hal ritual saja, masih belum ke arah ekonomi berjamaah, membangun berjamaah dan seterusnya dari hal-hal yang perlu kita lakukan.

Belum lagi kita masih tertinggal oleh barat dalam hal ilmu pengetahuan. Barat sejauh ini mampu menjadi yang paling depan dalam menjawab, membantu manusia dalam menghadapi kehidupan. Saya pikir kita sepakat bukan saatnya memikirkan perbedaan-perbedaa itu. Saatnya bersama bekerja sama dalam mengangkat citra Islam dan ummat Islam.
Penting mempertimbangkan apa yang ditawarkan oleh cendikiawan kontemporer ketika menyuarakan paradigma antroposentris kepada ummat Islam. Paradigma teosentris kita cukupkan kisahnya menulis sejarah kelam peperangan ummat Islam. Kita harus bicara manusia kini, masalah-masalahnya, ketertindasannya, kemiskinannya. Dalam konteks ini Islam kemudian sangat membumi.

Mungkin yang paling bijak adalah meletakkan perbedaan sebagai suatu keniscayaan yang tak perlu menjadi bencana bagi kita. Perbedaan adalah rahmat. Nalar liberalisme pun mengatakan aneh jika ummat Islam bermusuhan. Secara Islam bermakna damai. Hal yang penting kita lakukan adalah memahami manhaj kita sendiri. Penting mengenal diri kita sendiri supaya tidak mudah terprovokasi karena kedangkalan pengetahuan