Sinar5news – Hampir seluruh pengidap yang mengalami ablasi retina membutuhkan pembedahan untuk memperbaiki robekan, lubang, atau mengembalikan retina pada posisi normalnya. Beberapa jenis pembedahan yang dilakukan untuk memperbaiki ablasi retina, yaitu:
1. Fotokoagulasi atau operasi laser
Laser akan diarahkan ke retina melalui pupil. Laser akan membuat luka bakar di sekitar robekan retina dan menimbulkan jaringan parut yang dapat menempelkan retina ke lapisan dibawahnya.
2. Cryopexy atau cryotherapy
Cryopexy menggunakan probe pembekuan khusus untuk membekukan jaringan di sekitar robekan retina. Pembekuan yang terjadi membantu retina menempel pada lapisan bawahnya.
3. Scleral buckle
Prosedur scleral buckle menempatkan gelang lentur pada bola mata untuk menetralkan gaya yang menarik retina dari tempat normalnya.
4. Pneumatic retinopexy
Prosedur pneumatic retinopexy ini menggunakan gas tertentu yang disuntikkan pada ruang vitreous di dalam mata. Gas tersebut akan mendorong robekan retina kembali ke tempatnya. Gas ini akan hilang sendiri secara bertahap.
Dokter akan meminta mempertahankan posisi kepala selama beberapa hari. Prosedur ini sering dikombinasi dengan operasi laser atau cryopexy.
5. Vitrektomi
Dokter mata akan mengeluarkan cairan vitreous pada retina. Vitreous akan diganti dengan gelembung udara, gas, atau minyak. Gelembung mendorong retina ke posisinya sehingga bisa sembuh dengan baik. Jika gelembung minyak digunakan, dokter mata akan mengeluarkan beberapa bulan kemudian.
Dengan gelembung udara atau gas, pengidap tidak diperkenankan untuk melakukan perjalanan dengan pesawat terbang, bepergian ke tempat yang tinggi atau menyelam di laut (scuba diving). Hal ini karena perubahan ketinggian bisa menyebabkan gas mengembang sehingga meningkatkan tekanan mata.
Setelah operasi, penglihatan akan pulih dalam waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan. Namun, mungkin ada beberapa kasus penglihatan tidak pulih sempurna.
Pada beberapa kasus lainnya, ablasi retina tidak dapat diperbaiki, walaupun dengan terapi bedah. Biasanya pada kasus-kasus yang sudah terdapat jaringan parut luas pada retina. Pada intinya, semakin parah terlepasnya retina, semakin sedikit penglihatan yang akan pulih.
Pencegahan Ablasi Retina
Ablasi retina tidak selamanya dapat dicegah, misalnya ablasi retina yang disebabkan karena proses penuaan. Namun, beberapa upaya di bawah ini dapat mengurangi risiko seseorang agar tidak terjadi ablasi retina sebagai berikut :
- Memeriksakan kesehatan mata secara rutin, terlebih jika memiliki faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, atau usia tua.
- Menggunakan alat pelindung pada mata saat berolahraga agar mengurangi risiko cedera serius pada mata.
- Segera mengunjungi dokter mata jika muncul floaters, flash atau kilatan cahaya, atau terdapat perubahan apapun pada pandangan.
- Rutin memeriksakan mata minimal sekali setiap tahun.
- Pemeriksaan harus dilakukan lebih sering jika mengidap diabetes.
- Rutin mengontrol kadar gula dan tekanan darah, supaya kondisi pembuluh darah retina tetap sehat.
- Gunakan pelindung mata ketika berolahraga atau ketika melakukan aktivitas yang berisiko menderai mata.
Komplikasi Ablasi Retina
Komplikasi dapat terjadi jika melakukan prosedur penanganan tertentu. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi yaitu:
- Terbentuknya kondisi mata katarak, atau hilangnya kejernihan pada lensa mata.
- Glaukoma, yaitu peningkatan tekanan di mata.
- Infeksi.
- Pendarahan ke dalam rongga vitreous.
- Kehilangan penglihatan.
- Kehilangan mata, meski prosedur bedah sangat modern. Tapi komplikasi ini jarang terjadi.



