Cinta Sesama: Cerminan Kekuatan Jiwa yang Sejati
Muqoddimah
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْمَحَبَّةِ وَالْوِئَامِ، وَجَعَلَ الصِّيَامَ مَدْرَسَةً لِتَزْكِيَةِ النُّفُوْسِ وَالْإِحْسَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه،ُ جَعَلَ الْمُؤْمِنِيْنَ إِخْوَةً مُتَحَابِّيْن،َ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، خَيْرُ مَنْ أَوْصَى بِحَقِّ الْجِيْرَانِ وَالْمَسَاكِيْنِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
Isi Pidato
Hadirin jamaah shalat tarawih yang dimuliakan Allah,
Kita telah memasuki malam kedua Ramadan. Jika semalam kita berbicara tentang menata niat sebagai pondasi cinta kepada Allah, maka di malam kedua ini, mari kita meluaskan cakrawala cinta tersebut. Sebab, keislaman seseorang tidak akan pernah mencapai puncaknya jika cintanya hanya berhenti pada dirinya sendiri dan Tuhannya, sementara ia menutup mata terhadap sesamanya.
Ramadan adalah bulan di mana ego kita dihancurkan. Saat kita lapar, kita dipaksa untuk merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang kekurangan setiap harinya. Di sinilah kekuatan jiwa diuji. Jiwa yang kuat bukanlah jiwa yang mampu makan paling banyak saat berbuka, melainkan jiwa yang mampu menekan nafsu pribadinya demi menolong orang lain.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Dahsyatnya cinta kepada sesama dalam Islam bukanlah sekadar anjuran sosial, melainkan standar kesempurnaan iman. Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat tegas dalam sebuah hadis:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
(Lā yu’minu aḥadukum ḥattā yuḥibba li’akhīhi mā yuḥibbu linafsih)
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari & Muslim)
Mari kita renungkan hadis ini. Rasulullah tidak mengatakan “tidak sah islamnya”, tapi “tidak sempurna imannya”. Artinya, jika kita masih merasa dengki, masih enggan berbagi, atau masih senang melihat orang lain kesulitan, maka ada yang salah dengan pondasi cinta di hati kita. Kekuatan jiwa kita sedang melemah.
Ramadan: Madrasah Kepedulian
Mengapa Ramadan disebut bulan berdampak? Karena di bulan ini, Allah melipatgandakan pahala dari setiap jengkal cinta yang kita berikan kepada sesama. Salah satu pintu paling dahsyat untuk meraih cinta Allah adalah dengan memberi makan orang yang berpuasa. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
(Man faṭṭara ṣā’iman kāna lahū miṡlu ajrihī ghaira annahū lā yanquṣu min ajriṣ-ṣā’imi syai’ā)
“Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Inilah keajaiban cinta. Cinta tidak akan berkurang saat dibagi; justru ia berlipat ganda. Orang yang memiliki kekuatan jiwa akan memahami bahwa berbagi harta tidak akan membuatnya miskin, justru berbagi adalah cara ia menginvestasikan cintanya untuk hari akhirat.
Hadirin sekalian,
Cinta kepada sesama juga merupakan obat bagi jiwa yang gersang. Seringkali kita merasa stres, cemas, dan tidak tenang. Bisa jadi itu karena kita terlalu fokus pada masalah kita sendiri. Cobalah untuk mencintai sesama: beri senyuman pada tetangga, berikan sedekah sembunyi-sembunyi, atau sekadar membantu orang lain yang sedang kesusahan.
Allah SWT berfirman mengenai karakter orang-orang yang jiwanya tenang dan dicintai-Nya:
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
(Allažīna yunfiqūna fis-sarrā’i waḍ-ḍarrā’i wal-kāẓimīnal-ghaiẓa wal-‘āfīna ‘anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn)
“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)
Perhatikan kalimat “menahan amarahnya”. Ini adalah bentuk kekuatan jiwa yang paling nyata. Saat lapar dan dahaga di siang hari nanti mungkin membuat emosi kita naik, ingatlah bahwa kekuatan sejati adalah dengan memberikan cinta berupa kesabaran dan maaf kepada orang lain.
Penutup
Di malam kedua ini, mari kita bertekad: “Ya Allah, jadikanlah puasaku esok hari bukan hanya untuk menahan lapar, tapi sebagai jalan untuk mempertebal cintaku kepada saudara-saudaraku.”
Jadilah pribadi yang ringan tangan, pribadi yang lisannya menyejukkan, dan pribadi yang keberadaannya dirindukan karena pancaran cinta di dalam jiwanya. Semoga dengan mencintai hamba-hamba Allah di bumi, kita mendapatkan cinta dari Sang Pencipta yang ada di langit.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.



