Jakarta, 26 September 2026 — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di MT Al Abror Nahdlatul Wathan Jakarta berlangsung dengan khidmat. Dalam kesempatan tersebut, Ust. Sugi menyampaikan tausiyah yang mengajak jamaah untuk menjadikan Maulid Nabi sebagai momentum memperkuat rasa syukur, kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta meningkatkan keistiqamahan dalam menjalankan ajaran Islam.
Dalam ceramahnya, Ust. Sugi mengangkat tradisi masyarakat Lombok yang menyebut Maulid dengan istilah “mulud” atau “mulut”. Menurutnya, istilah tersebut menjadi bagian dari tradisi masyarakat yang identik dengan kegiatan berbagi makanan dan bersedekah pada momentum Maulid.
“Bukan makannya, tetapi sedekahnya.” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa tradisi membawa makanan ke masjid, kemudian menyantapnya bersama dan membawa pulang berkat, merupakan salah satu bentuk kegembiraan sekaligus sarana berbagi kepada sesama. Menurutnya, nilai utama dari tradisi tersebut bukan semata-mata pada makanan, melainkan semangat sedekah dan syukur atas nikmat Allah SWT berupa diutusnya Rasulullah Muhammad SAW.
Ust. Sugi kemudian mengaitkan hal tersebut dengan firman Allah SWT dalam QS. Yunus ayat 58:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
Menurutnya, salah satu nikmat dan rahmat terbesar bagi umat manusia adalah diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah dan rahmat bagi seluruh alam.
Ia juga mengingatkan bahwa menjadi umat Rasulullah SAW merupakan sebuah keistimewaan yang harus disyukuri. Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, seorang Muslim memiliki kewajiban untuk membuktikan kecintaannya kepada Rasulullah SAW melalui ketaatan dan keteladanan.
“Kalau kita cinta kepada Allah, maka ikuti saya, niscaya Allah akan mencintai kalian,” ujarnya seraya mengingatkan pesan QS. Ali Imran ayat 31: فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ.
Ust. Sugi juga menegaskan bahwa Rasulullah SAW merupakan uswatun hasanah, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”
Ia mengajak jamaah untuk tidak hanya mengaku sebagai umat Nabi Muhammad SAW, tetapi juga berusaha mengikuti sunnah dan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam tausiyahnya, Ust. Sugi turut menjelaskan keistimewaan orang beriman sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW tentang keadaan seorang mukmin. Ketika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur sehingga menjadi kebaikan baginya. Ketika mendapatkan kesusahan, ia bersabar sehingga menjadi kebaikan pula baginya.
Karena itu, menurutnya, setiap keadaan seorang mukmin dapat menjadi jalan mendapatkan pahala apabila dihadapi dengan sikap yang benar kepada Allah SWT.
Ia juga menekankan pentingnya istiqamah dalam beramal. Tidak harus menjadi orang yang paling berilmu untuk mendapatkan kebaikan dari Allah SWT. Amal yang sederhana tetapi dilakukan secara konsisten dapat menjadi jalan mendapatkan buah dari amal yang dilakukan.
“Yang penting istiqamah. Mulailah shalawat, rajin istighfar. Insya Allah besok ada hasilnya,” pesannya.
Ust. Sugi kemudian menjelaskan tingkatan keyakinan dalam iman, mulai dari taqlid, ilmul yaqin, ainul yaqin, hingga haqqul yaqin. Ia menggambarkan perbedaan tingkatan tersebut dengan perumpamaan kopi. Mengetahui rasa kopi dari penjelasan orang lain merupakan gambaran ilmul yaqin, melihat kopi secara langsung merupakan ainul yaqin, sedangkan setelah meminumnya dan merasakan sendiri merupakan gambaran haqqul yaqin.
Menurutnya, kenikmatan dalam beribadah juga demikian. Ada pengalaman spiritual yang tidak cukup hanya dijelaskan dengan kata-kata, tetapi harus dirasakan melalui keistiqamahan dalam ibadah, zikir, shalawat, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Halawatul iman itu tidak bisa diceritakan, tetapi bisa dirasakan,” tuturnya.
Di bagian akhir tausiyah, Ust. Sugi mengingatkan jamaah agar mengambil setiap nasihat yang bermanfaat, meskipun hanya satu kalimat. Ia mengajak seluruh jamaah untuk terus memperbaiki diri, memperbanyak shalawat, zikir dan amal saleh sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di MT Al Abror Nahdlatul Wathan Jakarta tersebut menjadi momentum untuk kembali menguatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT, serta menjadikan akhlak dan sunnah Nabi sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.





