Selamat Jalan Guruh, Sang Anak Pertiwi

Selamat Jalan Guruh, Sang Anak Pertiwi

Oleh: Lalu Tjuck Sudarmadi

Mengenang Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra, 26 September 2026

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Hari ini, 26 September 2026, Indonesia kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra telah berpulang. Seorang tokoh budaya, seniman, koreografer, musisi, dan penggerak kebudayaan yang sepanjang hidupnya memberikan warna tersendiri bagi perjalanan seni Indonesia.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, nama Guruh mungkin dikenang melalui karya-karya besarnya, panggung pertunjukan, musik, tari, dan Swara Mahardika yang pernah menjadi fenomena kebudayaan pada masanya.

Tetapi bagi saya.pribadi, Mas Guruh bukan sekadar nama besar yang saya kenal dari panggung dan berita.
Saya mempunyai kenangan pribadi dengannya.
Kenangan itu justru terjadi di Lombok, dalam suasana yang jauh dari gemerlap panggung Jakarta.

Guruh dan malam panjang di Sayang-Sayang.
Beberapa waktu lalu, sudah cukup lama, saya berkesempatan menemani beliau datang ke Lombok. Ketika itu Mas Guruh menghadiri perkawinan putra salah seorang sahabat beliau Miq Slamet Sahak di desa Ijo Balit, Lombok Timur.

Dalam kesempatan tersebut, saya mengundang beliau untuk datang ke rumah saya waktu itu di Sayang-Sayang, Mataram.
Rumah itu cukup luas dan memiliki tempat yang memang dapat digunakan untuk menggelar pertunjukan kesenian atau memainkan gamelan. Setelah makan bersama, saya berpikir bahwa tidak lengkap rasanya membawa seorang tokoh budaya ke Lombok tanpa memperkenalkan kepadanya salah satu kekayaan seni masyarakat Sasak.
Maka saya suguhkan gamelan Sasak.
Awalnya saya membayangkan Mas Guruh akan duduk menikmati pertunjukan seperti seorang tamu.Ternyata tidak.

Begitu melihat permainan gamelan tersebut, ketertarikannya segera terlihat. Ia tidak hanya menikmati dari tempat duduknya. Mas Guruh kemudian ikut mengambil alat musik dan menabuh gendang.
Suasana pun berubah.
Adik-adik penabuh gamelan yang semula mungkin merasa sedang mempertunjukkan kesenian mereka kepada seorang tokoh nasional, tiba-tiba mendapatkan pengalaman yang jauh lebih istimewa: mereka bermain bersama menabuh gamelan bersama seorang maestro, Mas Guruh. Dan
yang menarik, Guruh tidak sekadar ikut menabuh. Ia berdialog dengan mereka. Ia memberikan arahan. Ia memperhatikan permainan mereka. Ia masuk ke dalam suasana kesenian itu dengan begitu natural.
Malam semakin larut.

Tetapi tidak terasa.
Anak-anak muda itu justru semakin bersemangat. Mereka mendapatkan kesempatan langka untuk belajar langsung dari seorang seniman yang perjalanan hidupnya telah begitu panjang dalam dunia kebudayaan Indonesia.
Bagi saya, malam itu memperlihatkan sisi Guruh yang mungkin tidak selalu terlihat dari panggung besar.

Ia mencintai seni bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai kehidupan.
Ia tidak menjaga jarak dengan kesenian rakyat. Ia tidak melihat budaya daerah hanya sebagai objek yang dipertunjukkan. Ia mau masuk, merasakan, memainkan, berdialog, dan berbagi.
Dan mungkin justru itulah salah satu kualitas seorang seniman sejati.

Swara Mahardika dan generasi muda.
Kenangan saya terhadap Mas Guruh sebenarnya jauh lebih lama.
Pada dekade 1980-an, nama Swara Mahardika sangat populer. Kelompok yang digagas Guruh tersebut memberikan warna baru dalam dunia seni pertunjukan Indonesia.

Guruh menunjukkan bahwa kesenian tradisional dan budaya Nusantara tidak harus dipertentangkan dengan modernitas.
Tradisi dapat dikemas secara modern.
Tari daerah dapat tampil dengan tata panggung yang menarik.
Musik tradisional dapat menemukan bentuk baru.

Dan anak-anak muda dapat mencintai kebudayaan Indonesia tanpa merasa bahwa budaya itu adalah sesuatu yang kuno.
Semangat seperti itulah yang pada masa itu juga ikut menginspirasi banyak anak muda di berbagai daerah, termasuk di Lombok.
Saya sendiri pada dekade 1980-an pernah ikut membina kelompok seni anak muda di Mataram. Hanya sebagai pembina karena saya tidak berbakat didunia itu kecusli sebagai penikmat seni. Kalau ingatan saya tidak keliru, namanya “Geger Gangsa”.

Saya tidak ingin membandingkan kelompok kecil yang kami bina dengan Swara Mahardika.
Tetapi semangatnya sama: bagaimana membuat generasi muda mencintai tari, musik dan kebudayaan daerahnya sendiri.
Karena itu, ketika mengenang Guruh hari ini, saya merasa bahwa warisan terbesarnya bukan hanya karya yang ia ciptakan.
Warisan terbesarnya adalah inspirasi.
Ia membuat banyak orang percaya bahwa kebudayaan Indonesia memiliki kekuatan untuk tampil modern tanpa kehilangan jati dirinya.

Bertemu kembali di Jalan Sriwijaya Raya
Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 2019, saya kembali bertemu dengan Guruh di kediamannya di Jalan Sriwijaya Raya 26, Jakarta.
Saat itu dalam rangka peringatan ulang tahun beliau.

Pertemuan tersebut kembali mengingatkan saya pada perjalanan panjang seorang tokoh yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya kepada dunia seni dan kebudayaan.
Ada rasa haru setiap kali bertemu kembali dengan seseorang yang kita kenal sejak lama, terlebih ketika kita menyaksikan perjalanan hidupnya dari dekat.
Kini, tanpa terasa, pertemuan itu menjadi bagian dari kenangan.
Hari ini Guruh telah pergi.
Tetapi karya dan jejaknya masih tinggal, hidup.

Kebudayaan adalah jati diri bangsa
Kepergian Guruh juga mengingatkan kita pada sesuatu yang lebih besar: kebudayaan tidak boleh menjadi anak tiri pembangunan. Kita bersyukur Presiden Prabowo memandang hal itu strategik sehingga beliau memerlukan Kementerian Kebudayaan untuk memelihara dan mengembangkan kekayaan budaya negeri ini.

Sebuah bangsa memang membutuhkan ekonomi yang kuat, teknologi yang maju, infrastruktur yang baik dan sumber daya manusia yang unggul.
Tetapi semua itu membutuhkan identitas.
Dan identitas bangsa antara lain hidup melalui kebudayaan.
Tari, musik, bahasa, adat, arsitektur, pakaian, tradisi, cerita rakyat, bahkan cara masyarakat berkumpul dan bergotong royong—semuanya adalah bagian dari wajah Indonesia.

Guruh adalah salah seorang yang sepanjang hidupnya berusaha menjaga wajah itu tetap terlihat.
Ia mengambil kekayaan budaya Nusantara, lalu membawanya ke panggung yang lebih luas.

Ia memperlihatkan kepada generasi muda bahwa menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan akar.
Justru bangsa yang percaya diri adalah bangsa yang mampu berdiri di tengah dunia dengan membawa identitasnya sendiri.
Dan pesan itulah yang menurut saya sangat relevan untuk generasi sekarang.
Selamat jalan, Mas Guruh
Hari ini, ketika mendengar kabar kepergiannya, ingatan saya kembali kepada malam di Sayang-Sayang.
Saya kembali membayangkan gamelan Sasak yang berbunyi.

Saya melihat anak-anak muda yang begitu bersemangat.
Dan saya membayangkan Guruh yang duduk bersama mereka, mengambil gendang, menabuh bersama, memberikan arahan, dan menikmati malam tanpa terasa sampai larut.
Itulah Guruh yang saya kenang.
Bukan hanya Guruh di atas panggung.
Bukan hanya Guruh sebagai putra Bung Karno.
Bukan hanya Guruh sebagai tokoh nasional.
Tetapi Guruh sebagai seorang seniman yang mau duduk bersama anak-anak muda di sebuah rumah di Sayang-Sayang, Mataram, dan merasakan denyut kebudayaan Sasak dari dekat.

Kenangan sederhana itu justru terasa begitu berharga hari ini.
Karena pada akhirnya, yang paling lama tinggal dalam ingatan kita sering kali bukan kemegahan sebuah panggung, melainkan sebuah pertemuan manusia dengan manusia.
Selamat jalan, Mas Guruh.
Selamat jalan, seniman besar Indonesia.
Selamat jalan, tokoh budaya nasional.
Selamat jalan, putra Bung Karno.
Selamat jalan, anak pertiwi.

Terima kasih atas karya, inspirasi, dan kecintaanmu kepada kebudayaan Indonesia.
Semoga Allah SWT mengampuni segala kekhilafan, menerima amal dan pengabdianmu, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga apa yang telah engkau tanam melalui seni dan kebudayaan terus tumbuh di tangan generasi penerus bangsa.

Dan bagi saya pribadi, akan selalu ada satu kenangan yang tidak akan hilang:
Guruh menabuh gendang Sasak di Sayang-Sayang, Mataram, bersama anak-anak muda, hingga malam larut.

Al-Fatihah.
26 September 2026

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA