Hadir di STIT Darul Ulum Kotabaru, TGB M. Zainul Majdi Kupas Tiga Pilar Utama Pembangun Peradaban dan Strategi Menghadapi Era AI

Hadir di STIT Darul Ulum Kotabaru, TGB M. Zainul Majdi Kupas Tiga Pilar Utama Pembangun Peradaban dan Strategi Menghadapi Era AI

Hadir di STIT Darul Ulum Kotabaru, TGB M. Zainul Majdi Kupas Tiga Pilar Utama Pembangun Peradaban dan Strategi Menghadapi Era AI

Sinar5News.com — KOTABARU. Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Darul Ulum Kotabaru sukses menggelar Seminar Nasional berskala besar pada Sabtu, 19 September 2026. Acara yang berlangsung di kompleks kampus STIT Darul Ulum ini mengusung tema besar “Ilmu Kehidupan dan Amanah Tanggung Jawab Seorang Muslim dalam Membangun Peradaban Dunia yang Lebih Baik”.

Seminar nasional tersebut menghadirkan Ulama Kondang sekaligus Tokoh Nasional, Dr. H. Muhammad Zainul Majdi, Lc., M.A. (Tuan Guru Bajang / TGB), sebagai narasumber utama. Kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan Yayasan Al-Mu’awanah, civitas akademika dan pimpinan perguruan tinggi, pejabat Pemerintah Kabupaten Kotabaru, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh lintas agama, para dosen, serta ratusan mahasiswa dan mahasiswi yang memadati lokasi acara.

Tiga Pilar Pembangun Peradaban: Ilmu, Amal, dan Amanah

Dalam orasi ilmiahnya, TGB menegaskan bahwa peradaban yang kokoh, berdaya tahan, serta mampu memberikan kemanfaatan jangka panjang (sustainable) tidak akan pernah berdiri tanpa landasan ilmu pengetahuan (al-ilmu asasul hadarah).

Mengutip pemikiran ulama tafsir sahabat Nabi, Ibnu Abbas, TGB menjelaskan tafsir Surat Al-Mujadilah ayat 11 mengenai tingkatan (darajat) orang-orang berilmu. Derajat yang diberikan Allah SWT kepada ahli ilmu bukan sekadar penghormatan biasa, melainkan kemuliaan berlipat ganda yang jarak antar-derajatnya digambarkan seluas antara langit dan bumi. TGB menekankan tiga pilar mendasar yang wajib dimiliki oleh setiap muslim, khususnya para mahasiswa sebagai calon pendidik dan pemimpin peradaban:

  1. Ilmu sebagai Kompensasi Kelemahan Manusia Manusia diciptakan dengan berbagai keterbatasan dan sifat keluh kesah. Namun, seluruh kekurangan fisik dan psikologis manusia itu tertutupi oleh satu potensi besar yang dianugerahkan Allah SWT, yaitu kemampuan untuk belajar, mencari ilmu, dan menguasai pengetahuan (qabiliyyatuhu lil ‘ilmi). Ilmu inilah yang menjadi fondasi utama penopang tugas manusia sebagai khalifah fil ard.

  2. Transformasi Ilmu Menjadi Amal Nyata TGB mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan bukanlah sebatas konsumsi akademis atau tumpukan memori di dalam otak. Ilmu harus diterjemahkan ke dalam amal nyata (al-ilmu lil ‘amal). Konsep kemanfaatan dalam Islam bersifat universal dan inklusif (rahmatan lil ‘alamin), merujuk pada hadis khairunnas anfauhum linnas—sebaik-baik manusia adalah yang paling membawa kemanfaatan bagi seluruh umat manusia tanpa memandang latar belakang.

  3. Amanah dan Kejujuran sebagai Mata Uang Global Mata uang berupa rupiah atau valuta asing dapat mengalami fluktuasi nilai dan batasan wilayah. Akan tetapi, sifat amanah, kejujuran, serta keandalan (integrity and reliability) adalah “mata uang global” yang berlaku sepanjang sejarah manusia. Orang yang memegang teguh amanah akan selalu memiliki tempat terhormat dalam tatanan masyarakat dan peradaban dunia.

Pendidikan Karakter dan Keunggulan Manusia di Era Artificial Intelligence (AI)

Di tengah pesatnya disrupsi teknologi dan integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI), TGB secara khusus memberikan arahan dan dorongan moral kepada para calon pendidik dan akademisi di STIT Darul Ulum Kotabaru.

Beliau menekankan agar para mahasiswa tidak perlu merasa khawatir atau terancam oleh keberadaan AI. Secara teknis, mesin memang dapat mengumpulkan dan mengolah data informasi dengan sangat cepat melampaui daya ingat otak manusia. Namun, AI tetap merupakan benda mati yang tidak memiliki dua aspek krusial kemanusiaan:

  • Sentuhan Spiritual (Spiritual Touch): Kemampuan untuk menghubungkan nilai-nilai keimanan, ketakwaan, serta hubungan batin dengan Sang Pencipta melalui ibadah, wirid, dan keteguhan iman.

  • Sentuhan Emosional dan Kemanusiaan (Emotional Touch & Humanity): Empati, kasih sayang, tatapan mata yang hangat, senyuman, serta keteladanan akhlak dalam proses mendidik dan membimbing murid.

Pendidikan Islam tidak sekadar mentransfer informasi, melainkan memelihara nilai-nilai spiritual dan membentuk karakter. Oleh sebab itu, penguatan spiritualitas dan penanaman akhlak mulia menjadi kunci utama agar peran manusia tetap relevan dan tak tergantikan di era digital.

Apresiasi untuk Kedisiplinan dan Harapan Bagi Kotabaru

Mengakhiri pemaparannya, TGB menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya terhadap kedisiplinan, kerapian, serta iklim akademis yang terjaga dengan sangat baik di STIT Darul Ulum Kotabaru. Menurut beliau, keteraturan dan kedisiplinan lembaga pendidikan di daerah merupakan modal sosial yang sangat berharga dalam melahirkan generasi penerus bangsa yang unggul.

TGB berharap STIT Darul Ulum Kotabaru terus konsisten menjadi benteng pendidikan Islam yang mampu mencetak lulusan berilmu tinggi, beramal saleh, serta berakhlak karimah demi kemajuan Kabupaten Kotabaru dan bangsa Indonesia secara luas. (Amr/Red)

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA