Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 14) Makna Karomah dan Perbedaannya Dengan Mukjizat, Ma’unah dan Irhas.

Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 14) Makna Karomah dan Perbedaannya Dengan Mukjizat, Ma’unah dan Irhas.

Karomah berasal dari bahasa Arab dengan asal kata”Karuma”dengan huruf ra yang berharakat dhammah. Untuk masdarnya adalah “Karaman” dengan fathatain (dua fathah). Kata “Karomah” bila diidentikkan dengan sesuatu yang berharga dan berwibawa, maka dikatakan sebagai sesuatu yang mulia. Oleh sebab itu, karomah secara bahasa berarti mulia.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengistilahkan karomah dengan keramat, diartikan suci dan dapat mengadakan sesuatu diluar kemampuan manusia biasa, karena ketaqwaanya kepada Tuhan.

Dalam konteks ini, al-Syaikh Thohir bin Sholeh Al-Jazairi mengartikan kata karomah adalah perkara luar biasa yang tampak pada seorang wali yang tidak disertai dengan pengakuan seorang Nabi. Dan menurut al-Syaikh Hakim At-Tirmidz, bahwa yang dimaksud karamah al-awliya’ tiada lain adalah kemuliaan, kehormatan (al-Ikram); penghargaan (al-Taqdir); dan persahabatan (al-Wala) yang dimiliki para wali Allah berkat penghargaan, kecintaan dan pertolongan Allah kepada mereka. Karamah al-Awliya itu, dalam pandangan Hakim at-Tirmidzi, merupakan salah satu ciri para wali secara lahiriah (Alaamat al-Awliya’ fi al-Zhahir) yang juga dinamakannya al-Ayat atau tanda-tanda.
Adapun “Karomah”, menurut para ulama Kalam (Teologi) adalah sesuatu yang luar biasa yang tidak diiringi oleh risalah kenabian, ia (karomah) juga bukan merupakan pengantar yang mengindikasikan kearah misi kenabian tersebut, dimana hal-hal luar biasa tersebut tampak pada seorang hamba yang jelas-jelas shalih dan patuh mengikuti syariat-syariat yang dibebankan kepadanya, yang diiringi dengan keyakinan yang dan amal shalih, baik hamba tersebut menyadari ataupun tidak menyadarinya.

Dan singkatnya dalam pandangan ulama Sufi, bahwa karomah adalah keadaan luar biasa yang diberikan Allah subhanahu wa ta`ala kepada para wali-Nya. Wali ialah orang yang beriman, bertakwa, dan beramal shaleh kepada Allah subhanahu wa ta`ala. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Yunus (10): 62-64;
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ . الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ. لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ .
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat….” (Q.S. Yunus (10): 62-64).

BACA JUGA  SUASANA YANG DIRINDUKAN OLEH SEMUA SISWA NAHDLATUL WATHAN JAKARTA

Karomah memiliki perbedaan dengan istilah Mukjizat, Ma’unah, dan Irhas. Untuk mukjizat, sebagaimana sering kita mendengarnya berasal dari bahasa Arab dan mengandung arti melemahkan, yaitu membuat sesuatu menjadi tidak mampu. Mukjizat merupakan sesuatu yang luar biasa sehingga manusia tidak mampu mendatangkan hal yang serupa. Dan menurut istilah, Mu’jizat berarti sesuatu yang luar biasa yang terjadi dalam diri nabi atau rasul Allah Subhanahu wa ta`ala.

Mukjizat bertujuan untuk membuktikan kenabian atau kerasulan seorang nabi atau rasul Allah Subhanahu wa ta`ala yang tidak dapat ditiru oleh siapapun dan untuk melemahkan segala macam usaha dan alasan orang kafir dan menentang islam, dan menyeru kepada umat agar percaya akan keesaan Allah Subhanahu wa ta`ala.

BACA JUGA  TGB: Saya Menghormati Habib Rizik Shihab. Tapi..

Adapun unsur yang harus ada dalam Mukjizat, antara lain adalah kejadian luar biasa, tampak pada diri seorang Nabi atau Rasul, ada tantangan dari kaum yang menyangsikan kedudukan seorang Nabi atau Rasul dan manusia tidak mampu menandingi hal yang luar biasa tersebut. Dan lazimnya, bagi para Nabi atau Rasul menampakkan mukjizatnya hanya pada saat-saat yang sangat dibutuhkan, misalnya untuk membela diri atau menjawab tantangan orang- orang kafir.

Setiap muslim wajib baginya untuk memercayai keberadaan Mukjizat yang dimiliki oleh para Nabi dan Rasul. Dan sebaliknya, mengingkari Mukjizat Nabi dan Rasul, maka berarti ia mengingkari ayat-ayat yang ada dalam al-Qur’an atau Hadits itu sendiri. Jadi, orang yang mengingkari Mukjizat Nabi dan Rasul termasuk orang kafir.
Untuk Ma’unah, secara bahasa, berarti pertolongan.

Adapun pengertian Ma’unah adalah pertolongan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta`ala kepada orang mukmin untuk mengatasi kesulitan yang menurut akal sehat melebihi kemampuannya. Ma’unah terjadi pada orang yang biasa, karena berkat pertolongan Allah. Misalnya, orang yang terjebak dalam kobaran api yang sangat hebat, namun berkat ma’unah atau pertolongan Allah Subhanahu wa ta`ala, maka ia pun selamat.

BACA JUGA  PENJELASAN KARAKTER NW SEJATI (17) SELALU BERDOA UNTUK NW

Sementara karomah berbeda lagi dengan Irhash. Dimana Irhash merupakan kejadian luar biasa atau hal-hal yang istimewa pada diri calon Nabi atau Rasul ketika masih kecil. Sebagai contohnya, untuk Nabi Muhammad Shalallaahu `alahi wa sallam, selalu dinaungi oleh awan, ketika kepanasan saat melakukan perjalanan dagang ke negeri Syam. Peristiwa yang terjadi pada diri Nabi Isa `alaihissalam, ketika beliau masih bayi dalam buaian ibunya, Maryam. Pada saat masih bayi itu, Nabi Isa dapat berbicara kepada orang-orang yang melecehkan ibunya.

Pada dasarnya Mukjizat, Karomah, Ma’unah, dan Irhas adalah sama, yaitu anugerah Allah Subhanahu wa ta`ala yang luar biasa diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya yang bertakwa dan beramal shaleh. Dan orang yang diberikan Mukjizat, Karomah, Ma’unah, dan Irhas tersebut, maka pantas diteladani hidupnya, karena kesemuanya itu merupakan pemberian atau anugrah Allah Subhanahu wa ta`ala kepada hamba-hamba-Nya.

Sebagai perbedaan pada istilah Mukjizat, Karomah, Ma’unah, dan Irhas tersebut adalah terletak pada siapa yang menerimanya. Dimana untuk Mukjizat diberikan kepada para Nabi dan Rasul, untuk Karomah dianugerahkan kepada Wali, untuk Ma’unah diberikan kepada orang mukmin dan Irhas dianugerahkan kepada calon Nabi atau Rasul Allah Subhanahu wa ta`ala, sebelum mereka diangkat menjadi Nabi dan Rasul.

Allah Subhanahu wa ta`ala menurunkan atau menganugrahkan adanya Mukjizat, Karomah, Ma’unah, dan Irhas tersebut, maka pasti memiliki hikmah-hikmah tersendiri. Untuk hikmah adanya Mukjizat adalah untuk melemahkan dan mengalahkan alasan, usaha dan tipu daya orang-orang yang menentang dakwah Rasul Allah. Dan bagi yang telah percaya kepada kenabian, maka mukjizat akan berfungsi untuk memperkuat iman serta menambah keyakinan akan kekuasaan Allah Subhanahu wa ta`ala. Selain itu juga, Mukjizat untuk membuktikan kebenaran rasul yang diutus Allah dan ajaran-ajarannya.

BACA JUGA  Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 21) Beberapa Indikator Kewalian Maulana Syaikh Bagian 1

Dan diantara hikmah adanya Karomah, Ma’unah, dan Irhas adalah untuk mempertebal iman kepada Allah Subhanahu wa ta`ala dan mendekatkan diri kepada-Nya serta untuk menghilangkan rasa takut akan kesulitan, karena yakin Allah selalu memberikan pertolongan kepada hambanya yang beriman dan bertakwa.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA