Percakapan Antara Sang Guru (Maulana Syaikh) Dengan Muridnya (Ayahanda Muhammad Suhaidi)

Percakapan Antara Sang Guru (Maulana Syaikh) Dengan Muridnya (Ayahanda Muhammad Suhaidi)

Cerita menarik  yang disaksikan langsung juga oleh
Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi, yaitu uang koin (mata uang logam) sebagai karomah untuk
kepentingan Pondok Pesantren NW Jakarta. Dan hal inipun, merupakan salah satu bagian dari
karomah yang dinampakkan oleh Guru Besar kita Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-
`Aarifu Billaah,Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid,
yang berhubungan dengan kemampuannya mendatangkan benda dalam bentuk uang ini.
Dalam sebuah wawancara khusus penulis dengan pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul
Wathan Jakarta, yaitu Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi, beliau menceritakan tentang hal itu
kepada penulis, seperti berikut ini.
“Pada suatu saat, seorang murid dekat beliau, yaitu Al-Ustadz Haji Muhammad
Suhaidi kembali menghadap Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad
Zainuddin Abdul Madjid untuk keperluan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan
Jakarta yang dipimpinnya. Dan dalam hal ini, ia masih meminta bantuan dalam
bentuk uang untuk membayar tanah sebagai perluasan pesantren.
Ketika menghadap kali ini, setelah Maulana Syaikh basa basi bertanya, kapan
sampai dan lainnya, sampailah pertanyaan yang menanyakan, bagaimana
perkembangan madrasah NW yang di Jakarta?. Sang murid menjawab;
“ Alhamdulillah, perkembangan madrasah kita di Jakarta semakin maju Datuk.
Tapi, tetap saja kita masih butuh uang atau dana lagi untuk menyelesaikan
perluasan tanah madrasah.”
Mendengar keluhan dan kebutuhan sang murid untuk kebutuhan Pondok Pesantren
Nahdlatul Wathan Jakarta yang dicintainya ini, maka Maulana Syaikh Tuan Guru
Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid memberikan plastik warna hitam
yang di dalamnya berisikan uang koin (mata uang logam) dan berkata;

“Baik Suhaidi…Ini ada uang amal dari jama`ah. Dan silahkan bawa ke Jakarta
untuk menyelesaikan tanah madrasah.”
Demikian pesan beliau, sambil menyerahkan uang koin yang ada di plastic hitam
tersebut.
Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi bertanya;
“Berapa jumlah uang koin ini Datuk?. “
“ Jumlahnya, Rp. 30.000.000,- (Tiga Puluh Juta Rupiah) Suhaidi.”, kata Maulana
Syaikh menjawab pertanyaan sang murid.
Selanjutnya, dengan alasan keamanan, maka Al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi
berangkat dengan membawa sejumlah uang tersebut ke bank untuk di transfer
langsung.
Setelah sampai di bank dan transaksi dengan petugas bank, lalu petugas bertanya;
“Berapa jumlah uang yang akan ditransfer ini pak?. Tanya petugas Bank.
Jumlahnya ada Rp. 30.000.000,- (Tiga Puluh Juta Rupiah) pak”,
Kata Ustadz Haji Suhaidi, menjawab pertanyaan petugas dan sembari petugas bank,
mulai menghitung sejumlah uang koin (mata uang logam) tersebut.
Setelah selesai dihitung seluruh uang yang ada oleh pihak petugas bank, maka pada
saat inilah muncul sesuatu hal yang aneh. Dimana jumlah uang koin yang ada
dalam plastik hitam, bukanlah dalam jumlah Tiga Puluh Juta rupiah. Tapi,
bertambah dua kali lipat, yaitu; Rp. 60.000.000,- (Enam Puluh Juta Rupiah).
“Maaf bapak, jumlah uang bapak yang di plastik, bukan Rp. 30.000.000,-, tapi,
jumlahnya Rp. 60.000.000,- (Enam Puluh Juta Rupiah) pak”. Kata petugas Bank
tersebut menjelaskan.
“Tidak mungkin pak. Guru saya, Maulana Syaikh memberikan uang tersebut dan
mengatakan jumlahnya Rp. 30.000.000,-”. Kata, ustadz Haji Suhaidi kembali
mengelarifikasi petugas Bank tersebut.
Meski demikian, petugas bank kembali menegaskan dengan mengatakan;
“Tapi kenyataannya, jumlah yang ada; Rp. 60.000.000,- (Enam Puluh Juta Rupiah)
pak”. Pungkas petugas Banknya.
Melihat kenyataan tersebut, al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi tidak bisa juga
menapikan kenyataan itu. Lalu, meminta petugas bank untuk tetap mentransfer
uang sejumlah, Rp. 30.000.000,- (Tiga Puluh Juta Rupiah) saja, sesuai dengan isian di belankonya. Sementara separuh uang tersebut yang jumlah Tiga Puluh Juta
Rupiah itu di ambil dan dimasukkan ke dalam tas, alias dibawa kembali pulang.
“Saya kirim, Rp. 30.000.000,- (Tiga Puluh Juta Rupiah) saja pak”. Uangkapnya ke
petugas Bank.
Setelah kembali dari bank tersebut, al-Ustadz Haji Muhammad Suhaidi bercerita
kejadian aneh tersebut kepada bapak Drs. H. M.Syubli (alm). Mendengar cerita
aneh tersebut, beliau kaget juga. Dan selanjutnya, mengatakan;
“Kalau begitu, sisa uang tersebut yang tiga puluh juta rupiah, bawa saja ke Jakarta
untuk mengurus kebutuhan-kebutuhan perjuangan lainnya. Dan tidak usah lapor ke
Maulana Syaikh” menceritakan Sarannya Bapak Drs. H. M.Syubli dengan mantap
dan tidak ragu.
“Ya Bapak, terima kasih sarannya”.
Ucap Kyai Haji Muhammad Suhaidi yang merasa senang sekali dengan adanya
uang tersebut. Disamping, memang sangat butuh dengan adanya berbagai urusan
pesantren yang dipimpinnya.
Selanjutnya, saat itu Al-Uatadz Haji Muhammad Suhaidi sudah bergegas akan
berangkat kembali ke Jakarta. Namun, sebelum berangkat, tentunya ia tidak pernah
lupa pamitan dan sekaligus minta do`a restu kepada Maulana Syaikh.
Dan setelah masuk ke ruang Beliau, dan bicara minta pamit.
“ Datuk, saya pamit untuk berangkat ke Jakarta, mohon do`anya.”
“O ya, Suhaidi mau berangkat ke Jakarta?. Kapan berangkatnya?”. Kata Maulana
Syaikh menanyakan keberangkatan muridnya yang akan kembali ke Jakarta. “Inggih (Ya), Siang hari ini Datuk”. Jawab sang murid.
Selanjutnya, dengan tiba-tiba Maulana Syaikh bertanya soal uang koin yang lebih
di bank itu.
“ Suhaidi, mana uang lebih dari bank itu?, Paparnya.
“ O ya, ini ada di tas Datuk”.
Jawab sang murid yang merasa kaget lagi dan merasa tidak enak serta mengira
bahwa Maulana Syaikh tidak mengetahui hal itu. Sambil membuka tasnya dan
mengambil uang tersebut, Ustadz Haji Suhaidi bertanya pada dirinya;
“Kok, Maulana Syaikh tahu uang lebih itu ya…?.” Dan memang tidak ada teman
yang mendampinginya, kerena Bapak Haji Muhammad Syubli tidak ikut juga.

BACA JUGA  Kompak Dengan Warga, Satgas Yonif 642 Laksanakan Karya Bakti Perehaban Surau
BACA JUGA  Ketua Persit KCK Cabang Lotim,Aprsiasi Persit KCK Ranting 5 Keruak Berbagi Takjil Di Tengah Pandemi Covid-19

“Ya, ambilin saya Rp. 600.000,- (Enam Ratus Ribu Rupiah) saja. “Inggih (Ya) Datuk.” Ucap sang murid yang merasa tidak enak, tapi senang.
“Jangan semua bawa ke Jakarta. Itu uang dari para wali” Ujar Maulana Syaikh
sambil senyum kepada sang muridnya. “Inggih (Ya) Datuk.”
Ucapan akhir Ustdaz Haji Muhammad Suhaidi yang sangat senang dengan bantuan
dana tersebut dan senang dengan bijaknya sang guru. Dan selanjutnya, sisa dari Rp.
600.000,- (Enam Ratus Ribu Rupiah) tersebut, semua di bawa ke NW Jakarta”. 114 Memerhatikan alur cerita menarik diatas, maka dalam hal ini, bukanlah penggadaan uang
seperti yang dilakukan oleh seorang bernama Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang sempat ramai
dibicarakan masyarakat pada tahun 2016 yang lebih merupakan penipuan. Dan terhadap hal yang
kita ceritakan dalam buku ini, benar-benar merupakan salah satu karomah yang dinampakkan
oleh Guru Besar kita Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana
Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, karena terdesak dan
kecintaannya terhadap perjuangan NW di Jakarta. Wallaahu `alam.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA