Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 26) Menelusuri Jejak Karomah TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

banner post atas

Bagi kalangan murid dan pencintanya, Guru Besar kita Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, di sebut sebagai seorang wali Allah (min awliyaillah ta`ala), yakni orang suci yang telah diberkati oleh Allah dan diangkat menjadi “sahabat-Nya”.

Disamping itu, beliau adalah seorang yang telah mencapai penglihatan bathin (al-Mukasyafah) yang benar, sehingga terbukanya tabir (al-Hijab) pemisah antara hamba dan Tuhannya. Allah Subhanahu wa ta`ala membukakan tabir bagi beliau sebagai kekasih-Nya untuk bisa melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui hal-hal ghaib.

Di sisi lain, memang Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid telah diakui pula bahwa beliau ulama pewaris Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi wa sallam yang sejati. Beliau telah mengikuti jejak Nabi, bukan hanya dalam aspek kemanusiaan dan sosialnya, tetapi juga dalam kapasitas spiritual dan esensi ruhaniahnya (Al-Haqiqah Al-Muhammadiyyah).

Iklan

Dan menurut tradisi Tasawuf, maka beliau adalah seorang khalifah Allah Subhanahu wa ta`ala yang sesungguhnya di muka bumi. Beliau sebagai seorang wali yang sangat dekat dengan Allah, sehingga penglihatan (visinya) tidak berbeda dengan visi Allah—yandzuru bi nurillahi ta’ala, “melihat dengan cahaya Allah (Nurillaahi ta`ala).”

Setelah kita sepakat bahwa Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dikenal sebagai seorang Wali Allah, maka selanjutnya beliau pun telah mendapatkan banyak karomah dari Allah Subhaanahu wa ta`ala. Dan hal ini sudah menjadi rahasia umum dan diakui banyak orang, terutama dari kalangan murid-muridnya dan jama`ah Nahdlatul Wathan (NW). untuk karomah beliau ini, tentu sbagaimana umumnya sebagai suatu pemberian Allah Subhaanahu wa ta`ala yang sifatnya seakan-akan dengan mukjizat para nabi dan rasul, yaitu kebolehan melakukan hal-hal yang luar biasa yang diberikan kepada orangorang yang dikasihi-Nya yang dikenal sebagai wali Allah. Allah Subhanahu wa ta`ala mengaruniakan wali-wali-Nya berbagai kejadian luar biasa atau yang biasa disebut karomah.

BACA JUGA  Cinta Dalam Shalat

Hal itu diberikan kepada mereka sebagai rahmat dari Allah dan bukan kerana hak mereka. Karomah biasa disebut sebagai kejadian yang luar biasa yang diberikan Allah Subhanahu wa ta`ala kepada hamba-hamba-Nya yang selalu meningkatkan taraf ibadahnya dan ketaatannya.

Karomah itu diberikan sebagai suatu pembekalan ilmu atau sebagai ujian bagi seorang wali. Dan karomah boleh terjadi tanpa sebab dan tanpa adanya tentangan dari orang lain.

Sesungguhnya karomah, yang merupakan suatu peristiwa di luar kebiasaan (al-khariqah), yang ditampakkan oleh Allah Subahanahu wa Ta’ala kepada para wali-Nya, bukan merupakan syarat untuk menentukan bahwa seseorang dapat disebut sebagai seorang wali atau tidak. Ia juga tidak memengaruhi derajat seseorang yang telah Allah Subahanahu wa Ta’ala tampakkan kelebihan itu pada dirinya. Karena munculnya karomah itu hanya sekedar memercepat balasan di dunia atas keimanan dan ketakwaan seseorang.

Sebagian dari para wali bahkan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala dari fitnah yang timbul akibat karomah yang ada pada diri mereka tersebut. Dan keberadaan al-Kasyaf adalah merupakan fenomena terbukanya tabir (al-Hijb) yang menjadi pemisah antara hamba dan Tuhan. Allah Subhanahu wa ta`ala, sehingga ia dapat melihat, mendengar, merasakan, dan mengetahui hal-hal ghaib.