Kewalian Maulana Syeikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid (episode 1) Pendahuluan

0
95
banner post atas

Dalam hidup dan kehidupan manusia di muka bumi ini, senantiasa dalam perkembangannya mengarah pada kesempurnaan dan juga perubahan besar dalam segala dimensi kehidupan, sehingga sampai pula pada kehidupan modern saat ini. Dan dalam perubahan dan perkembangan dunia modern ini, maka terwujudlah berbagai macam adat-istiadat, pengetahuan, budaya, moral, kepercayaan, aturan kemasyarakatan, pendidikan, undang-undang dan pemerintahan.

 

Namun demikian, dalam konteks aturan moral kehidupan ini tetap saja mengalami pasang surutnya. Dan selanjutnya, ketika mengalami masa surut, maka saat itulah muncul insan-insan yang digelar wali-wali Allah Subhanahu wa ta`ala yang senantiasa berjuang untuk mengembalikan nilai moral ke tahap yang tertinggi, sehingga nilai-nilai luhur ini dapat diserap kembali ke dalam jiwa manusia.

Iklan

Dalam ajaran Sufi atau Tasawuf, eksistensi para Wali Allah Subhanahu wa ta`ala itu adalah sebagai pengemban fungsi kosmik (yang berhubungan dengan jagat raya) yang paling agung. Hal ini disebabkan karena merekalah yang benar-benar dianggap sebagai “ulama pewaris Nabi Muhammad Shallallaahu `alaihi wa sallam yang sejati.” Mereka mengikuti jejak Nabi, bukan hanya dalam aspek kemanusiaan dan sosialnya, tetapi juga dalam kapasitas spiritual dan esensi ruhaniah Nabi (al-Haqiqah al-Muhammadiyyah).

 

Pemahaman seperti ini, menurut tradisi Tasawuf, mereka adalah khalifah Allah yang sesungguhnya dan wakil Allah Subhanahu wa ta`ala di muka bumi. Para wali sangat dekat dengan Allah, sehingga penglihatan (visi) mereka tidak berbeda dengan visi Allah—yandzuru bi nurillahi ta’ala, “(mereka) melihat dengan nur Allah Subhanahu wa ta`ala.” Sesuai dengan fungsi kosmos ini, maka Wali-wali Allah tersebut memiliki nama atau gelar dan kedudukan tersendiri dengan tugas khusus sesuai dengan kedudukannya itu.
Selanjutnya, ketika judul buku sederhana yang ada dihadapan pembaca ini, diberikan judul ;”Menelusuri Jejak Kewalian dan Karomah Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid”, maka, nampaklah dari judul tersebut mengenai substansinya yang mengarah pada pengenalan yang lebih dekat terhadap sosok hamba pilihan Allah sebagai “Baqiyyatu al-Salafu al-Shalih (Ulama salaf yang saleh yang tersisakan)” dan sebagai seorang wali Allah yang telah banyak menampakkan kekaromahan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta`aala.

Kata “Menelusuri Jejak” dalam judul buku ini, tentu mengarahkan kita untuk mencari tahu sesuatu tersembunyi di dalamnya. Dan dalam konteks ini, ada dua hal penting yang melekat ada pada diri Guru Besar kita Sulthaanul Aulia Al-`Aalim Al-`Allamah Al-`Aarifu Billaah, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yang sangat penting untuk ditelusuri keberadaannya, yaitu; Kewalian dan Karomahnya.

Dalam menelusuri dua kata Kewalian dan Karomah Maulana Syaikh dalam tulisan ini, tentunya merupakan sebuah judul yang sangat berat bagi penulis, sehingga dalam menuangkannya selalu berusaha dengan penuh kehati-hatian. Disamping memang, penulis bukanlah dari “Dunianya atau bukan Ahlinya”. Meski demikian, agar kehebatan dan kelebihan dari guru besar kita Maulana Syaikh dapat terungkap ke permukaan, maka alasan inilah yang di kedepankan dalam penulisan buku ini. Dan tentu olahan buku ini, lebih berdasarkan hasil penelitian semata yang umumnya mengacu dan mengetengahkan data-data tertentu.