Tingginya Angka Perceraian di Masa Pandemi oleh : Dewi Sasmita

Tingginya Angka Perceraian di Masa Pandemi oleh : Dewi Sasmita

Perceraian adalah hal yang Lumrah terjadi dalam lingkungan sosial kita selama ini, meskipun dalam Agama Islam Bercerai di Perbolehkan namun merupakan suatu hal yang sangat dibenci oleh Allah SWT perceraian sendiri dapat berubah-ubah hukumnya sesuai dengan kondisi seseorang sama seperti Pernikahan juga demikian sewaktu-waktu dapat berubah Hukumnya bergantung pada kondisi masing-masing orang.

Perceraian sendiri dapat dipicu oleh berbagai macam faktor terutama Faktor Ekonomi adalah Pemicu paling utama terjadinya Perceraian. Dibandingkan Kekerasan dalam Rumah Tangga faktor Ekonomi tampaknya lebih banyak memicu terjadinya perceraian dalam Rumah Tangga, kebutuhan yang semakin Meningkat sementara Pemasukannya semakin sedikit menyebabkan banyaknya Istri menggugat Cerai suaminya karena tidak tahan hidup dalam Kesempitan Ekonomi.

Sejak beberapa Tahun belakangan ini Perceraian di Indonesia tidak pernah Landai alias selalu saja meningkat, semakin banyak Pernikahan yang terjadi semakin banyak pula Kasus Perceraian Baru yang terjadi. Di masa Pandemi ini angka Perceraian justru meningkat Drastis dibandingkan di luar masa Pandemi. Seperti yang terjadi di Pengadilan Agama Soreang Bandung yang sempat menjadi viral karena panjangnya antrean Ibu-ibu yang akan menggugat cerai suaminya di Pengadilan, yang menjadi penyebab tingginya perceraian ini adalah faktor Ekonomi, kekerasan dalam Rumah Tangga, terlalu sering Bertemu, dan Perselingkuhan. Kerap kali bertemu menyebabkan pasangan suami Istri bosan satu sama lain yang biasanya Bertemu setelah Pulang bekerja namun karena pandemi memaksa harus tidak bekerja dan diam diri di Rumah saja.

Banyaknya Perceraian karena Faktor ekonomi adalah Bukti bahwa banyaknya Perempuan yang tidak Realistis dalam Berpikir, semasa pacaran ia rela makan satu piring berdua yang penting bisa bersama, semasa Pacaran ia rela hidup sengsara asalkan bersama orang yang dicintainya daripada hidup bahagia dengan orang yang tidak ia Cintai, banyak sekali Perempuan yang hanya mengedepankan Perasaan tanpa mau Berpikir secara Realistis, sehingga ketika telah hidup dalam Biduk Rumah Tangga justru Perempuan lah yang menjadi penggugat paling banyak dalam kasus perceraian, ini disebabkan karena faktor ketidakseimbangan antara Emosi dengan Pikirannya, Perempuan lebih banyak mendahulukan Emosinya ketimbang Pikirannya.

Banyaknya Kasus Perceraian ini juga difaktorkan oleh Kurangnya Kesiapan Mental Suami dan Isteri, Kurangnya Kesiapan Finansial juga sangat mempengaruhi Keharmonisan rumah tangga, sehingga kalau Istri kurang sabar menghadapi kondisi yang demikian bisa menyebabkan si istri menggugat suaminya.

Bulan Mei lalu saya pernah menulis dan menyinggung perihal kekhawatiran saya terhadap banyaknya Pernikahan yang terjadi di Bulan Mei sampai Juni, tidak tanggung-tanggung undangan yang masuk ke saya kurang lebih 10 undangan, dan setiap hari media sosial dihiasi dengan Ucapan “SAMAWA” seolah Pernikahan itu adalah hal yang sangat Enteng sehingga dengan Mudahnya memilih untuk menikah. Kurangnya Bimbingan Perkawinan juga menjadi Faktor banyaknya pernikahan terutama Pernikahan anak di bawah Umur. Saya sempat khawatir dengan banyaknya Pernikahan yang terjadi di Bulan Mei & Juni akan melahirkan meningkatnya kasus Perceraian baru dan Membeludaknya kasus perceraian di akhir Tahun 2020 nanti. Dan benar saja pada 5 bulan terakhir tahun 2020 angka Perceraian membeludak.

Di Lombok Timur sendiri Pengadilan Agama Selong Kasus Perceraian sempat menurun karena Pembatasan sidang dan ditutupnya Pelayanan selama masa PSBB, 80% Perceraian menurun karena faktor tertundanya persidangan, namun setelah dibuka lagi pelayanan baik secara Online maupun Offline justru jumlah kasus perceraian meningkat Drastis kata teman saya yang berada di Pengadilan Agama.

Perceraian bukanlah suatu hal yang remeh, karena dampak Perceraian ada banyak anak yang akan terlantar dan akan berdampak buruk pada Psikologis sang anak yang ditinggal cerai oleh kedua orang tua nya. Dari Kemenag sendiri telah membuat Program Bimwin (Bimbingan Perkawinan) pada calon pengantin supaya bisa mendapatkan pendidikan tentang Perkawinan dalam segi Hukum, Agama, Psikologis dan lain sebagainya, Bimbingan ini akan diadakan selama Dua Hari lamanya namun yang menjadi permasalahannya adalah Bimwin ini belum bisa dilaksanakan untuk semua orang yang akan menikah hanya beberapa persen orang Indonesia yang akan mendapatkan Bimbingan Perkawinan ini, belum bisa diberlakukan secara Menyeluruh.

Perceraian di masa Pandemi meningkat sangat drastis, pada awal April dan Mei perceraian di bawah angka 20.000 namun pada bulan Juni dan Juli menjadi 57.000 kasus perceraian, angka yang sangat Fantastis. Bukan hanya terjadi di Indonesia namun di Negara lain pun terjadi hal yang demikian, dan menjadi PR Besar di beberapa Negara termasuk Indonesia.

2020 akan berakhir tiga bulan lagi, Kenaikan kasus perceraian masih bisa tekan dengan berbagai macam cara. Semoga dalam 3 bulan terakhir kasus perceraian tidak semakin Bertambah di Indonesia mengingat besarnya Risiko yang akan dialami dari sebuah perceraian tersebut, semoga Pemerintah terkait bisa menemukan jalan untuk menekan tingginya angka Perceraian.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA