Tabunya isu Kesehatan Mental di Indonesia.

banner post atas

Indonesia adalah negara yang dipenuhi oleh orang-orang yang terikat dengan nilai-nilai Spiritual, sehingga tak jarang mayoritas penduduk Indonesia menjadi Skeptis terhadap Gangguan Penyakit Mental. Banyak yang tidak mempercayai keberadaan penyakit mental sehingga ketika ingin membicarakan perihal penyakit mental kepada orang-orang Awam, atau sekelas Ustadz akan mengaitkannya dengan gangguan Makhluk Goib kemudian menawarkan solusi alternatif yaitu Ruqiyyah. Saya bukan tidak percaya dengan kekuatan Ruqiyyah karena saya adalah orang yang sangat sering melakukan Ruqiyyah ke berbagai macam Ustadz, namun solusi dari Penyakit Mental itu sama sekali bukanlah Ruqiyyah.

Seperti yang saya alami tahun 2015 lalu, saya menceritakan perihal Penyakit Mental yang saya alami kepada Teman Dekat saya, saya menceritakan padanya bahwa saya baru saja di Diagnosa Bipolar Disorder oleh Seorang Psikolog dengan lantangnya dia mengatakan “Saya nggak percaya, paling kamu kemasukan Jin” saya mendengar ucapan itu seolah mendengar Pecahan Gelas-gelas kepercayaan, saya sebagai penyintas Bipolar merasa haru melihat hal yang demikian, melihat banyak orang yang tidak percaya dengan adanya Penyakit Mental, dari sejak 2015 lalu saya tidak pernah menceritakan perihal ini kepada siapapun termasuk orangtua saya tidak pernah mengetahui hal ini, saya hanya bercerita pada orang-orang yang punya Bidang dalam Psikologi, dan sangat mudah apabila menceritakan hal seperti ini pada mereka yang mengerti.

Bipolar Disorder sendiri adalah kondisi seseorang yang mengalami perubahan suasana hati secara fluktuatif dan drastis, misalnya tiba-tiba menjadi sangat bahagia dari yang sebelumnya murung. Nama lain dari gangguan bipolar adalah manik depresif. kondisi ini disebabkan oleh ketidakseimbangan neurotransmitter atau zat pengontrol fungsi otak. Tidak hanya itu, ada juga yang berpendapat bahwa gangguan bipolar berkaitan dengan faktor keturunan.

Iklan

Sikap Skeptis masyarakat terhadap adanya Penyakit Mental menjadi beban berat bagi penyintasnya, karena Faktor pendukung kesembuhan yang utama bagi seorang penyintas Mental Illness adalah Lingkungan terdekatnya, kalau lingkungan Keluarga tidak bisa menjadi support untuk kesembuhannya, maka Resiko terberat akan dialami penyintas yaitu semakin Buruk Keadaan Mentalnya. Untuk itu sangat penting adanya Pemahaman-pemahaman dalam Masyarakat tentang Hal ini, ada banyak sekali macam Penyakit Mental, ada Skizofernia, ada Bipolar, ada Anxiety, ada Panic Attack, dan masih banyak lagi. Tentu penyakit-penyakit semacam itu tidak menutup kemungkinan dapat mengintai kita dan lingkungan sekitar kita.
Pemerintah sendiri terlihat abai dalam hal seperti ini terutama Dinas Kesehatan terlebih lagi dimasa pandemi ini, Dinkes terlalu sibuk mengurusi Kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan wabah ini sementara kesehatan mental masyarakat Indonesia diabaikan, padahal selama pandemi ada Ribuan orang-orang yang mengalami Setres berat karena dampak pandemi, terlebih lagi yang memang sudah memiliki penyakit mental semakin tersiksa dengan kondisi pandemi ini. Dinkes nyatanya abai dengan Resiko-resiko yang akan terjadi karena dampak pandemi ini, Resiko terberat akan dialami adalah Depresi masal, dimana Depresi adalah penyakit yang sangat menyiksa jiwa, yang bisa mengakibatkan pada Bunuh Diri.

BACA JUGA  TGB KULIAH DI AL-AZHAR (Impian Ummuna & Direstui Maulana)

Tidak banyak yang tau Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk Penyintas Penyakit Mental dalam sekali konsultasi ke psikiater saja bisa menghabiskan lebih daru 500 Ribu hanya untuk konsultasi saja belum harga Obat yang harganya sampai jutaan rupiah, tentu dengan biaya semahal itu mereka yang Ekonomi menengah kebawah akan kesulitan untuk mengobati diri karena terhalang oleh biaya, tak heran kenapa Orang-orang dengan Ekonomi menengah kebawah merasa bahwa Penyakit Mental ibarat sudah Jatuh Tertimpa Tangga lagi, sudah Miskin sakit lagi, begitupula hal yang saya rasakan. Sedikitnya jumlah Psikiater di Indonesia ini juga menjadi penyebab terbengakalai permasalahn Mental Illness, saat ini Indonesia hanya memiliki ±1000 Psikiater dibandingkan dengan jumlah warga Negara Indonesia itu sangatlah sedikit
Penyakit Mental dimata masyarakat dipandang sebagai sebuah aib, dan mentok-mentok orang yang memiliki penyakit Mental akan disebut sebagai Orang Gila, dan itu merupakan aib yang luar biasa bagi keluarga si penyintas. Dokter kesehatan Jiwa sendiri sudah sejak lama mengubah panggilan Orang Gila menjadi ODGJ (orang dengan Gangguan Jiwa) guna untuk mengurangi stigma-stigma yang menempel padanya, karena panggilan kepada seseorang akan berdampak pada Psikis seseorang, lebih parah lagi apalagi sampai ODGJ diperolok-olok, akan semakin menekan Jiwanya dan Berdampak pada Keluarganya. Yang kita anggap sebagi Orang Gila selama ini bukanlah Murni bernama “Gila” melainkan ini adalah Penyakit Mental yang bernama Skizofrenia Skizofrenia inipun memiliki beberapa tingkatan, sehingga yang sering kita temukan ODGJ disekitar kita banyak yang Kambuh-kambuhan, kalau sedang kambuh Ia kehilangan Kesadarannya kalau sedang tidak kambuh ia akan hidup normal seperti manusia biasa.

Skizofrenia adalah gangguan mental yang terjadi dalam jangka panjang. Gangguan ini menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku. Gejala tersebut merupakan gejala dari psikosis, yaitu kondisi di mana penderitanya kesulitan membedakan kenyataan dengan pikirannya sendiri. Hingga tak heran ODGJ selalu berprilaku Aneh, berbicara sendiri, tidak mendengarkan perkataan orang, dan bertingkah layaknya bukan orang Normal.

BACA JUGA  SERUAN UNTUK PENGURUS MASJID TERKAIT WABAH KORONA OLEH PENGURUS LPPD KHAIRU UMMAH

Pernah ketika Ramai di Media Sosial ada ODGJ shalat dan mendapatkan pujian dari netizen, pujiannya mengatakan “Dia Lupa siapa Dirinya, tapi Dia tidak lupa siapa Tuhannya” dalam hati saya ingin mengatakan “Iyakali ODGJ diterima shalatnya, sedangkan syarat sah melakukan shalat adalah harus Berakal, Dia shalat tanpa wudhu tanpa menghadap Kiblat pula” orang-orang sangat mudah menyimpulkan sesuatu yang ia lihat tanpa mau mengetahui bagaimana kebenarannya.

Dari hal semacam itu kita bisa menangkap bagaimana Cara Berpikir Orang Indonesia terhadap ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa) berbeda halnya dengan yang saya lihat di negara bagian Amerika, Pemerintah mengadakan Program Kesehatan Mental saat sejak kelas 12 Ia akan diberikan pembelajaran tentang Kesehatan mental khusunya mengenai identifikasi masalah kesehatan mental, hal demikian tentu berdampak Positif untuk mengurangi adanya Gangguan-gangguan mental karen pencegahan sejak dini, dan New York menjadi Negara bagian Pertama Amerika Serikat yang mewajibkan Pendidikan Kesehatan Mental. Untuk kelas yang lebih tinggi lagi akan diberikan materi-materi yang lebih dalam lagi tentang Kesehatan Mental, sehingga sangat mudah untuk seseorang bisa men-self diagnosa bahwa dirinya memiliki Gangguan Mental.

Hal-hal semacam ini juga sangat perlu ada Di Indonesia, Indonesia terlalu bungkam dengan Isu-isu kesehatan Mental, padahal ini bisa menjadi ancaman besar bagi Indonesia kedepannya. Perlu adanya Fasilitas-fasilitas untuk men-diagnosa Gangguan Mental sejak dini, dan masyarakat Indonesia harus Open-minded dengan hal semacam ini, bukan malah men-tabu-kan isu-isu Kesehatan Mental. Masyarakat harus diberikan pemahaman bahwa Gangguan Mental bukanlah sebuah Aib bagi diri sendiri dan Keluarga, Masyarakat indonesia harus menghapus stigma-stigma terhadapa ODGJ dan diberikan pemahaman-pemahaman yang Baik pula agar Masyarakat dapat memiliki Rasa Empati terhadap sesama manusia, baik dia adalah ODGJ ataupun Bukan.

Semoga kedepannya Indonesia lebih baik lagi, lebih memperhatikan lagi tentang Kesehatan Mental masyarakat Indonesia. Karena berbicara melalui tulisan saja tidak cukup, melainkan harus adanya Kesadaran dari Mentri Kesehatan Indonesia.