Semarak Halal Bihalal Himalo di Jakarta: Tradisi Peresean “Guncang” Ibu Kota, Bukti Kelestarian Budaya Sasak

Semarak Halal Bihalal Himalo di Jakarta: Tradisi Peresean “Guncang” Ibu Kota, Bukti Kelestarian Budaya Sasak

Semarak Halal Bihalal Himalo di Jakarta: Tradisi Peresean “Guncang” Ibu Kota, Bukti Kelestarian Budaya Sasak

JAKARTA, Sinar5News.com – Nuansa khidmat sekaligus penuh adrenalin mewarnai acara Halal Bihalal yang digelar oleh Himpunan Masyarakat Lombok (Himalo) bekerja sama dengan Garda Sasak Indonesia (GSI) dan Laskar Sasak Indonesia (LSI). Bertempat di lingkungan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta, pada Sabtu (25/4/2026), acara ini sukses menjadi ajang silaturahmi yang tak terlupakan bagi warga perantauan asal Bumi Gora.

Pihak penyelenggara menyulap area pesantren menjadi arena Peresean yang representatif, dirancang apik dan tertata layaknya ring pertandingan tinju amatir profesional. Hal ini memberikan suasana kompetisi yang megah sekaligus tertib bagi ratusan pasang mata yang hadir.

Adu Nyali Tokoh dan Jawara Sasak

Suasana semakin memuncak saat para tokoh penting turun langsung ke arena untuk menjajal ketangkasan. Kepala Badan Penghubung Provinsi NTB, Dr. Lalu Sukarman, tampil dengan gagah berani di tengah arena, menunjukkan jiwa kesatria yang tinggi. Kehadiran beliau memberikan semangat tersendiri bagi warga NTB di Jakarta.

Tak ketinggalan, tokoh senior lainnya seperti Ketua Laskar Sasak Indonesia (LSI), Bapak Syamsudin, serta Direktur Utama PT Argo Nusa Protindo, H. Lalu Suherman, juga ikut mengadu kekuatan. Mereka membuktikan bahwa kecintaan terhadap budaya tidak pudar oleh jabatan maupun usia.

Aturan Ketat dan Simbol Ketangguhan

Dalam laga yang menegangkan ini, para Pepadu (petarung) tampil sesuai aturan adat yang berlaku. Sesuai tradisi, mereka harus membuka baju saat bertanding. Hal ini bukan sekadar estetika, melainkan bagian dari penilaian teknis; bekas sabetan rotan yang mendarat di tubuh menjadi indikator poin bagi lawan yang memukul.

Dengan bersenjatakan Penjalin (tongkat rotan) dan Ende (perisai kulit), setiap gerakan petarung diikuti dengan decak kagum penonton. Meski pukulan rotan dikenal sangat berbahaya dan mampu membuat lawan terkapar, para petarung tetap menunjukkan ketenangan dan keberanian luar biasa.

Sportivitas di Atas Segalanya

Usai pertarungan yang mendebarkan, setiap Pepadu segera bersalaman dan berpelukan di tengah arena. Inilah esensi dari Peresean: meski di dalam arena saling serang, di luar arena mereka tetaplah saudara satu darah Sasak.

“Kehadiran tokoh-tokoh seperti Dr. Lalu Sukarman dan fasilitas luar biasa dari Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan membuat acara ini sangat spesial. Ini adalah bukti bahwa budaya Sasak tetap hidup dan lestari di tengah megahnya Ibu Kota,” ujar salah satu panitia.

Acara ini ditutup dengan perasaan bangga dan persaudaraan yang semakin erat, membuktikan bahwa tradisi nenek moyang akan selalu memiliki tempat di hati generasi penerus, di mana pun mereka berada. (S5N)

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA