Membangun Ekonomi NTB Melalui Industri Peternakan Sapi dan Inovasi Usaha

Membangun Ekonomi NTB Melalui Industri Peternakan Sapi dan Inovasi Usaha

JAKARTA, 25 April 2026 – Direktur Utama PT Agro Nusa Protindo, H. Mik Lalau Suherman, memaparkan visi besar untuk memajukan industri peternakan di Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam sambutannya pada acara Halalbihalal Himpunan Masyarakat Lombok (Himalo). Acara tersebut berlangsung khidmat di Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta.

Berikut adalah poin-poin utama dari pemaparan beliau mengenai masa depan industri daging dan semangat kewirausahaan:

H. Mik Lalau menyoroti potensi besar NTB sebagai penghasil sapi terbesar kelima di Indonesia. Namun, beliau menyayangkan bahwa penjualan sapi saat ini masih bersifat musiman, terutama hanya melonjak saat Idul Adha.

Beliau ingin mengubah pola pikir peternak agar menjadikan ternak sebagai industri. Harapannya, peternak di NTB bisa memiliki penghasilan rutin bulanan seperti pegawai negeri, bukan hanya setahun sekali.

H. Mik Lalau Suherman mendorong optimalisasi Rumah Potong Hewan (RPH) modern di NTB yang saat ini belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung rantai pasok daging nasional.

Sebagai pimpinan perusahaan yang sedang berkembang pesat, H. Mik Lalau membagikan pencapaian dan target strategis perusahaannya:

Saat ini, PT Agro Nusa Protindo telah menjadi pemasok daging untuk berbagai restoran besar seperti Steak 21, Holycow, hingga grup restoran Platinum.

Di hadapan hadirin, beliau mengumumkan rencana besar perusahaan untuk melakukan Initial Public Offering (IPO) atau melantai di Bursa Efek Jakarta pada kuartal ketiga tahun 2026.

Beliau juga berencana merealisasikan pembangunan depo di lingkungan yayasan untuk memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga Nahdlatul Wathan.

Kepada para hadirin, beliau menekankan bahwa kunci sukses bukan sekadar kepintaran, melainkan daya juang (fighting spirit).

Beliau berbagi pengalaman pribadinya yang pernah berpindah-pindah perusahaan hingga menjabat sebagai direktur dengan prinsip selalu mengatakan “Bisa” terhadap tantangan baru.

Menurutnya, ketika seseorang mengatakan “tidak bisa”, maka otak akan berhenti mencari solusi. Sebaliknya, kata “bisa” akan memicu kreativitas untuk menemukan jalan keluar.

Beliau mengingatkan bahwa kesuksesan yang terlihat di permukaan adalah hasil dari kerja keras di balik layar yang seringkali tidak dilihat orang lain.

Acara Halalbihalal ini menjadi momentum penting bagi masyarakat Lombok di Jakarta untuk mempererat silaturahmi sekaligus mendapatkan inspirasi praktis mengenai pembangunan ekonomi daerah melalui sektor peternakan.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA