Ujian Praktik Seni Lukis SMP Nahdlatul Wathan Jakarta: Menumbuhkan Moral dan Estetika Melalui Karya
JAKARTA, Sinar5News.com – Dunia pendidikan bukan hanya soal angka di atas kertas, tapi juga tentang bagaimana mengasah rasa dan budi pekerti. Hal inilah yang tertangkap dalam ujian praktik seni lukis di SMP Nahdlatul Wathan Jakarta, Rabu (22/4).
Jurnalis SinarLIMA, Marolah Abu Akrom/Ust. Amrullah, berkesempatan berbincang hangat dengan Ibu Arvyanti Martya, S.Pd., sosok pendidik seni lulusan IKIP Yogyakarta tahun 1994, mengenai bagaimana kanvas dan cat akrilik menjadi media pembentuk karakter siswa. Berikut petikannya:
SinarLIMA (SL): Ibu Arvyanti, bisa diceritakan apa agenda besar yang sedang dilaksanakan anak-anak hari ini di sekolah?
Arvyanti Martya (AM): “Hari ini anak-anak sedang melaksanakan ujian praktik seni lukis. Saya bebaskan mereka memilih aliran seni yang mereka sukai, ada yang abstrak, realisme, kubistis, hingga dekoratif. Temanya seputar alam, baik itu objek figuratif maupun benda-benda alam. Intinya, hari ini mereka merdeka dalam berkarya.”

SL: Dari sekian banyak siswa, siapa saja yang menurut Ibu menunjukkan bakat yang cukup menonjol kali ini?
AM: “Alhamdulillah, banyak yang berbakat. Di kelas 9C ada Salsabila dan Laila yang karyanya sangat bagus. Di kelas 9D ada Fitria, Fahrul, dan Fadlan. Meski ada juga yang masih butuh panduan teknis satu per satu, namun secara keseluruhan saya sangat mengapresiasi kemauan mereka untuk menghasilkan karya seindah itu.”
SL: Bagaimana Ibu mengajarkan teknis pewarnaan kepada mereka, terutama bagi yang pemula?
AM: “Prosesnya dimulai dari sketsa. Setelah itu, baru masuk ke teknik pewarnaan. Saya ajarkan berbagai teknik, mulai dari sapuan kuas tipis (realistis), teknik diffuse, teknik buntel, hingga teknik blok warna untuk aliran abstrak agar teksturnya kuat. Menariknya, saya hanya mewajibkan mereka punya empat warna: merah, putih, biru, dan kuning. Mereka harus belajar mengaduk sendiri untuk menciptakan warna lain. Ini melatih kemandirian dan pemahaman mereka tentang teori warna.”

SL: Ibu sempat menyebut bahwa warna adalah emosi. Apa maksudnya bagi perkembangan jiwa siswa?
AM: “Betul, warna itu adalah emosi anak. Melalui lukisan, kepribadian mereka keluar. Anak yang jiwanya tenang biasanya menggunakan warna lembut seperti Salsabila yang banyak mencampur warna dengan putih. Sebaliknya, anak yang punya jiwa pemberontak atau sedang mendung emosinya, terlihat dari pemilihan warna gelap. Seni ini sangat efektif untuk mengeluarkan memori dan ekspresi mereka, termasuk bagi anak-anak berkebutuhan khusus.”
SL: Melihat potensi ini, apakah ada rencana untuk membawa karya siswa ke ranah pameran yang lebih luas?
AM: “Sangat mungkin. Dua tahun lalu kita pernah pameran di sekolah. Harapan saya, tahun depan kita bisa buat lagi di lapangan sekolah, mengundang orang tua dan guru-guru untuk melihat langsung. Ini penting sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan inovasi mereka.”

SL: Terakhir Bu, sebagai lulusan Seni Rupa IKIP Jogjakarta, pesan apa yang ingin Ibu sampaikan melalui pengajaran seni ini?
AM: “Seni itu mendidik etika dan moral. Dengan belajar seni, anak-anak diajarkan cara menghargai karya orang lain dan menghargai diri mereka sendiri. Jika mereka sudah bisa menghargai karya, maka pribadinya akan menjadi lebih santun dan bermoral.”
Reporter: Marolah Abu Akrom/Ust. Amrullah Editor: Redaksi Sinar5News.com



