Prof H Agustitin:WISATA BATINIAH Tentang Arti Penting Bertasawuf, SERI ke 40

Prof H Agustitin:WISATA BATINIAH Tentang Arti Penting Bertasawuf, SERI ke 40

Tasawuf (bahasa Arab:تصوف ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, membangun lahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam yang muncul dalam bentuk tarekat. Tasawuf merupakan sebuah konsep dalam Islam, yang didefinisikan oleh para ahli sebagai bagian batin, dimensi mistis Islam; yang lain berpendapat bahwa sufisme adalah filosofi perennial yang eksis sebelum kehadiran agama, ekspresi yang berkembang bersama agama Islam.[1]

Ada beberapa pendapat perihal etimologi dari kata tasawuf. Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asketik muslim. Namun, dalam kenyataannya tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Ada juga yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari kata saf, yakni barisan dalam salat. Sementara teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari tasawuf adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa.[2] Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan. Sebagian pendapat lagi mengatakan bahwa asal usul ajaran tasawuf berasal dari zaman Nabi Muhammad sallallāhu ‘alaihi wasallam. Berasal dari kata ‘beranda’ (suffah), dan pelakunya disebut dengan ahl al-suffah, seperti telah disebutkan di atas. Mereka dianggap sebagai penanam benih paham tasawuf yang berasal dari pengetahuan Nabi Muhammad.[3]

Dari sekian banyak pengertian dari asal kata tasawuf secara etimologis, yang dianggap paling mendekati adalah kata Suf yang artinya bulu domba. Alasan mengapa penulis menganggap kata tersebut lebih mendekati yaitu: pertama, karena ada seorang sahabat dari ahli sufi yang bernama Hasan al-Basri pernah meriwayatkan bahwasanya diaTrimakasih telah bertemu tujuh puluh pasukan Badar yang semuanya mengenakan pakaian dari bulu domba. Kedua, diriwayatkan bahwasanya Khalifah Umar ra pernah mimpi bertemu Rasulullah yang sedang memakai pakaian dari bulu domba. Ketiga, karena orang yang memakai jubah dari bulu domba pada masa dulu, biasa dipanggil dengan sufi.

BACA JUGA  Prof Dr H Agustitin: WISATA BATIN TENTANG ILMU SERI KE 19
BACA JUGA  Prof H Agustitin: GLOBALISASI PEREKONOMIAN, DAN PENGARUHNYA PADA EXPANSI BISNIS

Dengan demikian kata sufi tidak dapat di pisahkan dengan Tasawuf yang merupakan suatu sistem latihan dengan penuh kesungguhan (mujahadah) untuk membersihkan, mempertinggi dan memperdalam nilai-nilai kerohanian dalam rangka mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah, sehingga dengan cara itu, segala konsentrasi seseorang hanya tertuju kepada-Nya. Oleh karena itu, maka al-Suhrawardi mengatakan bahwa semua tindakan yang mulia adalah tasawuf.

Jika menilik dari pengertian tasawuf di atas, sesungguhnya tasawuf modern itu tidak jauh berbeda dari makna tasawuf itu sendiri, hanya saja pada tasawuf modern ini, yang lebih diperhatikan adalah bagaimana mengaplikasikan nilai-nilai ajaran Alquran dalam kehidupan sehari-hari serta bagaimana manusia bertingkah laku dalam kehidupan ini, sehingga tidak ada kesenjangan dalam tatanan sosial masyarakat. Tasawuf modern merupakan kelanjutan dari tasawuf klasik, akan tetapi sudah mendapat polesan disana-sini, sehingga kesannya tidak lagi eksklusif terhadap dunia, bahkan sesuai dengan perkembangan zaman.

Jadi tasawuf modern dapat diartikan dengan meninggalkan praktik tasawuf yang memisahkan diri dari kehidupan dunia dan menggantikannya dengan praktik tasawuf yang tidak memisahkan diri dari tatanan sosial kemasyarakatan. Sebab kita adalah makhluk sosial yang tentunya akan saling membutuhkan satu sama lainnya, atau dapat juga diartikan dengan keluar dari perangai yang tercela dan masuk kepada perangai yang terpuji sebagaimana yang dikatakan oleh seorang ahli sufi yaitu al-Junaid. “………”. Oleh karena itu, tasawuf modern ini lebih sesuai dengan makna tasawuf yang sebenarnya, sebab dalam tasawuf modern diajarkan untuk lebih memperhatikan sesama dalam sosial kemasyarakatan, selain itu juga lebih ditekankan untuk membangkitkan semangat Islam yang selama ini seolah-olah terkebiri, sebab semangat Islam adalah semangat berjuang, semangat berkurban, bekerja,.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA