Prof H Agustitin: WISATA BATINIYAH SERI KE ENAM

banner post atas

Tuhan merupakan konsep yang disembah (sesembahan) dan siapa yang menyembah serta bagaimana cara menyembahnya (panembah). Kitab Tantu Penggelaran menuliskan, konsep awal Tuhan adalah tunggal atau esa, yaitu yang merupakan konsep transenden (di luar kemampuan manusia), imanen (berada dalam kesadaran atau akal budi), dan esa.

Ajaran firman mengedepankan laku pribadi atau akhlakul karimah. Mereka memiliki kedekatan khusus secara spiritual dengan.menyebutkan konsep *“Pangeran” atau “Gusti”.*

Rincian sebutan bagi sesembahan Jawa, antara lain Sang Hyang Suksma Kawekas, Sang Hyang Suksma Wisesa, Sang Hyang Amurbeng Rat, Sang Hyang Sidhem Permanem, Sang Hyang Maha Luhur, Sang Hyang Wisesaning Tunggal, Sang Hyang Wenanging Jagad, Sang Hyang Maha Tinggi, Sang Hyang Manon, Sang Hyang Maha Sidhi, Sang Hyang Warmana, Sang Hyang Atmaweda, dan sebagainya yang semuanya itu menuju pada keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT.

Iklan

Jauh sebelum agama masuk ke Tanah Jawa, masyarakat Jawa sudah mengenal satu kekuatan yang “maha” dengan nama Gusti Kang Murbeng Dumadi. Keyakinan akan konsep ketuhanan ini didasarkan pada sesuatu yang riil (kasunyatan), yang diaplikasikan dalam kehidupan dan aturan positif sehari-hari.

Masyarakat Jawa percaya jika seseorang bisa hidup karena ada yang menghidupkan, yakni Gusti Kang Murbeng Dumadi. Mereka juga berpegang pada prinsip tepo sliro dan tidak suka memaksakan kehendak kepada orang lain.

Lebih jauh, ajaran budaya Jawa menekankan jika keberadaan Tuhan tidak perlu dibahas, sebab Tuhan “tan kino kinayangan” atau tidak bisa disimbolkan ataupun dibayangkan wujudNya. Bagi mereka yang mampu melepaskan diri dari keduniawian, akan mengalami sebuah puncak pengalaman religius yang dikenal dengan manunggaling karsa kawula lan karsa Gusti. Kemampuan ini hanya bisa diperoleh dengan laku utama *(akhlakul karimah)*

BACA JUGA  Prof Dr H Agustitin Setyo budi, SE, MM, Mpd, Ph.D :WISATA KEBATINAN TENTANG ORANG ORANG YANG BERLAKU ZALIM SERI KE 22

Tuhan adalah Sangkan Paraning Dumadi *(Asal mula Kejadian)*.
Ia adalah sang Sangkan sekaligus sang Paran, karena itu juga disebut Sang Hyang Sangkan Paran.
Ia hanya satu, tanpa kembaran, dalam bahasa Jawa dikatakan Gusti Pangeran iku mung sajuga, tan kinembari .
Orang Jawa biasa menyebut Gusti Pangeran artinya raja, sama dengan pengertian(Malik).

Pangeran berasal dari kata *pangengeran*, yang artinya *”tempat bernaung”* atau *”berlindung”*
Sedang wujudnya tak tergambarkan, karena pikiran tak mampu mencapainya dan kata kata tak dapat menerangkannya.
Didefinisikan pun tidak mungkin, sebab kata-kata hanyalah produk pikiran hingga tak dapat digunakan untuk menggambarkan kebenarannya.
Karena itu orang Jawa menyebutnya tan kena kinaya ngapa *( tak dapat disepertikan),* Artinya *(sama dengan Ya…Ribbeck ngalamin).*
Terhadap Tuhan, manusia hanya bisa memberikan sebutan sehubungan dengan peranannya. Karena itu kepadanya diberikan banyak sebutan, misalnya: Gusti Kang Karya Jagad (Sang Pembuat Jagad), Gusti Kang Gawe Urip (Sang Pembuat Kehidupan), Gusti Kang Murbeng Dumadi (Penentu nasib semua mahluk) , Gusti Kang Maha Agung (Tuhan Yang Maha Besar), dan lain-lain.
Sistem pemberian banyak nama kepada Tuhan sesuai peranannya ini sama seperti dalam ajaran firman: *ALLAH SWT*

Hanya ada satu kebenaran, dan manusia mendapatkan kebebasan untuk menjelaskan hal ini dengan cara berbeda

Setelah beberapa saat turut melibatkan diri dalam dinamika yang sangat kondusif ini, *sebagai suatu fenomena budaya yang telah turut memberikan warna dasar pada khasanah budaya dan peri-kehidupan bangsa Indonesia selama ini.*

Dengan adanya Pemahaman ini dapat meluruskan pendapat yang terlanjur mendeskriditkan pemahan jawa sebagai bagian dari praktek *”per-Klenik’an”* (perdukunan) ataupun ritual pemujaan berhala.

Tuhan bukanlah merupakan suatu ajaran tentang dogma-dogma akan tetapi , lebih tepat kalau dikatakan *sebagai ajaran tentang cara hidup* (a way of life) *sebagai upaya untuk mencari arti kebenaran dalam kehidupan dengan mengembangkan laku utama (AKHLAKULKARIMAH).*

BACA JUGA  Prof H Agustitin: Indonesia Memasuki Fase Normal Baru atau New Normal Dalam Bidang Pendidikan

Dalam membahas agama akan ditemukan bahwa *ajaran agama ini dipenuhi dengan berbagai jenis ide*, yang tidak sedikit *”seakan”* bertentangan satu dengan lainnya, misalnya:
Konsepsi *”spiritualitas”* yang tinggi pada satu sisi dan percaya pada Tuhan Yang Maha Esa , *”Allah SWT”* .
Atau pada satu sisi penyembahan tanpa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari *”ajaran Islam”*

*”Lalu bagaimana ajaran ini menjanjikan kebenaran pada para pemeluknya?”* mungkin ringkasan dibawah ini dapat dijadikan awal untuk memahami :
*- Tiada seorangpun tahu apa yang benar dan apa yang salah;*
*- Tiada seorangpun tahu apa yang baik dan apa yang buruk*;
*- Ada satu Ajaran Allah SWT yang bersemayam dalam diri;*
– Karenanya Temukan dan ikuti perintah-perintahnya yang telah di sampaikan melalui *”ROSULULLAH MUHAMAD SAW.”*

Untuk menghindari terjadinya “debat kusir” Para Sahabat untuk berdiskusi hanya dalam konteks “berupaya keras menuliskan *FIRMAN ALLAH SWT KEDALAM KITABULLAH ALQUR’ANUL KARIM”*