Adab Lebih Utama daripada Ilmu: Menengok Konsistensi SMP Laboratorium Jakarta dalam Membentuk Karakter Bangsa
JAKARTA, SinarLIMA — Di tengah disrupsi teknologi dan pergeseran budaya digital, tantangan dunia pendidikan kini bukan lagi sekadar mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan bagaimana menjaga agar adab dan karakter anak bangsa tidak luntur.
Menanggapi fenomena tersebut, jurnalis SinarLIMA berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Dwi Santoso, S.Pd., guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMP Laboratorium Jakarta. Perbincangan hangat ini berlangsung di ruang guru pada Jumat sore, 22 Mei 2026. Berikut adalah petikan wawancaranya:
Budaya Karakter dan Sekolah Ramah Inklusi
SinarLIMA: Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Dwi Santoso: Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.
SinarLIMA: Pak Dwi Santoso, Anda telah mengabdi sebagai guru PAI di SMP Laboratorium Jakarta sejak Juli 2016. Jika mengamati perjalanan dari tahun 2016 hingga tahun 2026 sekarang, apa saja keunggulan menonjol di sekolah ini yang membedakannya dengan sekolah lain?
Dwi Santoso: Yang paling saya amati dan rasakan, keunggulan utama di SMP Laboratorium Jakarta ini adalah keberhasilannya dalam membudayakan anak untuk membangun karakter mereka. Karakter siswa di sini sangat terbangun, mulai dari kedisiplinan ibadah hingga rasa empati yang tinggi terhadap sesama teman. Di sini, anak-anak tidak sekadar belajar dari buku teks, melainkan mendapatkan pengalaman hidup langsung tentang sikap, adab, dan akhlak yang baik.
SinarLIMA: Artinya, sekolah ini benar-benar menjadi jawaban bagi keresahan para orang tua saat ini ya, Pak?
Dwi Santoso: Betul sekali. Apalagi di era sekarang, di era transisi di mana nilai-nilai adab terkadang mulai terabaikan di lingkungan luar. Namun, SMP Laboratorium Jakarta tetap bertahan dan konsisten menjunjung tinggi pendidikan adab.
Lebih kerennya lagi, sekolah kita juga menerima siswa inklusi. Hubungan dan empati antara siswa reguler dengan siswa inklusi berjalan sangat bagus. Tidak ada bullying di sini. Sebaliknya, mereka saling mendukung satu sama lain untuk maju bersama, karena mereka paham bahwa anak-anak inklusi pun memiliki hak yang sama untuk belajar dan berkembang.
Tingkat Keberhasilan dan Filosofi Adab Sebelum Ilmu
SinarLIMA: Melihat proses tersebut, sejauh mana tingkat keberhasilan penanaman karakter pada anak-anak di sini?
Dwi Santoso: Bagi saya pribadi, indikator keberhasilan yang terpenting adalah ketika nilai-nilai kebaikan, adab, dan kedisiplinan itu sudah berproses menjadi sebuah budaya. Ketika nilai-nilai itu sudah nempel di dalam diri mereka dan membudaya dalam keseharian, insyaallah fondasinya sudah tertanam dengan bagus. Kita tidak perlu menuntut persentase yang muluk-muluk, karena budaya baik itu akan otomatis membimbing mereka.
SinarLIMA: Sejauh mana peran penanaman adab ini memberikan dampak positif bagi pengajaran mata pelajaran lainnya?
Dwi Santoso: Tentu dampaknya sangat luar biasa. Di SMP Labs ini, anak-anak sejak awal dikenalkan dengan prinsip bahwa adab mendahului ilmu. Ketika anak-anak menjaga adab mereka kepada guru, maka interaksi batin dan kerinduan guru untuk mencurahkan ilmu akan mengalir dengan tulus. Hasilnya, ilmu yang mereka pelajari menjadi barokah. Itu pengaruh positifnya ke mata pelajaran lain.
Menjawab Tantangan Zaman dan Sinergi Guru-Orang Tua
SinarLIMA: Di era digital sekarang, kecenderungan anak-anak kan ingin bebas. Menjaga anak-anak agar tetap berada di jalur adab yang baik tentu menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana Anda melihat hal ini?
Dwi Santoso: Ini benar-benar tantangan yang nyata bagi kami para guru. Kami dituntut untuk tidak boleh berhenti belajar. Dengan kemajuan teknologi yang sangat cepat, anak-anak sangat mudah mengakses apa saja, termasuk media sosial. Guru harus melek teknologi dan memahami perkembangan tersebut. Tujuannya bukan untuk ikut-ikutan bebas, melainkan agar kita tetap bisa membimbing, mengawal, dan membentengi mereka dari dampak teknologi yang tidak sehat. Tugas kita di sini adalah sebagai guru sekaligus orang tua mereka.
SinarLIMA: Penanaman adab yang konsisten bertahun-tahun ini tentu membutuhkan kerja sama yang solid. Bagaimana sinergi antar-guru dan wali kelas di sini?
Dwi Santoso: Kami di sini bekerja sama dengan sangat erat, melibatkan tim kesiswaan, wali kelas, dan seluruh guru. Setiap ada perkembangan anak, langsung kami koordinasikan. Tidak hanya di internal sekolah, kami juga mendiskusikannya secara aktif dengan orang tua murid. Alhamdulillah, visi dan program kami selalu sejalan dengan orang tua. Sinergi ini yang menjadi kunci kemudahan kami dalam mengawal anak-anak.
Berakhlak Mulia, Siap Mendunia
SinarLIMA: Di yayasan kita, akhlak mulia memang menjadi prioritas utama sejak dulu ya, Pak?
Dwi Santoso: Betul. Apalagi kita memiliki moto: “Berakhlak Mulia, Siap Mendunia.” Menurut saya, akhlak itu tidak ada matinya. Ia adalah esensi dari kualitas seorang manusia. Semaju apa pun teknologi di masa depan, akhlak tetap menjadi penentu kualitas karakter seseorang. Apalagi anak-anak kita ini adalah calon-calon pemimpin bangsa, penerus masa depan kita semua. Jadi, secanggih apa pun teknologinya, akhlak jangan pernah ditinggalkan.
SinarLIMA: Lalu bagaimana implementasi konkret akhlak tersebut di era modern ini?
Dwi Santoso: Pemahaman kami, adab itu bukan cuma saat kita bertatap muka secara langsung, tetapi juga bagaimana kita bijak dan berakhlak saat berada di dunia maya atau internet. Bagaimana berkomentar yang baik, menyapa dengan santun di media sosial, itu semua harus tertanam di dalam sanubari mereka. Tujuannya agar mereka tidak keluar jalur dan tetap menjadikan segala aktivitas mereka sebagai wujud ibadah kepada Allah SWT.
Rutinitas Pembiasaan Positif Setiap Hari
SinarLIMA: Terkait pembiasaan sehari-hari, bagaimana Anda melihat respons anak-anak? Apakah ada kejenuhan, dan apa dampaknya bagi mereka?
Dwi Santoso: Kalau melihat dari sudut pandang keseharian anak-anak, namanya anak-anak pasti rasa jenuh, malas, atau bosan itu sesekali ada. Itu manusiawi. Namun secara tidak langsung, rutinitas yang konsisten ini membentuk sebuah pola hafalan di luar kepala mereka.
Contohnya, anak yang tadinya belum hafal surat-surat Al-Qur’an, karena setiap pagi dibaca bersama-sama sebelum kegiatan belajar mengajar (KBM), tiba-tiba di ujung waktu mereka menjadi hafal dengan sendirinya. Mereka sangat terbantu, mulai dari hafalan bacaan salat hingga surah-surah Al-Qur’an.
SinarLIMA: Bisa disebutkan apa saja jenis pembiasaan rutin yang dilakukan setiap hari di SMP Laboratorium Jakarta?
Dwi Santoso: Banyak sekali dan sangat padat nilai positifnya. Di antaranya:
-
Salat Dhuha bersama.
-
Tadarus Al-Qur’an dan pembacaan surah Yasin bersama.
-
Kegiatan keagamaan seperti Muhadhoroh (latihan pidato/kultum), di mana anak-anak bergantian belajar azan dan tampil di depan.
-
Doa bersama yang dilakukan serentak sebelum dan sesudah KBM.
-
Program Literasi.
-
Kegiatan kebugaran/olahraga bersama.
-
Selain kegiatan keagamaan, untuk memupuk rasa nasionalisme, anak-anak juga dibiasakan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu daerah secara serentak setiap pagi sebelum mulai belajar.
Raport Keagamaan dan Korelasi Akhlak dengan Prestasi
SinarLIMA: Mendengar penjelasan Anda, sekolah ini luar biasa sekali. Tidak hanya mengisi otak dengan kognitif, tapi juga menyentuh aspek spiritual. Pernahkah ada testimoni atau laporan langsung dari orang tua siswa terkait perkembangan ini?
Dwi Santoso: Sering sekali. Di SMP Laboratorium Jakarta, orang tua tidak hanya menerima laporan perkembangan akademik (raport umum) saja, tetapi kita juga memberikan laporan khusus mengenai pembiasaan keagamaan dan perkembangan karakter anak setiap harinya. Wujud nyata penilaian karakter ini disampaikan langsung kepada orang tua. Hasilnya, banyak orang tua yang menyampaikan rasa puas dan bersyukur melihat perubahan positif anak-anak mereka. Istikamah dalam menjaga nilai-nilai inilah yang membuat sekolah kita tetap eksis dan dipercaya hingga saat ini.
SinarLIMA: Bicara tentang konsistensi penanaman akhlak, kita tahu beberapa kali siswa sekolah kita berhasil menembus prestasi di tingkat Walikota, Provinsi, bahkan Nasional. Apakah ada korelasinya antara akhlak dengan capaian prestasi tersebut?
Dwi Santoso: Tentu ada korelasi yang sangat kuat. Akhlak yang baik akan melahirkan kedisiplinan dan kesadaran batin. Ketika anak memiliki kesadaran, mereka akan bersungguh-sungguh dalam berlatih dan belajar (Man Jadda Wajada). Adab yang baik melahirkan etika bekerja keras. Jadi, akhlak yang tertanam itu secara otomatis menolong mental mereka untuk meraih prestasi terbaik.
Pesan untuk Siswa dan Informasi Pendaftaran
SinarLIMA: Terakhir Pak Dwi, apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada anak-anak didik kita agar mereka menjalankan seluruh aktivitas positif ini tanpa merasa terpaksa?
Dwi Santoso: Ingatlah bahwa masa-masa sekolah ini, dari jenjang dasar hingga menengah, adalah golden age atau masa emas kalian untuk menyerap ilmu. Di usia seperti ini, ingatan kalian masih sangat tajam untuk menghafal dan belajar. Memang, yang namanya istikamah itu terasa berat dan melelahkan. Tapi percayalah, buah manis dari perjuangan dan kedisiplinan kalian hari ini akan kalian petik dan nikmati di masa depan nanti.
SinarLIMA: Luar biasa. Nah, bagi orang tua atau masyarakat yang ingin mendaftarkan putra-putrinya ke SMP Laboratorium Jakarta, bagaimana caranya dan ke mana harus menghubungi?
Dwi Santoso: Caranya sangat mudah. Bisa langsung datang ke kampus SMP Laboratorium Jakarta untuk kami pandu secara lengkap di lokasi. Atau bagi yang ingin mencari informasi secara daring, silakan mengunjungi dan menghubungi melalui akun Instagram resmi kami di @smplaboratorium.
SinarLIMA: Terima kasih banyak atas waktu dan jawaban-jawabannya yang sangat mencerahkan, Pak Dwi.
Dwi Santoso: Sama-sama, terima kasih kembali.
SinarLIMA: Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Dwi Santoso: Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.
DATA PENULIS
-
Nama: Marolah Abu Akrom, S.Ag, MM (Ust. Amrullah)
-
Profesi: Jurnalis Sinar5News.com & Guru BK (SMP NW/Lab Jakarta)
-
Dakwah: Khatib Jum’at DKI Jakarta & Bekasi, Penulis Naskah Khutbah Nasional.
-
Spesialisasi: Penggagas Metode Al Akrom (5 Jam Bisa Baca Al-Qur’an) & Pengajar Tahsin/Tafsir.
-
Karya: Penulis puluhan buku & Pencipta 12 album lagu religi.
-
Media: YouTube: Abu Akrom Channel & SinarLIMA TV




