Sinar5news.com -Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak bisa ditulis tanpa tinta darah dan keringat kaum santri. Dari surau-surau kecil hingga Surabaya, dari pesantren kecil di pedalaman hingga masjid agung di kota, para kiai dan santri berdiri di garis depan melawan penjajah. Kini, semangat yang sama mengalir dalam peran mereka mendukung program-program unggulan Presiden Prabowo Subianto untuk Indonesia Maju.
Perjalanan itu tidak putus. Ia berubah bentuk: dulu dengan bedil dan bambu runcing, kini dengan ilmu, ekonomi umat, dan kolaborasi kebijakan.
*1. Resolusi Jihad 1945: Titik Balik Perlawanan*
Tanggal 22 Oktober 1945 menjadi penanda sejarah. Di Surabaya, KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad. Isinya tegas: mempertahankan kemerdekaan hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim yang berada dalam radius 94 km dari musuh.
Seruan itu memantik lautan manusia. Santri-santri muda meninggalkan pondok, membawa sarung, kitab, dan bambu runcing. Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya menjadi bukti. Mereka bukan pasukan terlatih, tapi semangat _hubbul wathan minal iman_ membuat mereka berani menghadapi tank dan pesawat Sekutu.
“Bagi santri, kemerdekaan bukan hadiah. Itu amanah. Kalau tidak dijaga, bangsa ini kembali terjajah,” kata KH. Mustofa Bisri dalam salah satu pengajiannya.
Peran santri tidak berhenti di medan perang. Di belakang layar, pesantren menjadi pusat logistik, rumah sakit darurat, dan pusat konsolidasi pejuang. Nama-nama seperti KH. Wahab Hasbullah, KH. Zainul Arifin, dan KH. Mas Mansyur tercatat sebagai arsitek mobilisasi santri nasional.
*2. Pasca Kemerdekaan: Santri Menjadi Penjaga Moral dan Pendidikan Bangsa*
Setelah 1945, medan juang santri bergeser. Kalau dulu melawan kolonial, kini melawan kebodohan, kemiskinan, dan degradasi moral.
Pesantren menjadi sekolah gratis bagi anak desa yang tidak terjangkau pendidikan formal. Dari pesantren lahir ulama, guru, hakim, hingga pemimpin daerah. Jaringan pesantren menjaga keragaman Indonesia tetap utuh lewat tradisi _tasamuh_ dan _tawasuth_.
Di masa Orde Baru hingga reformasi, santri juga menjadi penyeimbang. Saat negara otoriter, pesantren menjaga ruang diskusi. Saat disintegrasi mengancam, kiai turun menjadi penengah konflik.
*3. Era Prabowo: Santri Masuk ke Jalur Program Strategis Negara*
Memasuki era Presiden Prabowo Subianto, peran santri kembali diformat agar lebih strategis dan sistemik. Bukan hanya sebagai objek pembangunan, tapi subjek yang terlibat langsung dalam program nasional.
Dalam pandangan Santri Muda Nusantara (SAMUDRA). Ada tiga program unggulan di mana kontribusi santri terlihat jelas:
*Pertama, Makanan Bergizi Gratis [MBG].*
Dengan 4 juta santri, pesantren menjadi target prioritas. Program ini memastikan santri tidak lagi belajar dalam kondisi lapar. Lebih jauh, MBG berbasis rantai pasok lokal membuka pasar bagi UMKM desa di sekitar pesantren. Santri yang belajar agribisnis di pondok kini punya pembeli pasti.
*Kedua, Penguatan Ekonomi Pesantren.*
Pemerintah mendorong pesantren menjadi pusat ekonomi syariah melalui Koperasi Pesantren dan program inkubasi UMKM santri. Tujuannya jelas: menciptakan kemandirian ekonomi umat. Banyak ponpes di Jawa Timur dan Jawa Barat sudah memulai usaha peternakan, perikanan, dan konveksi yang dikelola santri.
*Ketiga, Digitalisasi dan Moderasi Beragama.*
Santri milenial didorong menguasai teknologi untuk dakwah dan pendidikan. Kementerian Agama bersama pondok pesantren meluncurkan program Santri Digitalpreneur. Di sisi lain, jaringan pesantren menjadi garda terdepan melawan disinformasi dan paham radikal lewat dakwah moderat.
*4. Benang Merah Perjuangan: Dari Fisik ke Struktural*
Kalau ditelisik, ada benang merah yang menyambungkan perjuangan santri dulu dan sekarang. Dulu santri melawan penjajahan fisik. Sekarang santri melawan penjajahan struktural: kemiskinan, kebodohan, ketergantungan pangan, dan polarisasi sosial.
Semangatnya sama: _membela bangsa_. Bedanya, medan tempurnya berubah. Dulu di Surabaya, kini di dapur pesantren, di koperasi santri, dan di ruang-ruang digital.
“Resolusi Jihad 1945 adalah melawan penjajah. Resolusi Jihad 2025 adalah berikhtiar memakmurkan Rakyat dan membahagiakan kaum Santri di pesantren-pesantren melalui Makanan Bergizi Gratis
*5. Penutup: Santri Tidak Pernah Absen dari Sejarah*
Dari Resolusi Jihad 1945 hingga dukungan terhadap MBG dan ekonomi pesantren 2026, kaum santri menunjukkan satu hal: mereka tidak pernah absen ketika bangsa ini membutuhkan.
Peran mereka mungkin tidak selalu masuk headline berita. Tapi di balik setiap santri yang hafal Qur’an sambil belajar coding, di balik setiap koperasi pesantren yang berjalan, ada kontribusi nyata untuk Indonesia Maju.
Kemerdekaan dijaga bukan hanya dengan senjata. Ia dijaga dengan gizi yang cukup, ilmu yang mumpuni, dan ekonomi yang mandiri. Dan di semua lini itu, santri ada di sana.
Karena bagi santri, cinta tanah air bukan slogan tapi adalah ibadah.
Ditulis Oleh : Sukarya Putra (Ketua Umum SAMUDRA)



