Prof Dr H Agustitin: EKSISTENSI KOPERASI PADA SAAT PANDEMI COVID19 MEWABAH DI INDONESIA SEPERTI SAAT INI.

banner post atas

Ketika negera kita terkena dampak dari wabah covid 19, seluruh aktivitas ekonomi juga terkena dampaknya, mulai dari pelaku ekonomi kelas atas hingga kelas bawah hampir semua terkena dampaknya. Pengangguran terjadi secara besar-besaran,akibat dari nanyak perusahaan yang menutup sementara aktivitas operasionalnya.

Di saat perekonomian hampir stagnan, beberapa Koperasi Simpan Pinjam bangkit dan hadir sebagai pembuka jalan kehormatan baru di bidang perekonomian dan membangkitkan UMKM yang berdampak,untuk membangun jalan ekonomi baru dengan berbagi aktivitas ekonomi tumbuh melalui produk2 baru.

Beberapa jenis produsen, konsumen, jasa hingga pemasaran, masih tetap eksis bersama koperasi sehingga roda ekonomi melalui UMKM tumbuh sebagai industri rumahan .

Iklan

Banya koperasi yang seluruh anggotanya pelaku UMKM hadir ditengah keadaan pada saat negeri tercinta ini terkena dampak dari wabah covid19 yang mewabah sebagi pandemi .

Koperasi hadir dengan memberikan bantuan berupa modal usaha dengan memberdayakan dana cadangan, dana yang diambil dari penyisihan dana SHU dana Dana Sosial dan dana penyertaan dari pihak ke tiga.

Modal ini disukikan kepada pelaku UMKM yang sudah mulai melemah sehingga mampu, bertahan sebagai industri rumahan tampil denga dengan kreasi dan inovasi sehingga bermunculan produk 2 baru sesuai peluang yang ada. Kehadiran koperasi ditengah kondisi seperti ini, menunjukkan bahwa eksistensi koperasi tidak kalah pentingnya dengan pelaku usaha lainnya karena adanya kemudahan birokrasinya.

Koperasi sebagai penopang ekonomi kerakyatan ternyata mampu bersaing dengan ekonomi kapitalis,seperti yang di sebutkan di atas bahwa Koperasi hadir ditengah masyarakat dengan memberikan sumbangsih besar dengan peranannya masing-masing.

Sebanyak lebih kurang 1.785 koperasi primer dengan lebih kurang 163.713 pelaku usaha mikro kecil menengah yang terdampak pandemi virus corona 19, bergerak pada bidang kebutuhan sehari-hari, terutama sektor UMKM makanan dan minuman bangkit dan tumbuh bergandengan dengan UMKM sebagai pemodalnya.

BACA JUGA  Lotim Terima DIPA dan TKDD 2,05 Trilyun dan Untuk Dana Desa Rp.314,8 Milyar.

Koperasi yang bergerak pada bidang jasa dan produksi juga ikut berdampingan dengan koperasi ikut berdampingan sehingga ikut tumbuh.

Para pengelola koperasi merasakan arti pentingnya koperasi , sebagai lembaga yang secara mudah dapat membantu pelaku UMKM yang berkekurangan modal dan terhambatnya distribusi.
Sementara itu, sektor UMKM yang terguncang selama pandemi Covid-19, selain makanan dan minuman, adalah industri kreatif dan pertanian juga terbantu oleh eksistensi koperasi.

Untuk menanggulangi masalah yang dihadapi pelaku UMKM, koperasi melakukan upaya 2 , salah satunya, memasukkan pelaku UMKM sebagai koperasi.

“Koperasi juga merelaksasi dan merekstrukturisasi pembayaran pinjaman bagi pelaku UMKM yang berdampak langsung,” .

Para pakar dan praktisi ekonomi dan koperasi dari berbagai negara, berkumpul berdiskusikan untuk mencari solusi yang tepat Hadir dalam diskusi tsb al: Kanada, Filipina dan Pakistan dll, dan ereka menjelaskan tentang kondisi koperasi di berbagai negara dan memberi ide terkait solusi tsb dengan memproteksi koperasi dan UMKM dapat di jadikan sebagai percepatan mengembangkan ekonomi selama dan paska pandemi Covid-19.

Meski pandemi Covid-19 memunculkan masalah bagi pelaku UMKM , di sisi lain, ada kesempatan yang juga muncul, bagi pelaku UMKM dapat memanfaatkan koperasi sebagai lembaga pemodalnya.

Dengan demikian transaksi perdagangan elektronik meningkat selama pandemi Covid-19. Bahkan produk lain penjualannya mengalami peningkatan, antara lain produk kesehatan meningkat – + 90 persen, produk penunjang hobi naik – + 70 persen, makanan pokok naik ‘+ mencapai 350 persen dan makanan herbal naik – + mencapai 200 persen ( data KEMENKOP & UMKM) .

Denga demikian dapat di katakan bahwa keberadaan(eksistensi) koperasi selama covid 19 mewabah di Indonesia seperti saat ini, ikut hadi sebagai pemodal untuk “menggerakan ekonomi rumahan sehingga menjadi tren ekonomi baru yang mewarnai perekonomian di Indonesia era pandemi COVID 19 ini.

BACA JUGA  Privatisasi Pertamina Lewat IPO Berpotensi Langgar Konstitusi