Oleh: H. Lalu Tjuck Sudarmadi
Hari Raya Eidul Adha atau Eidul Qurban sesungguhnya bukan sekadar ritual penyembelihan hewan. Ia adalah peristiwa spiritual besar yang mengandung pelajaran tentang ketundukan manusia kepada Tuhan, kemenangan iman atas ego, dan keharusan manusia menjaga keseimbangan kehidupan.
Peristiwa agung itu bermula dari ujian berat yang dialami Nabi Ibrahim/Abraham dan putranya Nabi Ismail. Ibrahim diuji ketakwaannya. Ismail diuji kepasrahannya. Secara manusiawi, tidak mungkin keduanya tidak mengalami pergolakan batin yang dahsyat. Seorang ayah diminta mengorbankan putra yang sangat dicintainya, sementara seorang anak harus menerima dirinya menjadi bagian dari perintah Tuhan yang sulit dijangkau akal manusia.
Namun keduanya, Abraham dan Ismail memilih tunduk. Beliau beliau menempatkan iman di atas logika, ketakwaan di atas rasa memiliki, dan kepasrahan di atas ketakutan. Di titik itulah manusia mencapai kemuliaan spiritual tertinggi: ketika mampu mengalahkan ego dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.
Tetapi Tuhan memiliki skenario yang melampaui nalar manusia. Al-Qur’an kemudian mengabadikan bagaimana Allah mengganti Ismail dengan seekor domba sembelihan. Peristiwa monumental itu menjadi bagian penting dari syariat Islam dan terus dikenang melalui ibadah haji dan Eidul Qurban hingga hari ini dan seterusnya.
Sayangnya, makna qurban dalam kehidupan modern sering kali menyempit, kadang hanya menjadi ritual formal tahunan. Orang merasa telah selesai menjalankan pesan agama hanya dengan membeli hewan qurban, menyembelihnya, lalu membagikan daging kepada masyarakat sesuai tuntunan.
Padahal ruh terdalam qurban jauh melampaui penyembelihan fisik.
Qurban sejatinya adalah pelajaran tentang kemampuan manusia menyembelih “nafsu kebinatangan” yang hidup dalam dirinya sendiri: kerakusan, kesombongan, ambisi berlebihan, ketamakan, dan nafsu kekuasaan.
Ironisnya, di tengah perayaan qurban setiap tahun, dunia justru semakin dipenuhi wajah-wajah kerakusan manusia modern.
Kita hidup di zaman ketika kebencian dan fitnah ditebar, perang dan konflik terus berkobar. Yang kuat ingin menguasai yang lemah. Negara besar saling memamerkan kekuatan demi kepentingan ekonomi dan politik. Kekayaan dunia hanya berputar pada segelintir kelompok, sementara jutaan manusia hidup dalam kemiskinan dan penderitaan.
Pada saat yang sama, bumi mengalami luka yang sangat serius akibat kerakusan manusia.
Hutan ditebang tanpa kendali. Gunung dikeruk tanpa batas. Laut dicemari. Sungai dirusak. Tanah kehilangan kesuburannya. Alam diperlakukan hanya sebagai objek eksploitasi demi keuntungan sesaat.
Akibatnya kini nyata di depan mata: banjir, longsor, kekeringan, perubahan iklim, krisis pangan, dan rusaknya keseimbangan alam. Semua itu bukan semata-mata bencana alam, melainkan buah dari keserakahan manusia yang kehilangan arah moral dan spiritual.
Padahal Allah telah memperingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi. Larangan itu bukan hanya bermakna menebang pohon atau menghancurkan hutan, tetapi juga peringatan agar manusia tidak rakus mengeksploitasi kehidupan tanpa tanggung jawab, juga menebar ujaran kebencian dan finah berlebihan.
Manusia sejatinya diciptakan sebagai khalifah di muka bumi: penjaga amanah Tuhan, bukan perusak ciptaan-Nya.
Nilai luhur itu sebenarnya telah lama hidup dalam budaya Nusantara. Masyarakat adat seperti Sunda, Jawa Sasak, Bali dsn Suku Dayak, Badui, hingga komunitas adat di Papua memandang alam sebagai bagian dari kehidupan spiritual yang harus dihormati dan dijaga. Mereka mengambil dari alam secukupnya, bukan serakus-rakusnya.
Nenek moyang kita juga mengenal tradisi “pancawara”, pasar tradisional yang berlangsung menurut hari dan weton tertentu. Dalam budaya itu, hubungan ekonomi dibangun atas dasar kepercayaan, saling melengkapi, dan kebersamaan. Bahkan perdagangan sering dihiasi barter, bukan semata-mata uang dan keuntungan.
Namun modernitas perlahan mengikis nilai-nilai tersebut. Relasi manusia kini semakin transaksional. Ukuran keberhasilan ditentukan oleh kekuasaan dan materi.
Peradaban modern yang seharusnya melahirkan kemajuan justru dalam banyak hal menyeret manusia kembali pada hukum rimba: siapa yang kuat, dia yang menguasai.
Yang lebih menyedihkan, kerakusan itu sering dilakukan atas nama kemajuan, demokrasi, bahkan atas nama agama. Padahal tidak ada satu agama pun di muka bumi ini, terlebih agama-agama samawi, yang mengajarkan penghancuran kehidupan dan penindasan terhadap sesama manusia.
Semua agama mengajarkan kasih sayang, keadilan, dan kedamaian.
Karena itu, Eidul Qurban seharusnya menjadi momentum refleksi besar bagi umat manusia. Menyembelih kambing, domba atau sapi jauh lebih mudah daripada menyembelih ego dan keserakahan diri sendiri. Menyembelih hewan hanya membutuhkan pisau, tetapi menyembelih ambisi dan kerakusan membutuhkan keberanian moral, kejujuran batin, dan ketakwaan.
Hari ini bumi sesungguhnya sudah lelah. Dunia sudah letih menyaksikan kerakusan manusia yang tidak pernah merasa cukup, enough is never enough. Karena itu, qurban sejati bukan hanya menghadirkan darah hewan yang mengalir di tanah, tetapi juga kesediaan manusia mengorbankan ego, membatasi ambisi, menghentikan kerakusan, dan mengembalikan kehidupan kepada nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
Para elite politik, penguasa ekonomi, pemimpin bangsa, bahkan tokoh agama sekalipun, seharusnya berani memberikan teladan qurban yang sesungguhnya: bukan sibuk mengambil sebanyak-banyaknya, melainkan berani menahan diri demi keselamatan bersama.
Mungkin inilah makna terdalam Eidul Qurban di zaman yang penuh kegelisahan ini: manusia tidak hanya diminta menyembelih hewan qurban, tetapi juga menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang tumbuh di dalam dirinya sendiri.
Sebab bila kerakusan terus dibiarkan menguasai manusia, maka yang akan disembelih pada akhirnya bukan lagi hewan qurban, melainkan masa depan peradaban itu sendiri. *Penulis adalah Pengamat Birokrasi n Pemerintahan*




