Prof Agustitin: Tawaran Solusi Ekonomi 2020

banner post atas

Sinar5News.com – Perekonomian nasional pada tahun 2020 ini akan lebih baik dibandingkan 2019. Hal ini tercermin dari kondisi ekonomi tahun lalu yang tercatat membaik dari beberapa lembaga internasional.

*Harapan kita di tahun 2020 ada pemulihan,*

Seperti kita ketahui, pada pertengahan 2019 Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) sempat merevisi ke bawah ekonomi tahun ini. Namun, pertumbuhan ekonomi diyakini masih akan lebih baik dibandingkan dengan perekonomian tahun 2019.

Iklan

“Namun masih ada beberapa risk yang haru di hadap al. :
1. Brexit dan tensi geopolitik.
Dalam hal Ini masih menjadi tantangan kita, namun bisa jadi sekaligus menjadi peluang uuntuk lebih optimisme memeneg risiko di 2020,”*

Dapat di prediksi. pada tahun ini pertumbuhan ekonomi bisa di perkirakan 5,3 persen dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
2. Sektor konsumsi dan investasi terkait dengan poin 1 dapat di jadikan sebagai motor penggerak utamanya.

Sedangkan risiko masih akan mempengaruhi ekonomi 2020, yaitu
a. Ketidakpastian perang dagang, brexit, perlambatan ekonomi beberapa negara berkembang seperti India dan Tiongkok,

b. Pemilu di Amerika Serikat (AS),

c..Peningkatan utang yang berisiko pada stabilitas sistem keuangan,

d,. Tensi politik dan geopolitik.

e Adanya beberapa realisasi asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 yang meleset, yang salah satunya realisasi pertumbuhan ekonomi yang yang hanya menyentuh 5,05 persen.

Namun demikian meski capaiannya jauh dari target yang ditetapkan pemerintah, yaitu sebesar 5,3 persen. Akan tetapi, capaian tersebut dapat di katakan tetap positif di tengah banyaknya tekanan dari sisi ekonomi global.

“Dengan tekanan tersebut kita harus dapat tetap mampu menjaga pertumbuhan kita di atas 5 persen.

3. Lifting minyak dan gas tidak sesuai dengan estimasi. Lifting minyak pada 2019, realisasinya hanya mencapai 741.000 barel per hari. Sementara, target di APBN sebesar 775.000 barel per hari.

4. Lifting gas, realisasi pada 2019 hanya sebanyak 1.050.000 barel setara minyak per hari. Di mana, target sebesar 1.250.000 barel setara minyak per hari. Realisasi lifting migas tersebut, sangat mempengaruhi pendapatan negara dari sektor migas pada 2019. Di mana, patokan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP), tercatat terealisasi sebesar USD62 per barel. Lebih rendah dibandingkan target harga sebesar USD70 per barel.

5..Terakhir tingkat suku bunga surat perbendaharaan negara (SPN) 3 bulan di APBN 2019 buruk oleh karena, ditargetkan sebesar 5,6 persen dari estimasi realisasi 5,3 persen.

Sehingga untuk membangun optimisme ekonomi kita tahun 2020 maka kekurang kecermatan yang terjadi tahun 2019 harus di amankan dan di carikan solusi yang teranalisa dengan cermad.