MUTIARA HIKMAH (24) SELAMAT HARI KARTINI Oleh : Abu Akrom

banner post atas

Pada uraian mutiara hikmah kali ini, kita akan membahas pengorbanan seorang ibu dalam rangka memperingati hari kartini setiap tanggal 21 April.

Sungguh mulia hati orang tua kita. Terutama Ibu dengan penuh ikhlas dan sabar mengandung kita selama 9 bulan 10 hari, sungguh waktu yang sangat lama. Makin hari perut ibu kita makin membesar, terasa begitu payah dan sangat melelahkan hingga datanglah waktu yang ditunggu yaitu melahirkan kita ke dunia. Sungguh inilah perjuangan terberat seorang ibu berjuang melahirkan anaknya antara hidup dan mati.

Didahului oleh rasa mules yang hebat berjam-jam, ibu kita berusaha melahirkan kita. Berdarah-darah dan alat kelamin beliau tersobek-sobek bagai disayat pedang, sehingga harus dijahit berpuluh-puluh jahitan, sungguh sakit tidak terperi. Itulah pengorbanan seorang ibu yang sangat besar yang mesti selalu kita ingat dimanapun kita berada.

Iklan

Setelah ibu melahirkan kita apakah beliau sudah bebas merdeka? Tidak, akibat susah dan sakitnya ibu melahirkan kita, maka seluruh tubuhnya lemah tidak berdaya perlu beberapa hari untuk pemulihan.

Ketika ibu melihat bayinya lahir dalam keadaan selamat, betapa bersyukur dan bahagia ibu kita. Walaupun kondisi badan masih sakit dan lemah, beliau tersenyum dan berharap seraya berdoa kepada Allah semoga bayiku ini kelak menjadi anak yang saleh, berbakti dan berguna bagi agama, nusa dan bangsa.

Perjuangan seorang ibu sungguh mulia dan luar biasa. Bayangkan ketika kita masih bayi, beliau merawat kita dengan cinta dan kasih sayang. Hampir-hampir ibu tidak pernah tidur menjaga kita 24 jam. Sungguh beliau kita buat sibuk sesibuk-sibuknya, mulai dari menyusui, memandikan, memakaikan baju, menyuapkan makan dan minum, mengajak bicara, menghibur, menyucikan baju, menggendong, menidurkan, mengantarkan ke dokter kalau kita sakit dan lain-lain masih banyak lagi.

BACA JUGA  -HIKMAH PAGI- PHILO SHOPIA “KARL MAX”

Karena demikian besar perjuangan dan pengorbanan seorang ibu terutama disaat kita masih kecil, kalau dibalas dengan harta sebanyak apapun, tidak akan pernah bisa terbalaskan, maka Allah mengajarkan kita untuk selalu mendoakan beliau agar Allah menyayangi dan mengampuni dosa-dosanya (Al Isra 24).

Hanya dengan doa yang tulus yang kita panjatkan, sebagai tanda membalas jasa-jasa ibu kita. Kalau mau berhitung secara materi berapa puluh atau ratus juta yang dikelurkan untuk memenuhi semua keperluan hidup kita. Belum lagi nilai cinta dan kasih sayang yang luar biasa yang beliau tumpah curahkan semuanya untuk kita, sungguh kita takkan sanggup membalasnya walaupun dengan emas dan permata berkilo-kilo beratnya.

Maka pantaskah kita durhaka kepada ibu? Pantaskah kita menyakiti hati ibu? Pantaskah kita mulukai perasaan ibu? Pantaskah kita membantah dan tidak peduli kepada ibu? Pantaskah kita tidak cinta dan sayang kepada ibu? Pantaskah kita berkata kasar dan membentak ibu? Pantaskah kita tidak menjalin komunikasi yang baik kepada ibu? Astagfirullah, kalau itu semua kita lakukan sungguh kita termasuk anak yang tidak tahu berterima kasih.

Kalau diantara kita sampai saat ini masih suka menyakiti ibu, bertaubatlah, menyesallah. Akuilah perbuatan kita dan segera meminta maaf kepada beliau sembari bersimpuh (sungkem) dan memeluk erat katakan di telinganya, “ibu maafkan atas segala kesalahan saya selama ini, anakmu ini terlalu sering menyakiti ibu”. In sya Allah ini adalah awal yang baik untuk memperbaiki sikap buruk kita kepada ibu kita sendiri.

Semoga uraian mutiara hikmah hari ini, mampu menyentuh hati kita untuk selalu berbakti kepada ibu. Aamiin.

Bekasi, 27 Sya’ban 1441 H/20 April 2020 M