Sinar5news- Jakarta- Indonesia mengejutkan dunia dengan telah berhentinya Indonesia impor beras. Harga pangan dunia ikut gonjang ganjing akibat Indonesia tidak lagi membutuhkan beras dari negara manapun. Tekad kuat Indonesia untuk swasembada pangan khusus nya beras di luar dugaan dalam waktu singkat menuai hasil. Nawacita Prabowo di bidang pangan satu demi satu sudah mulai terurai. Indonesia siap menjadi lumbung pangan dunia.
Ada sebuah rasa baru yang mengalir di tanah republik ini. Yaitu rasa percaya yang belum pernah terasa sejak lama. Seolah negeri yang selama bertahun-tahun berdiri di antara janji dan penantian, kini mulai melangkah keluar dari bayang-bayang keterpurukan, menuju terang yang masih jauh tapi nyata.
Bahwa kekuasaan bukan hanya tentang mempertahankan status quo, melainkan tentang menjemput nasib rakyat di titik nadir dan mengangkatnya ke tempat yang lebih layak. Bahwa mimpi lama tentang kedaulatan pangan bukan hanya gula-gula yang dibacakan dalam pidato, tapi sudah mulai nyata hasilnya.
Tak dapat disangkal, dalam bulan-bulan awal pemerintahannya, Prabowo telah menyalakan harapan di ladang-ladang yang lama ditinggalkan. Ia tak datang sebagai birokrat yang hanya mengganti wajah papan nama kementerian, tapi sebagai negarawan yang membawa visi besar: menjadikan pangan sebagai pondasi kemerdekaan.
Di tangan pemimpin yang tepat, kebijakan bukan lagi hanya angka-angka dalam dokumen, tapi menjadi denyut dalam nadi kehidupan rakyat. Namun seperti kata Albert Camus, “Menjadi raja bukan soal memiliki kekuasaan, tapi soal memikul bebannya dengan anggun.” Menghadirkan pelayanan prima kepada rakyat yang telah memberikan amanah untuk menghadirkan makna kemerdekaan.
Kami menyaksikan sendiri, dengan kepala tegak, bagaimana lumbung pangan mulai dibangun bukan sekadar di atas podium, tetapi juga di atas tekad dan keberpihakan. Program penyediaan pupuk murah, pembenahan tata niaga hasil tani, dan dorongan terhadap kemandirian produksi pangan adalah langkah-langkah yang tak bisa diremehkan.
Dan lebih dari itu, masih ada rasa was- was di dada rakyat kecil : Apakah keberpihakan ini akan bertahan, atau hanya euforia sesaat? Justru karena kami percaya pada Presiden Prabowo, kami merasa perlu bersuara. Bukan dengan teriakan oposisi, tapi dengan kasih seorang rakyat pada pemimpinnya.
Presiden Prabowo telah membuka pintu arah baru. Maka kini, tantangan berikutnya adalah menata isi rumah: membersihkan birokrasi dari rente, menyapu bersih mafia pangan dan koruptor serta memperkuat posisi petani dalam rantai pasok. Langkah ini akan berat.
Tapi bangsa ini tak dibangun oleh langkah yang ringan. Kami tahu, Presiden tidak berjalan sendiri. Ia dikelilingi oleh harapan jutaan rakyat kecil, dan juga oleh kepungan kekuatan lama yang selalu mengintai. Maling teriak maling masih menggongon setiap saat, adudomba model penjajah masih dimainkan oleh mereka yang teriak Pancasila, demokrasi diberi amanah kuasa merusak negri.
Maka di sinilah, kami ingin berdiri tegak bersama beliau. Bukan sebagai pengikut yang tuli, tapi sebagai penyokong yang jujur. Untuk terus membela dan menyuarakan kepentingan rakyat diatas segala galanya demi hadirnya negara bersih rakyat makmur sejahtera adil sentosa. Maju terus Presiden sapu bersih sang prajurit sejati. (PK)




