“PLTA Batang Toru juga melakukan pendidikan masyarakat mengenai bagaimana menangani orangutan ketika sedang turun di kebun sehingga tidak terjadi penembakan Iagi. PLTA Batang Toru juga siap bekerja sama dengan pihak-pihak lain untuk menyelamatkan orangutan sebagaimana telah disepakati dalam komitmen kerja sama pelestarian ekosistem,” kata Agus.
Menurut Barita Manullang, habitat orangutan Tapanuli tidak terganggu dengan kehadiran PLTA Batang Toru. Habitat orangutan Tapanuli tersebar di hutan-hutan dalam ekosistem Batang Toru seluas 165 ribu Ha, sebuah wilayah yang lebih luas dlbandingkan dengan wilayah DKI Jakarta. Orangutan selalu bergerak berpindah tempat dengan daerah jelajah yang bervariasi antara 800 – 3.000 ha. Sedangkan luas tapak struktur bangunan PLTA Batang Toru adalah 122 ha atau 0,07% dari total kawasan ekosistem Batang Toru.
Dengan demikian, luas areal proyek lebih kecil dibandingkan dengan kebutuhan habitat bagi satu individu orang utan.
Emmy mengatakan upaya menjaga kelestariaan orangutan dan pembangunan PLTA Batang Toru jangan dibenturkan karena keduanya bisa saling harmoni untuk kelestarian lingkungan. PLTA Batang Toru berada di kawasan Area Penggunaan Lain (APL) yang sudah ditetapkan sejak 2004. Proyek ini mempunyai dampak positif terhadap llngkungan yang luar biasa besar lika dibandingkan dengan perkebunan maupun pertambangan emas yang ada di sana. Penanganan orangutan di kawasan ini harus dengan strategi perlindungan satwa Iangka yang berada di luar kawasan konservasi.
Kegiatan ekonomi masih dapat dilakukan dengan dampak minimal terhadap orang utan, bukan dengan melarang kegiatan ekonominya.(Faris)


