JUHALA’ MENGAKU FUQAHA’ (Kajian Buku Risalah Al Muhibbin)

banner post atas

Oleh: TGH. Habib Ziadi Thohir

Di dalam kitab-kitab salaf, terutama dalam studi hadits dan akhlaq, bab yang pertama kali diulas adalah bab ilmu. Ini mengindikasikan urgensi (fadhilah) ilmu dalam Islam. Islam dan segala aspeknya dibangun atas dasar ilmu. Oleh sebab itu, para penganutnya didorong untuk selalu belajar dan mengambil pelajaran. Allah sendiri menegaskan: “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Membangun pribadi dalam Islam adalah membangun semangat keilmuan. Namun seorang penuntut ilmu wajib mempelajari adab dan akhlak telebih dahulu. Tujuannya agar jiwanya ditanamkan etika kepantasan dan batinnya terjaga dari penyakit hati. Bila penuntut ilmu langsung terjun menggeluti halal-haram misalnya tanpa mendalami akhlak, perangainya cenderung keras tak beretika. Itulah sebabnya kenapa para salaf menganjurkan belajar adab dan akhlak sebelum menuntut ilmu tertentu. Begitulah seharusnya. Isilah hati dengan adab, baru mengisi otak dengan ilmu.

Iklan

Orang yang berilmu rentan dihinggapi penyakit sombong apalagi dengki. ini penyakit para cendekiawan bahkan menghinggapi sebagian agamawan. Bila sudah sombong sudah pasti dengki. Setiap orang pintar dianggap saingan. Sudah biasa jika satu profesor mengomentari profesor atau doktor lainnya dengan penilaian sinis atau seorang ilmuan menilai dan mlemahkan ilmuan lain dari perspektif berbeda. Bahkan pemikir muslim kontemporer merasa kurang afdol jika tidak memberi catatan merah karya ulama ternama zaman dulu.

Kini perilaku pongah dan sok praktisi hebat menjangkiti banyak mahasiswa. Termasuk sebagian mahasiswa studi Islam. Akibat salah ajaran dan salah baca, mereka jadi sok pinter. Mereka yang ilmunya masih sedikit sudah besar kepala. Membaca Arab gundul saja belum mampu sudah merasa master dalam bahasa Arab. Hobbi mereka berdebat tanpa ilmu. Semua hal diperdebatkan dan dikritisi. Masih juhala’ mengaku sudah fuqaha’. Masih payah berlagak ’allamah. Sungguh sayang bila ilmu tidak diimbangi dengan pembersihan jiwa. Ilmu malah jadi benalu, alat kesombongan. Jangan heran, bila mahasiswa sekarang dengan fasih mengeritik Imam Syafi’i atau Imam Al-Ghazali. Tepat sekali apa yang disampaikan Oleh Syaikh Zainuddin Abdul Madjid dalam wasiatnya,

BACA JUGA  Kwarda Pramuka NTB,Diharapkan Dukung Program Unggulan NTB.

Aduh sayang,

Pemuda sekarang berlenggak lenggok

Berasa diri gagah dan elok

Ulama Aulia diolok-olok

”Belum bertaji sudah berkokok”

Berbekal info dan ilmu copas di google sebagian sudah berani meremehkan ilmu para ulama. Ilmu ulama dituduhnya kadaluarsa. Tafsiran masa lampau tidak relevan dengan era modern. Fiqih klasik tidak akan mampu menjawab persoalan kontemporer. Padahal 1 kitab turats belum tentu mereka pernah baca apalagi kuasai.

Pada masa klasik, sanad atau trasmisi ilmu sangat berpengaruh dalam menguji kepakaran eseorang. Orisinalitas ilmu dirawat dan dijaga sedemikian ketat. Hari ini berbekal tontonan video ceramah youtube dan baca meme dan copasan artikel, netizen sudah berlagak fuqaha. Padahal masih juhala. Juhala berasa Fuqaha.

Para mahasiswa itu tidak takut mengucap kata-kata kasar terhadap para ulama salaf. Para sahabat pun tidak jarang dilecehkan kehormatannya. Contoh kasus, mereka mengekor para Orientalis yang meragukan orisionalitas Al-Qur’an dan Al-Hadits. Oleh karena itu mereka sangat mendukung ide ”Dekonstruksi Al-Qur’an” atau ide pembacaan dan penafsiran ulang kitab-kitab klasik. Mereka membeo para orientalis yang menentang segala hal yang absolut. Betapa sangat lucu, mereka mengapresiai kaum Kuffar dengan menghina ulama-ulama Islam. Padahal kaum orientalis itu berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum Muslim, bahwa al-Quran adalah Kalamullah, bahwa al-Quran adalah satu-satunya Kitab Suci yang suci, yang bebas dari kesalahan.

Aduh sayang,

Baru saja mendapat ijazah

Menyangka diri sudah ’allamah

Tidak menghirau guru dan ayah

”Mencabik mudah menjahit susah”

Cendekiawan muslim Dr. Adian Husaini merasa miris melihat fenomena ini. ”Semestinya, sebagai orang yang mengaku Muslim, tentu ayat-ayat al-Quran itu menjadi pegangan hidup dan pedoman berpikirnya. Sebab, al-Quran adalah landasan utama keimanan seorang Muslim. Jika tidak mau mengakui kebenaran al-Quran, untuk apa mengaku Muslim! Konsistensi berpikir semacam ini sangat penting, sehingga tidak memunculkan kerancuan dan ketidakjujuran dalam beragama. Bagi kaum Kristen yang percaya Injil, tentu akan menolak al-Quran. Itu sudah normal dan wajar. Aneh, kalau seorang tetap mengaku Kristen, tetapi pada saat yang sama juga mengaku percaya kepada kenabian Muhammad saw dan kebenaran al-Quran.” rilisnya dalam sebuah artikel beliau di Hidayatullah.com

BACA JUGA  Hadist Hari Ini Kamis 02 Jumadil Awwal 1442

Ilmu itu menurut Wahb bin Munabbih bagai air hujan. Ia turun dari langit manis dan suci. Lalu ia dihisap oleh akar-akar banyak pohon hingga berubah sesuai dengan rasa buahnya. Bila pahit, maka akan bertambah pahit. Bila manis, akan semakin manis. Demikian juga ilmu, tergantung motivasi dan perangai orang yang menuntutnya. Orang yang sombong bertambah sombong. Yang tawadhu’ semakin tawadhu’. Ini karena orang yang dulunya bodoh lalu termotivasi oleh kesombongan, ketika memperoleh ilmu, dan ternyata dapat diandalkan sebagai prestisenya, semakin sombonglah ia. Adapun yang berhati-hati dengan ilmunya, ketika ilmunya bertambah dan ia sadar hajatnya pada ilmu telah terpenuhi, ia makin berhati-hati.

Ilmu yang hakiki adalah ilmu yang sejauh mana ia diraih, semakin mendekatkan kepada Allah, bukan malah menjauh. Semakin dalam diteliti, makin dalam pula cintanya pada-Nya. Semakin berhasil mengidentifikasi hal-hal yang baru, semakin besar kekaguman pada-Nya. Goresan tangannya mengajak mengenal Allah. Uraian kata-katanya menggambarkan ketawadhuan.

Ilmu yang hakiki merupakan kendaraan pribadi menuju taqwa. Ia seolah payung pelindung dari derasnya godaan dunia yang fana. Ia melahirkan keberanian terhadap kebatilan penguasa namun melahirkan ketakutan kepada Sang penguasa sejati. ” Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama”(QS. Fatir: 28).