Khotbah idul adha: menjemput keberkahan dengan ketakwaan dan kedermawanan

Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar walillahilhamd.

Jamaah shalat idul adha yang dimuliakan allah,

Alhamdulillah, kita bersyukur atas segala nikmat yang terus tercurah kepada kita. Di antara sekian banyak nikmat tersebut, yang paling utama adalah anugerah kekuatan iman dan islam dalam setiap pribadi kita. Shalawat dan salam tak lupa kita sampaikan kepada figur teladan umat manusia, baginda nabi besar muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga kita semua yang hadir di tempat mulia ini kelak terpilih mendapat syafaat dan dapat berjumpa dengan beliau di telaga al-kautsar. Amin ya rabbal ‘alamin.

Hadirin yang dicintai allah,

Tahun ini kita kembali bersimpuh dalam sukacita menyambut idul adha. Perintah kurban adalah wujud syukur kita atas begitu banyak nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah al-kautsar ayat 1-2:

إِنَّاۤ أَعۡطَیۡنَـٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ . فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ

Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena tuhanmu; dan berkorbanlah.

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan rasa syukur. Hewan kurban yang kita sembelih adalah bukti kepedulian sosial kita agar saudara-saudara di sekitar kita dapat menikmati lezatnya daging kurban, menambah gizi, dan semakin kuat dalam beribadah.

Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar walillahilhamd.

Jika kita menengok sejarah, syariat ini berawal dari keteguhan nabi ibrahim ‘alaihissalam saat diperintah menyembelih putra tercintanya, ismail ‘alaihissalam. Dialog luar biasa ini diabadikan dalam surah as-saffat ayat 102:

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظURْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.

Jamaah yang dirahmati allah,

Mungkin di antara kita ada yang bertanya-tanya, “bagaimana jika tahun ini saya belum mampu membeli kambing, sapi, atau unta?”

Ketahuilah, inti dari ibadah kurban adalah melatih jiwa kedermawanan dan membunuh sifat kikir dalam diri. Jika harta belum mencukupi untuk membeli hewan ternak, janganlah berkecil hati. Kita masih bisa berkurban dengan apa saja yang kita miliki sesuai batas kemampuan kita—bisa dengan tenaga kita untuk membantu sesama, dengan pemikiran yang membawa maslahat, atau dengan harta sekecil apapun untuk meringankan beban orang lain. Allah tidak melihat besar kecilnya nominal, tapi allah melihat keikhlasan hati untuk berbagi.

Sebab, allah subhanahu wa ta’ala menegaskan dalam surah al-hajj ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

Daging-daging ternak dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya.

Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar walillahilhamd.

Sebagai penutup, lihatlah betapa syariat ini penuh berkah. Jutaan hewan dipotong setiap tahun, namun populasinya tidak pernah habis. Inilah bukti bahwa apapun yang terkait dengan agama akan dijaga dan diberkahi oleh allah.

Marilah kita jalankan hidup sesuai aturan agama agar allah benar-benar menyayangi dan membela kita. Semoga kurban kita—baik berupa hewan, tenaga, maupun pikiran—diterima oleh allah sebagai bukti ketakwaan yang tulus.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA