HARTA DIRI SENDIRI Oleh: Dwi Handoko Saputro, S.Pd

banner post atas

Manusia sering mendengar kata “harta”, bahkan menjadi prioritas utama di kehidupan sehari-hari. Banyak sebagian orang bilang tanpa harta manusia tidak akan bisa hidup senang dan sejahtera. Apakah perkataan sebagian orang benar? Apakah harta membuat orang senang? Apakah harta dapat menemani orang di akhirat kelak? Marilah, sama-sama kita simak percakapan berikut, antara Dedy dan Dwi di ruang tamu;

Dedy : “Hallo,…wi!”, “gimana kabarnya…?”

Dwi : “Alhamdulillah..baik”, “gimana kabarnya juga?”

Iklan

Dedy : “Alhamdulillah..sehat”, masih ingat tidak waktu kita kuliah dulu?”

Dwi : “Masih ingat, dulu kita kemana-mana berdua sampai mo cari pacar juga berdua”.

Dedy : “Ha..ha..ha..,” bisa aja…kamu!”, iya..iya..”, terus sekarang kamu kerja dimana, wi?”

Dwi : “Di sekolah instansi pemerintahan,” kalau kamu, ded?”

Dedy : “Saya menjalankan usaha laundry, ya..lumayanlah.”

Dwi : “Emang kamu, itu..ded,” punya jiwa bisnis dan semangat pantang menyerah,sampai pernah bangkrut tapi bangkit lagi, salut saya..!”

Dedy : “Lho,..!” emang harus begitu,..wi!” kita harus semangat terus penuh kenyakinan, karena itu bagian dari harta diri kita sendiri yang paling berharga dan senjata paling ampuh untuk sukses, dari dulu saya tidak ingin kerja di instansi pemerintahan yang terikat oleh waktu, berangkat jam 6 pagi pulang jam 4 sore. Terus Sabtu-Minggu untuk istirahat dan buat keluarga cuma sebentar itupun kalau ada waktu, kalau ada keluarga yang sakit atau meninggal harus izin…ini…itu, itupun kalau diizinkan, dan saya juga punya keturunan keluarga dagang, jadi sudah ada darah dagang dalam diriku, dan anak saya kalau sudah besar saya suruh jadi seorang pengusaha, saya tidak mau anak saya kerja didalam instansi pemerintah.”

Dwi : “Mantul,..benar!”

Dedy : “Begini,..lho, pak,” kita itu memmiliki harta yang terpendam dalam diri kita sendiri, tetapi kadang sebagian orang belum dapat mengeluarkan dan menggunakannya, padahal itu senjata paling ampuh dalam melawan kemalasan atau keputus asaan.”

BACA JUGA  Surat Syaikhul Azhar Terkait Corona

Dwi : “Senjata apa itu,…Ded?”

Dedy : “Pertama, kenyakinan atau keimanan qolbu, yang diperoleh dari pengalaman belajar spiritual yang dibimbing seorang guru”. Kedua, Ilmu yang berasal dari pengalaman nyata hasil dari usaha yang jatuh/bangkrut tetapi berusaha lagi untuk bangkit berusaha tanpa putusa asa, itu pengalaman yang paling berharga sebagai harta tak ternilai dari diri kita”. Ketiga, do’a atau sholat dhuha setiap hari dan puasa senin-kamis jika kuat, karena itu sebagai pendorong kenyakinan atau keimanan kita kepada sang pencipta”. Keempat, sedekah ilmu atau harta yang diperoleh dari usaha kita, makanya saya juga sebagai motivator teman-teman usaha, ini yang paling banyak hambatannya karena terkendala waktu, harus butuh waktu yang agak lama karena harus dapat mempraktikkannya, sedekah ilmu,…kan, hal yang sangat dicita-citakan manusia, apalagi menyebarkannya, karena amalan yang tidak akan hilang sampai akhirat adalah ilmu yang bermanfaat, karena tidak akan berhenti pasti akan disebarluaskan oleh teman-teman dan yang menyebarluaskan juga pasti dapat pahala sampai akhirat,”…begitu, pak?”

Dwi : “Sekarang dedy masih suka puasa Senin-Kamis, tidak?”

Dedy : “Ini ingin mulai lagi puasa saya, kemarin soalnya saya masih kurang fokus, makanya dimasa pandemi ini saya berusaha puasa Senin-Kamis lagi, semoga kuat dan saya juga ingin mengamalkan amalan dari guru waktu itu”.

Dwi : “Aamiiin…?”, “Ingat ded!”, amalan yang dalam kitab suci jangan mengamalkan amalan yang dicatut aja, karena kalau amalan yang dicatut harus didampingi dari seorang guru, lebih bagus lagi amalan kitab suci dengan mengahafal surat yang ada di kitab suci, contohnya, menghafal surat Yasin dalam kitab suci, masukkan hafalan tersebut dalam qolbumu harus benar-benar diresapin jika sudah menyatu dalam qolbu insya Allah pada saat kita lapar dan haus duniawi akan hilang”.

BACA JUGA  KEADILAN TERHADAP DIRI SENDIRI Oleh : Dwi Handoko Saputro, S.Pd

Dedy : “Ok!”,…”akan saya coba, insya Allah, kuat?”.

Dwi : “Aamiiin,…!”.

Dari percakapan diatas, dapat kita simpulkan bahwa harta diri sendiri adalah kenyakinan atau keimanan yang kuat yang dibarengi dengan niat usaha keras sehingga melahirkan semangat kuat menuju kesuksesan dunia-akhirat, dan tidak lupa juga diikuti dengan do’a (sholat dhuha) sebagai pendorong kesuksesan untuk dapat bersedekah baik harta maupun sedekah ilmu kepada orang lain. Sedekah ilmu ini yang paling banyak godaannya karena seperti orang yang berdakwah, seperti baginda Rasullullah pada saat berdakwah sering dihina, itulah sebabnya mengapa sedekah ilmu tidak akan hilang sampai akhirat karena manusia meneruskan dakwah dari baginda Rasullullah dalam arti ikut menyebarkan ilmunya menuju surga-Nya sang pencipta.

Marilah, bersama-sama kita sebagai manusia untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat bagi orang sebagai bekal amalan manusia diakherat kelak. Teguhkan keimanan dalam qolbu kita sebagai harta yang terpendam dalam diri manusia dengan ilmu dan pengalaman belajar dari seorang guru dan sebarkanlah ilmu kepada orang lain karena manusia yang bermanfaat adalah manusia penyebar ilmu kepada manusia lain.