AYAHKU, SEORANG GURU NGAJI (Sebuah Memoar) Oleh: M. Rusli Naair, S.Pd.I

banner post atas

Ada satu profesi yang amat mulia telah dilakoni ayahku, yaitu sebagai guru ngaji al-Qur’an. Nabi Muhammad saw. sendiri memuji orang yang menekuni profesi ini. Sabda beliau, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.” (al-Hadits).

Ayahku memang tak pernah sekolah formal. Beliau tidak bisa baca tulis aksara Indonesia. Dan saya sempat bertanya, mengapa ayah tak sekolah?. Jawabnya, karena himpitan ekonomi dan kakek saya sudah lansia. Berharap pada 12 kakaknya tak mungkin, karena mereka memiliki anak yang rata-rata banyak.

Tapi, meski ayahku tak menempuh pendidikan formal. Namun dipastikan beliau pandai mengaji al-Qur’an dengan fasih sejak kanak-kanak. Bahkan selain itu, beliau mempunyai keahlian yang tak terpublikasi yaitu bisa membaca tulisan Arab Melayu.

Iklan

Kitab-kitab melayu beliau sampai sekarang masih ada dan masih saya simpan. Di antara kitab koleksiannya adalah kitab “Perukunan” (Kitab sifat dua puluh) dan kitab “Bidayah”.

Dengan dua keahlian ayahku itulah, maka menjadi modal penting baginya untuk mengajar saya ketika masih kecil dulu. Saya belajar pertama ngaji al-Qur’an sama beliau. Dan saya pandai membaca aksara Arab Melayu juga dari beliau.

Khusus profesi ayahku sebagai guru ngaji al-Qur’an. Memang benar beliau sebagai guru ngaji. Di antara muridnya adalah saya sendiri dan Sahri bin Duhalel alias Amaq Kake Kaleng, atau anak dari saudari ayahku bernama Si’ah.

Dan -memang- profesi ini tidak lama beliau geluti selama hayatnya. Bukan karena beliau tak mau dan tak jemu, tapi sebab kita (muridnya) yang tidak betah dan tidak berani diajar beliau. Ternyata, beliau mengajar kami mengaji dengan ganas sekali. Rata-rata guru ngaji di Bilekere zaman itu, ganasnya minta ampun.

BACA JUGA  KHUTBAH JUMAT EDISI, 3 JULI 2020 SEMUA MEMBUTUHKAN BIMBINGAN

Saya sendiri yang anak kandungnya, diajarnya dengan tanpa ampun dan tak ada kompromi kalau tidak bisa mengeja. Saya dibentak, saya dicubit paha, bahkan dipukul pakai sabuk. Lebih dari itu, teman saya ngaji si Sahri malah lebih parah lagi. Lebih dari itu, dia tonjok-tonjok badannya pakai “Penuding”, diludahi mulutnya, dan bahkan sampai dilempar ke halaman rumah.

Karena sistem ngajar ngajinya terlalu ganas, maka saya pindah mengaji ke kakak Mahmud, termasuk misanku. Meski ngaji di sini juga sama bengisnya, tapi ditangannya saya bisa khataman. Sementara si Sahri berhenti mengaji. Dia lebih memilih menganggur.

Saat transmigrasi ke Kalimantan Tengah ayahku dipercaya oleh tetangga-tetangganya untuk mengajar putra-putri mereka. Ayahku pun lagi menjadi guru ngaji. Dan terkenal waktu itu ayahku bisa mengajar al-Qur’an, sehingga orang-orang pun berbondong-bondong menyerahkan anaknya mengaji. Seingat saya, muridnya sampai lebih dari sepuluh orang.

Tapi, gaya mengajarnya ayahku tak berubah, seakan dicopy paste caranya yang di Lombok. Namun beruntungnya saat itu, saya sudah bisa mengaji dan khatam al-Qur’an. Maka, saya yang mengimbangi dan sekaligus sebagai asisten pribadinya. Saya menjadi guru pilihan bagi mereka yang takut diajar ayahku.

Yang amat berkesan bagi saya dari sosok ayahku dalam hal ini, adalah betapa beliau sangat perhatian dengan keahlian anak-anaknya untuk bisa membaca al-Qur’an. Meski kami berhenti mengaji sama beliau, tapi kami dicarikan guru lain, dan setiap selesai shalat Isya’ kami ditanya, benarkah tadi pergi mengaji?.

Lebih dari itu, kalau ada waktu luangnya dan tidak kecapekan karena kerja, beliau mengetes kita mengaji. Sebuah perhatian yang amat besar. Dan alhamdulillah, buah dari perhatian itu, maka kami semua anaknya bisa membaca al-Qur’an.

BACA JUGA  Prof Harapandi: Berharap Syafa’at Nabi

Semoga ikhtiar ayahku sebagai guru ngaji dan perhatiannya kepada kami, menjadikan beliau memperoleh predikat insan terbaik seperti hadis Nabi Muhammad saw. di awal tulisan ini.

Dan semoga pula dengan ini tertunaikanlah kewajiban beliau kepada kami putra-putrinya sebagai mana dalam sebuah hadis, “Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara: mencintai nabi, mencintai keluarga nabi dan membaca al-Qur’an.” (HR. at-Thabrani).

Wa Allah A’lam!

Mataram, 08 Maret 2020 M.