.
Bab 1: Aroma Kopi dan Sketsa Senja
Nea menemukan kedamaian dalam rutinitas sorenya di Safe Coffe. Sebuah kafe di tengah kota yang nyaman, terletak di pojok jalan, selalu dipenuhi aroma kopi yang menguar hangat. Jendela besarnya menghadap ke barat, menawarkan pemandangan senja paling memukau di kota. Itu adalah tempat favoritnya, tempat di mana imajinasi bebas meliar dan jari-jarinya menari di atas sketchbook.
Sore itu, kanvas di luar jendela adalah mahakarya alam: gradasi jingga, merah muda, dan ungu berbaur sempurna, seolah tumpahan cat air raksasa di langit. Nea tengah asyik mengabadikan siluet gedung-gedung Jakarta yang menjulang, memberi sentuhan magis khasnya—mungkin seekor naga yang meliuk anggun di antara awan, atau bintang-bintang yang sudah berpijar meski hari belum sepenuhnya gelap. Ia begitu tenggelam dalam dunianya, hingga suara deritan kursi yang ditarik tepat di meja depannya sedikit mengagetkannya.
Nea mendongak, matanya yang ekspresif bertemu dengan sepasang mata yang sama-sama menawan. Seorang laki-laki tersenyum tipis, sorot matanya ramah. Nea hanya mengernyitkan alis, dalam hati bertanya, ‘Siapa lagi ini? Jangan sampai mengganggu naga dan gedungku.’
“Maaf, apa aku mengganggu?” suara itu lembut, namun tegas.
Nea menggeleng cepat, sedikit salah tingkah namun dengan ekspresi datar yang khas. “Tidak, tidak sama sekali. Saya hanya sedang membangun peradaban baru di antara awan.” Ia segera menunduk, berusaha menyembunyikan sketsanya yang mungkin terlalu “khayalan” bagi orang kebanyakan, sekaligus mengakhiri interaksi yang tidak ia harapkan.
“Aku sering melihatmu di sini,” kata laki-laki itu, suaranya kini terdengar lebih santai, tak gentar oleh tanggapan Nea. “Selalu di dekat jendela. Menikmati senja?”. Ucap lelaki itu sambil melihat sketsa yang gagal disembunyikan Nea secara sempurna.
Nea mengangkat kepala lagi, kali ini dengan tatapan yang sedikit menantang. “Lebih dari itu,” jawabnya pelan, tangannya bergerak menunjuk samar ke arah sketchbook-nya. “Aku mencoba menangkapnya. Mengabadikannya. Tapi, saya yakin Anda lebih tertarik pada hal-hal yang lebih realistis.”
Laki-laki itu terkekeh pelan, tawanya renyah, seolah terhibur oleh jawaban ketus Nea. “Aku mengerti. Setiap orang punya caranya sendiri menangkap keindahan, ada yang terstruktur, ada juga yang… imajinatif.” Ia mengulurkan tangan. “Aku Kay, omong-omong.”
Nea menatap tangan yang terulur itu. Ekspresinya sedikit beku, seolah berpikir keras. Ia tidak menyambut uluran tangan Kay. “Maaf,” katanya datar, menarik tangannya sedikit ke dalam. “Saya Linnea, tapi saya rasa perkenalan tidak perlu dilakukan jika tidak ada urusan mendesak.” Tanpa menunggu reaksi Kay, Nea menutup sketchbook-nya, meraih cangkir kopinya yang tinggal separuh, dan berdiri. “Permisi.”
Ia berjalan cepat meninggalkan Kay yang masih duduk termangu, ekspresi senyumnya perlahan memudar menjadi keheranan. Kay hanya bisa melihat punggung Nea yang menghilang di balik pintu kafe, menyisakan aroma kopi dan parfume manis yang khas yang Nea gunakan. Di meja itu, di bawah langit senja yang perlahan berubah gelap, Kay terdiam. Gadis itu tidak hanya menolak perkenalannya, tapi juga pergi begitu saja, meninggalkan Kay dengan berjuta pertanyaan dan rasa penasaran yang membuncah.
Kay menatap keluar jendela, ke arah langit yang mulai bertabur bintang. Linnea. Nea. Nama itu bergema di kepalanya. Dia tahu, mendekati gadis ini akan menjadi momentum yang paling menantang dan menarik, jauh melampaui sekadar perhitungan beton dan baja yang mungkin dia bayangkan. Kay tahu dia harus mencari tahu lebih banyak tentang gadis berambut gelap dengan imajinasi liar dan “kesombongan” khas introvert itu.



