Akhirnya…kembali lagi kita ke ibukota kabupaten Bacan setelah melewati setidaknya 4 hari di berbagai pulau di Halmahera Selatan. Saya turun dengan sempoyongan karena baru bangun tidur dan harus langsung bersiap untuk turun. Kami sampai menjelang magrib kala itu, karena suara perut sudah tidak keruan, jadilah kami mampir makan dulu di pinggir pantai yang aduhai sajian ikan lautnya manis dan segar benar.
Esoknya kami menyusun banyak rencana. Kami harus merampungkan dan melengkapi banyak hal sebelum pulang ke Jakarta. Makanya pagi benar kita memulai hari. Tujuan pertama kami interview staf bansos bank yang menjelajah banyak pedalaman untuk memberikan bantuan kemensos. Sebab kalau tidak jemput bola kasian penerima bantuan Mereka pasti tekor karena batuan yang senilai kurang dari 1 juta itu bisa habis karena ongkos. lha, ongkos sewa perahu aja sudah 1 juta wkwkwk…
Saya pun makin terbiasa bukan hanya utk itvw tapi juga setting macam-macam untuk mendapatkan gambar yang bagus. Makanya kami benar-benar sampai pinjam perahu untuk memberikan gambaran bagaimana si staf ini melalui laut untuk menghampiri para penerima bantuan. Selama menunggu pengambilan gambar saya memililih menikmati birunya langit di Pulau Bacan ditemani dengan keceriaan anak-anak bermain bola. Setelah selesai, kami memutuskan untuk mampir ke pelabuhan. Ya ampun panas banget ini pelabuhan, sepanas atmosfer orang-orangnya yang baru dateng sudah kayak ditatap curiga gitu. Namun semua menjadi hangat, saat kami mengeluarkan kartu sakti kami wkkw..


Dari pelabuhan, nah ini gongnya, kita menuju Pantai Tawa. Ih lucu amet nama pantainya. Eits, jangan salah pantai ini bener-bener punya keajaiban yang serius. Ya, pantai ini punya sauna alami alias punya air yang hangat hingga panas. Wah gila sih baru tahu banget nih! Menariknya lagi, pantai ini cuma dikelola sama warga sekitar jadi kepemilikannya pribadi. Karena benar-benar penasaran, saya langsung mencoba menjejakkan kaki saya ke bibir pantai dan “ugh, anget kok!” dan makin lama makin menjauh airnya semakin hangat. Di sisi bagian lain justru terlihat asap membumbung akibat uap panas. Kami disarankan untuk mencoba merebus telur. Langsung kami eksperimen setelah sekitar 15 menit benar saja telur itu matang. Belum sempurna sih tapi sudah bisa dimakan dan rasanya asin-asin gitu karena bercampur dengan air laut. Wow magic banget kan!

Bukan cuma telur yang dicoba, tapi saya pun ikutan mencoba tapi bukan direbus ya, ya kali mateng dong nanti. wkwkkw…jadi saya cuma duduk di pinggiran batu gitu sambil setengah terlentang dan ya ampun, bokong langsung hot! berasa seksi karena kepanasan wwkwkwk…Kocaq! Sebenernya apa yang membuat pantai ini panas? Ternyata, hal ini karena lokasi pantai yang berdekatan dengan gunung api. Sehingga panas dari gunung berapi pun nyampe ke sini. Ini bukan menjadi satu-satunya pantai air panas di Indonesia, tetapi juga ada di Siau, Sulut. Nanti saya ceritain.

Maka jadilah, sensasi pantai ini benar-benar berbeda. Anak-anak ga bisa mandi sembarang karena bisa mateng kepanasan, dan kebanyakan yang ke sini orang-orang tua dengan berbagai gejala penyakit untuk berendam berharap lebih baik. Sayangnya potensi pantai air panas ini belum diperhatikan benar sama pemda padahal bisa jadi sumber energi sekaligus potensi pariwisata yang bisa mendunia. Yekan! Setelah selesai urusan di pantai ini, kami memutuskan untuk makan siang di kedai yang menyediakan sashimi lokal alias ikan mentah yang dibumbui sambal kacang dan air jeruk. Namanya Gohu.

Syok juga mencoba kuliner ini pertama kali, tapi lama kelamaan makin terbiasa dan nikmat juga. Penting banget lah cobain ini, gak usah takut karena ikannya segar kok jadi ga kena macem-macem juga. Setelah kenyang, kami bergerak mencari yakis, monyet endemi di Halmahera. Monyet itu dipercaya berkeliaran di sekitar markas TNI, katanya itu tempat nongkrong favorit para yakis. Makanya kita udah siapin banyak pisang buat si monyet berpantat merah ini. Tapi dasar nasib, kita gak ketemu sama kawanan yakis, boro-boro kawanan, seekor yakis pun gak ketemu. Lucunya selama nunggu yakis, kami udah melakukan berbagai cara, mulai dari menirukan suara yakis, lempar-lempar pisang ke tempat yang random sampai saking lelahnya para lelaki pada tidur-tiduran di tanah. Wkwkwk..

Kocaqnya lagi, karena sudah bosan, bocah-bocah ini mainan gym abal-abal naik naik tiang dengan muka seolah-olah fitnes profesional. Sampai akhirnya temen saya kecengklak dan mukanya sok-sok cool baru meringis pas di mobil. hahahah… saya sampe ketawa terduduk-duduk. Makanya jangan kebanyakan gaya! Team ini bener-bener bikin saya betah dan nyaman banget meski saya cewe sorangan. Keseruan kami berlanjut keesokan harinya, kami main-main di Ternate! Yuhuuu… tunggu ceritanya ya!

Jangan Ketawa! Bisa Lho Cobain Sauna di Pantai Air Panas Tawa




