Dalam Al-Qur’an al-Karim, tidak sedikit ayat-ayat Al-Qur’an yang mengisahkan kejadian atau peristiwa yang sulit diterima akal pikiran manusia biasa, tetapi peristiwa itu terjadi. Lihatlah kisah Ashab al-Kahfi , sekelompok pemuda yang tertidur selama ratusan tahun dalam goa; atau kisah Maryam sang wanita suci, ibunda Isa al-Masih yang melahirkan anaknya itu tanpa ayah; atau kisah Nabi Ibrahim `alaihissalam yang dibakar oleh Raja Namrud di atas api membara, namun sedikit pun tubuhnya tak terbakar.
Untuk karomah yang terjadi pada “ashhab al-Kahfi” (penghuni gua), disebut sbagai suatu kisah agung yang telah diabadikan oleh Allah dalam al-Qur`an al-Karim pada surat Al-Kahfi. Sebagaimana Allah subahanahu wa ta’ala berfirman :
إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
“Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan kami tambahkan pada mereka petunjuk.” (QS. Al Kahfi (18): 13).
Mereka ini (ashab al-Kahfi) sebelumnya hidup di tengah-tengah masyarakat yang kafir (dengan pemerintahan yang kafir), lalu mereka lari dari masyarakat itu. Dalam rangka menyelamatkan agama mereka, kemudian Allah melindungi mereka di dalam sebuah al- Kahfi (gua yang luas yang berada di gunung). Dan ketika Allah Subahanahu wa ta’ala telah selamatkan mereka di dalam gua tersebut, lalu Allah tidurkan mereka dalam waktu yang sangat panjang. Hal ini telah disebutkan dalam ayat berikut:
وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا
“Mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (QS. Al Kahfi (18): 25).
Adapun untuk kisah menarik dari Maryam sang wanita suci, ibunda Isa al-Masih yang melahirkan anaknya itu tanpa ayah, dapat kita perhatikan dalam firman Allah Subahanahu wa ta’ala berikut ini:
فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَامَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.”. (QS. Ali Imran: (3): 37)
Selain dua kisah diatas itu, diantara karomah para wali yang disebutkan dalam al-Qur’an al-Karim adalah kisah yang pernah terjadi pada Dzul Qarnain, yaitu seorang raja yang shalih yang Allah subahanahu wa ta’ala nyatakan dalam firman-Nya:
إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الأرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا
“Sesungguhnya kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi dan kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu”. (QS: Al-Kahfi : (18) :84)
Selanjutnya, diantara Karomah yang dikisahkan di dalam al-Qur`an juga adalah kisah yang terjadi pada kedua orang tua seorang anak yang dibunuh oleh Nabi Khidhir `alahissalam. Dalam hal ini, ia berkata kepada Nabi Musa `alahissalam dengan mengatakan:
أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ
”Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih padahal dia tidak membunuh orang lain?“ (QS.Al-Kahfi: (18):74).
Selanjutnya, Nabi Khidhir `alahissalam menjawabnya dengan mengatakan:
وَأَمَّا الْغُلامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَنْ يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا
“Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang yang mukmin dan kami khawatir bahwa dia akan menariknya kepada kesesatan dan kekafiran.” (QS: Al-Kahfi (18): 80)
Adapun gambaran karomah yang bersifat umum yang disinggung dalam al-Qur`an, yaitu apa-apa saja yang diberikan Allah Subahanahu wa Ta’ala berupa kemuliaan kepada Bani Adam. Dan Allah telah memberikan keutamaan yang lebih kepada manusia atas makhluk-makhluk lain yang ada di permukaan bumi ini. Di antara keutamaan-keutamaan tersebut, misalnya bentuk tubuh yang tegak, penciptaan fisik yang terbaik, akal pikiran, tutur kata, kemampuan mengatur dan memerbaiki kehidupan, ditundukkannya alam bagi mereka dan kemampuan untuk memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya dan lain-lainnya. Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman;
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آَدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan lautan, Kami beri mereka rezeki dari yanhg baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (QS.Al-Israa’ (17):70).
Selain itu, dalam al-Qur`an terdapat penyebutan karomah yang bersifat khusus, yaitu kemuliaan yang diberikan Allah Subahanahu wa Ta’ala kepada sebagian hamba-Nya, berupa hidayah kepada keimanan, serta memberi petunjuk kepada mereka untuk melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Keistiqamahan dalam hal keimanan dan ketaatan ini merupakan bentuk karomah yang paling besar. Mereka yang memiliki sifat seperti ini adalah golongan Ashhab al-Yamin (golongan kanan), sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subahanahu wa Ta’ala;
وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ
“Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu”. (QS.Al-Waaqi’ah (56):27)
Dalam ayat lainnya juga Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman;
وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ (90) فَسَلَامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ
“Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan”. (QS.Al-Waaqi’ah (56): 90-91).
Selain itu, ada ayat lainnya yang menyebutkan bahwa mereka disebut sebagai golongan al-Muqtashidun (golongan pertengahan), sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Subahanahu wa Ta’ala,
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dulu berbuat kebaikan dengan izin Allah”. (QS.Faathir (35):32)
Dan mereka termasuk orang-orang yang diberi kabar gembira berupa surga, sebagaimana yang difirmankan Allah Subahanahu wa Ta’ala,
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ . أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan,’Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal didalamnya;sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan”. (QS.Al-Ahqaaf (46):13-14).
Adapun diantara bentuk karomah yang paling utama dan disebutkan dalam al-Qur`an adalah karomah berupa keimanan dan sikap istiqamah, yaitu karomah yang diberikan Allah Subahanahu wa Ta’ala kepada sebagian hamba-hamba-Nya dengan menambah keimanan dan ketakwaan mereka, berupa sikap wara’, orang-orang yang jarang mengerjakan pekerjaan mubah (yang diperbolehkan). Orang-orang yang sering melaksanakan ibadah Shalat Nawafil (Sunnah), gemar bershadaqah, menjalin ukhuwah, berjihad, berpuasa, dan mengerjakan ibadah haji, mereka adalah orang-orang yang digambarkan dalam firman Allah Subahanahu wa Ta’ala sebagai orang-orang yang didekatkan kepada Allah (al-Muqarrabun) dan yang paling dulu masuk surga (as-Saabiquun),
وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ . أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ . فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ . ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ . وَقَلِيلٌ مِنَ الْآَخِرِينَ
“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). Mereka itulah orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan sebagian kecil dari orang-orang yang kemudian”. (QS.Al-Waaqi’ah (56):10-14).
Dan mereka juga merupakan orang-orang yang dimaksud pada firman Allah Subahanahu wa Ta’ala (Hadits Qudsi) yang tertuang dalam hadits riwayatnya al-Bukhari;
“Siapa yang menyakiti wali-Ku maka Aku telah memaklumatkan perang kepadanya. Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku, melainkan Aku pun mendekat kepadanya. Hamba-Ku selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku menjadi telinganya untuk mendengar, menjadi matanya untuk melihat, menjadi tangannya untuk memukul, dan menjadi kakinya untuk berjalan. Bila ia meminta (sesuatu) kepada-Ku, perlindungan-Ku, Aku pasti akan memberikan perlindungan pada-Nya. Aku tidak pernah merasa ragu terhadap apa yang Aku perbuat. Aku khawatir atas jiwa seorang mukmin yang membenci kematian, dan Aku benci menyakitinya, sedangkan hal itu (kematian) harus dihadapi”.




