1 Muharram Lagi

1 Muharram Lagi

Saya dan anda mungkin sama, sedang mencari makna 1 Muharram. Mungkin ngerasa juga merasa tiba-tiba sudah 1 Muharram, waktu berlalu begitu cepat. Pandemi covid-19 semakin tak menyadarkan kita, seorang muslim berada di bulan apa. Chemistry bulan Zulhijjah tahun ini benar-benar berbeda karenanya, begitu juga bulan Ramadhan dan perayaan idul Fitri lalu.
Kita sepertinya butuh pertanyaan radikal soal 1 Muharram. Kenapa kita perlu mencari makna? Apakah memang itu diperlukan? Kenapa perlu memperingati 1 Muharram? Pertanyaan yang ketiga sepertinya pertanyaan aneh, karena kita selalu menyambut tahun baru, 1 Januari setiap tahun. Lalu kenapa gak ngerayain 1 Muharram? Sepertinya harus ada nilai atau makna yang harus kita temukan dalam proses pencarian makna ini. Dan nilai atau makna tersebut harus dapat menghentakkan kesadaran kita nanti di 1 Muharram yang akan datang lagi. Ia kemudian harus menjadi semacam pengingat kita semua sekaligus penasehat kita nanti. Sehingga kita tak perlu mencari makna kembali setiap tahun baru hijriah, karena 1 Muharram adalah sebuah pesan, nilai, makna yang harus kita pikirkan. Tentu yang pas dalam hal ini, butuh pemaknaan baku adalah saya dan anda yang sering lupa soal bulan hijriah.
Jika kita pikirkan, salah satu pesan 1 Muharram yang tetap relevan sampai nanti adalah tentang waktu. Ia merupakan simbol 1 tahun berlalu. Biasanya juga, dalam benak kita, ia identik dengan kesadaran akhirat. Ini berbeda dengan bulan masehi yang nuansanya dunia. Ada banyak sekali kitab yang menarasikan pentingnya beribadah pada bulan-bulan tertentu, termasuk 1 Muharram. Hal ini yang mungkin mengkonstruksi kesadaran akhirat kita ketika mengingat bulan hijriah, tak terkecuali 1 Muharram.

Kenapa ia merupakan simbol 1 tahun berlalu? Tentu hal ini sederhana. Ini disebabkan karena orientasi hidup dan pandangan hidup seorang muslim. Waktu bagi setiap muslim di seluruh dunia adalah kesempatan dan suatu hari kesempatan tersebut akan diambil oleh tuhan. Setiap muslim akan kembali kepada tuhan dan akan diminta pertanggung jawaban atas tahun-tahun yang sudah dijalani. 1 Muharram bermakna sudah satu tahun kita jalani kesempatan.

Implikasi logis dari arti waktu kemudian adalah apakah kita lebih baik atau tidak. Kita hari ini adalah akumulasi dari masa lalu yang kita jalani. Kualitas kita hari ini menunjukkan usaha yang kita lakukan di masa lalu atau 1 tahun lalu. Sehingga, jika kita merasa biasa, mungkin kita tak terlalu memanfaatkan kesempatan waktu 1 tahun lalu. Secara otomatis kemudian, kita adalah bagian dari orang yang merugi sebagaimana penjelasan Al Quran. Namun, jika hari ini kita tidak merasa merugi, merasa biasa saja walaupun tahu makna 1 Muharram, mungkin ada masalah besar dalam diri kita.

Seharusnya ia menghentakkan kesadaran kita. Umur kita terus bertambah sedang kita masih banyak ruginya. Jika menggunakan kaca mata fikih, kita pasti masuk neraka karena timbangan kita berat ke kiri, kita banyakan rugi. Karena hal ini kemudian penting memikirkan makna 1 Muharram. Mungkin kita banyakan lupa kepada pencipta kita sendiri. Kesibukan dunia telah membuat hijab diri dengan tuhan sendiri. Bukannya makin lebih dekat kepada tuhan, malah makin jauh. Kesibukan 1 tahun lalu sepertinya mengesampingkan orientasi personal seorang muslim sehingga tuhan tidak semakin dekat.

Tulisan ini tentu terlalu singkat untuk menjelaskan. Namun semoga menjadi salah satu hal yang membantu kita. Dan tentu kita bisa berbeda dalam memaknai momentum ini. Terpenting adalah segala pemaknaan itu hendaknya membuat kita lebih dekat kepada tuhan. Ia mampu menyadarkan kita, lalu mampu menggerakkan tubuh kita masing-masing untuk dekat kepada-Nya. Hidup seorang muslim tak hanya untuk dunia, namun lebih dari itu, ia tembus ke akhirat.

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA