Zulkarnaen :Agama Saintifik, Sains Religius

0
183
banner post atas

Saya bingung mulai dari mana untuk memulai narasi soal judul tulisan ini. Apa yang akan saya tulis mungkin hanya pengulangan saja dari dialog judul tulisan ini tadi malam. Dialog ini saya tidak tahu jam berapa dimulai, karena saya menonton rekamannya di youtube jam dua dinihari. Dan tentu tidak ada orang Indonesia melakukan acara jam segitu.

Dialog ini dihadiri oleh banyak sekali peserta di zoom. Saya melihat hingga 3 ribu lebih viewer di youtube juga. Saya pikir, ini menunjukkan bahwa memang tema dialog tadi malam sangat menarik. Seperti apa yang disampaikan oleh kedua pembicara, baik Mas Haidar Bagir dan Gus Ulil bahwa tema dialog tadi malam sedang mendapatkan momentumnya lagi hari ini. Sebenarnya soal Agama Saintifik, Sains Religius sudah lama diskursusnya, bukan mulai hari ini. Seperti yang ditenggarai Gus Ulil bahwa diskursus ini kembali ramai di publik disebabkan oleh terbitnya buku Out-Growing God karya Richard Dawkins dan Homo Sapiens karya Yuval Noah Harari. Menurut Gus Ulil, kedua buku tersebut dapat membentuk cara pandang kita yang deterministik-sains untuk menjelaskan kehidupan.

Sehingga agama menjadi sesuatu yang tidak dibutuhkan. Manusia cukup dengan sains untuk menjelaskan kehidupannya. Richard Dawkins menyebut orang yang beragama kemudian sebagai orang yang gagal dewasa. Menurutnya beragama hanyalah fantasi lanjutan dari fase anak-anak. Sebagaimana anak-anak, mereka butuh figur sebagai tempat bersandar. Tuhan dalam konteks menjadi figur berikutnya ketika berumur dewasa. Secara tidak langsung, tuhan bagi Dawkins hanyalah imajinasi kita semata. Bagi Dawkins, kita tidak butuh agama dalam menjelaskan kehidupan. Hal ini ditegaskan oleh Gus Ulil bahwa Dawkins benar-benar mendakwahkan ateisme.
Saya ingin ringkas saja inti dari dialog tadi malam. Sebenarnya banyak hal yang menurut saya baru yang saya dapatkan dari dialog tersebut, termasuk dari mederatornya juga, Habib Husen Ja’far. Baik pembicara dan moderator, saya perhatikan memiliki wawasan yang sangat luas soal ini dibanding saya setelah mendengar mereka tadi malam.

Iklan

Jadi bagi saya inti dari dialog tadi malam adalah semestinya kita tidak menghadap-hadapkan Agama dengan Sains, apalagi sampai mengatakan mereka saling bunuh. Agama dan Sains adalah anugrah tuhan yang diberikan kepada manusia yang keduanya memiliki poksi-poksi tersendiri dalam membantu kehidupan manusia. Keduanya adalah dua jalan yang tidak salah dalam mencari kebenaran. Dalam hal ini mungkin sangat pas kita meletakkan apa yang dikatakan Rumi soal kebenaran bahwa kebenaran ibarat kaca yang pecah di dunia, manusia masing-masing membawa pecahan kebenaran itu.
Dalam hal ini, kita butuh keterbukaan satu sama lain untuk saling mengisi sebelum menghadap-hadapkan. Kita butuh dialog terus menerus untuk memastikan kita tidak miskomunikasi. Kita seringnya bermasalah tanpa tahu persoalan yang sebenarnya.

Semoga apa yang saya tulis ada manfaatya bagi para pembaca. Tentu tulisan singkat ini tidak mampu menarasikan semua pembicaraan di dalam dialog tadi malam. Namun saya pikir, cukup kiranya saya menarasikan inti dari dialog itu karena memang inilah yang menjadi inti pembicaraan. Terima kasih