Menggeret Pandangan Orang oleh Zulkarnaen

banner post atas

Kita mungkin pernah mempercayai air laut naik ketika beberapa menit lalu terjadi gempa yang cukup besar. Ini pernah terjadi di tempat saya, Lombok agustus 2018 yang lalu. Ada salah satu teman saya yang sudah jauh sekali dari rumahnya ketika beredar informasi air laut naik. Infonya juga bahwa banyak dari masyarakat yang bermukim sekitaran laut sudah meninggalkan rumahnya karena info tersebut. Info berikutnya, sekitaran sejaman kemudian banyak masyarakat mengalami pencurian pasca kembali ke rumah masing-masing. Tulisan ini saya  mulai dengan contoh ini, saya pikir mudah dipahami dalam menjelaskan bagaimana akal membenarkan sesuatu secara otomatis jika sudah menganggap informasi yang masuk dalam akal kita anggap benar—akan ada kebenaran lain berikutnya yang akan kita percayai secara otomatis atau yang disebut sebagai premis—banyak orang mempermainkan logika kita.

Disebut dengan teori koherensi. Di buku Filsafat Ilmu karya Dr. Zaprulkhan, kita akan menemukan pembahasan soal teori ini, tepatnya pada pembahasan teori kebenaran. Di buku ini, kita akan menemukan definisi yang namanya kebenaran dan alat-alatnya. Konteks penulis buku tersebut adalah menjelaskan bagaimana manusia menganggap sesuatu itu benar atau tidak benar—meskipun dijelaskan secara explisit. Salah satu teori kebenaran itu adalah teori koherensi. Sesuatu itu benar jika sesuai dengan premis yang dipercayai, semisal saat merasakan gempa yang cukup besar lalu ada orang mengatakan air laut naik. Tentu ini masuk akal dan untuk banyak orang kemudian mempercayai sunami itu fakta. Inilah yang disebut sebagai teori koherensi—banyak orang mengukur kebenaran dengan teori ini baik secara sadar atau tidak.

Menurut Imanuel Kant, cara manusia membenarkan sesuatu termasuk teori ini adalah semacam satu paket lengkap dari akal—akal bagi Kant memiliki bawaan alami semisal teori koherensi, sehingga banyak manusia di dunia ini mudah mempercayai sesuatu jika sudah koheren atau masuk akal. Untuk kelompok-kelompok tertentu semacam Nazi pernah memanfaatkan paket tersebut untuk meyakinkan banyak orang, bahkan tak hanya itu, mereka pernah  meyakinkan orang-orang untuk meyakini kebohongan sebagai kebenaran. Mereka sudah menemukan caranya!

Iklan
BACA JUGA  Muscab NW Keruak : H.L.Asmawadi Efendi,M.Pd, Terpilih Pimpin Cabang NW Keruak, Masa Bakti 2021-2026.

Jika kita mau lebih perhatikan kembali, mungkin kita pernah menjadi bagian semacam dari banyak orang yang pernah diyakinkan oleh Nazi. Mungkin pernah, orang-orang yang tidak kita kenal melalui media meyakinkan kita dengan memanfaatkan apa yang kita anggap benar lalu mereka menawarkan sesuatu yang masuk akal dan kita mempercayainya, layaknya seseorang mengatakan sunami setelah gempa besar. Apa yang kita percaya kemudian akan menjadi referensi keputusan dalam hidup kita dari hal yang paling sederhana sampai yang rumit sekalipun. Coba perhatikan lagi bagaimana media sosial mempengaruhi kita dan sontak kita berubah karenanya.

Sehingga sebenarnya bisa saja apa yang menurut kita masuk akal, namun ia tidak ada dalam realitas. Beberapa teman saya tak langsung mempercayai informasi sunami itu, mereka lebih memilih mengkonfirmasi kebenarannya walau sunami itu rasional setelah gempa. Teori korespondensi mereka menyebutnya—sesuatu itu benar jika ia sesuai dengan fakta, ia merealitas. Teori ini tak kalah penting dari teori koherensi yang menjadi sistem rasionalitas barat. Benar berarti ada dan fakta, ia harus bisa disaksikan oleh panca indra. Sehingga ukuran benar tidaknya adalah panca indra.

Apa yang ingin disampaikan dalam tulisan ini bahwa banyak orang yang berusaha untuk membentuk kepercayaan kita dengan memanfaatkan apa yang kita anggap sebagai suatu kebenaran. Terlebih jika kita berada di tengah kepentingan orang-orang tertentu semisal para politisi, mereka pasti berusaha membuat kita yakin. Mereka memanfaatkan media sosial. Facebook misalnya tercatat mampu menggeret pandangan orang tentang apa yang diinginkan oleh mereka yang punya kepentingan. Di balik informasi, rentan akan kepentingan orang di belakangnya. Mereka bahkan menggunakan banyak cara, tak hanya rasionalitas kita, namun membentuk percaya kita dengan memanfaatkan perasaan kita, ideologi dan lain seterusnya. Jangan mudah percaya!?

BACA JUGA  Ini Rundown Acara Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI, Tanggal 20 Oktober 2019.