TGB KULIAH DI AL-AZHAR (Impian Ummuna & Direstui Maulana)

0
196
banner post atas

Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa
Jejak pengembaraan TGB menuntut ilmu ke Al-Azhar Cairo Mesir, bermula dari keprihatinan dan perhatian cermat seorang Ummi kepada anaknya.

Alkisah, pada saat TGB masih tingkat satu Ma’had Darul Qur’an wal Hadis (MDQH NW) Pancor, mulai banyak misannya yang mengajak bergaul. Sebuah pergaulan yang menurut pencermatan Ummi sudah mulai melalaikan dan banyak main-mainnya.

Atas dasar itulah, maka Ummi Rauhun yang waktu itu sedang menjadi Kepala Madrasah Muallimat menghatur ke ayahandanya, yakni Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid Pancor.

Iklan

“Kepingin sekali tiang (saya) kuliahkan M. Zainul Majdi di Al-Azhar. Meski dia tidak tamat Ma’had. Supaya ia segera fokus belajar.” Kata Ummi mengutarakan impiannya kepada al-Magfurulah.

Sampai di sini, mungkin di antara kita ada yang bertanya. “Kenapa TGB tidak melanjutkan di Shaulatiyyah seperti halnya Sang Kakek?”.

Atau pertanyaan lainnya, “Kenapa tidak mengikuti jejak kakeknya menjadi bintang cemerlang di Shaulatiyyah?.”

Pertanyaan yang sama juga ditanyakan oleh Maulana Syaikh kala itu kepada Ummuna Hj. Siti Rauhun Zainuddin Abdul Majid.

Apa jawaban Ummuna?

Jawaban singkatnya, karena sudah kadung sejak awal Putri Sulung Maulana itu telah berazam untuk kuliahkan putranya di Universitas kiblat ilmu-ilmu Islam di Cairo Mesir.

Mendengar alasan putrinya, Sang Pahlawan Nasional pun menyetujui pilihan buah hatinya.

Bahkan lebih dari itu, Maulana Syaikh merespon dengan sangat positif. Sebuah respon yang membangkitkan semangat untuk menuntut ilmu ke Al-Azhar Cairo Mesir yang barakah itu.

“Oo.. ya, Al-Azhar itu adalah sekolah tertua di dunia. Sekolah paling bagus di dunia. Karena kitab-kitab yang tidak ada di luar, ada di Al-Azhar.” Kata Maulana Syaikh mengakui kualitas Al-Azhar.

Dari dialog Ummuna dengan Sang Maulana tersebut, kita bisa mengambil simpulan dan pelajaran yang penuh arti dan makna. Apa itu?

Pertama, menjadi orang tua (terlebih ibu), hendaklah seaktif mungkin mengawasi perkembangan dan pergaulan buah hatinya. Hanya ibu yang paling intens bersama anak-anaknya. Selain itu, menjadi ibu jangan pernah takut bermimpi. Layaknya Ummuna yang memimpikan TGB bisa kuliah ke Al-Azhar.

Impian dan proteksi seorang ibu bisa menjadi doa yang tak terucap, kalimat yang tak bersuara, tapi bisa sangat ampuh dan bertuah. Bukankah, Allah sangat ridha kepada seorang anak bila ibu kandungnya telah meridhai?.

Kedua, jejak dan perkembangan pendidikan TGB diketahui dan terpantau di bawah pengawasan seorang Wali Qutbul Aqthab Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid, sang kakeknya sendiri.

Apa buktinya?

Di antaranya, seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, bahwa TGB diloncat naik kelas saat Muallimin, adalah satu keputusan dari Kepala Sekolah dan guru-gurunya yang diketahui dan direstui oleh Maulana.

Demikian pun, saat TGB hendak dikuliahkan ke Al-Azhar, ini juga diketahui dan disetujui oleh Niniknya seperti percakapan di atas. Diketahui Maulana, karena Ummuna melibatkan restu ayahandanya.

Pendidikan TGB terpantau oleh Maulana Syaikh, dengan bukti cerita TGB sendiri di sebuah buku bernama “TGB Nomic”.

Di buku itu, TGB bercerita bahwa sering kali Niniknya, bertanya tentang dirinya dan pendidikannya. Hanya saja –memang– Maulana Syaikh tidak mempublikasi secara vulgar.

Mungkin kita bertanya, mengapa Maulana Syaikh tidak menceritakan kelebihan TGB di depan jamaah, seperti halnya kepada cucunya yang lain?

Sikap Niniknya yang “menyembunyikan” dirinya itulah yang saat ini sangat disyukuri TGB. Dengan sikap Maulana yang menghindarkan TGB dari memukaukan jamaah sejak dini, adalah sebuah cara Maulana menjauhkan TGB dari penyakit “Ain”.

Apa itu penyakit “Ain”? Yaitu, penyakit sombong dan angkuh.

Apakah sikap Maulana itu telah terbukti dan benar?

Sangat terbukti.

TGB sejak dulu dan saat ini –semoga– sampai seterusnya tetap tawadduk dan rendah hati. Sopan bertutur kata. Santun akhlaknya. Dipuji dan dicaci dianggapnya sama. Dalam kesuksesannya ia selalu berbahasa dengan melibatkan kontribusi pihak lain.

Ketiga, pelajaran penting penuh makna ialah sikap luwes Maulana Syaikh. Maksudnya?

Meski Al-Azhar bukan al-mamater Maulana Syaikh, tapi Maulana mengakui dengan objektif kualitas Universitas tersebut.

Maulana mengakui Al-Azhar adalah salah satu referensi dan tujuan kuliah yang hebat selain Madrasah Shaulatiyyah Makkah al-Mukarramah. Ternyata, Al-Azhar adalah rekomented dari maha guru kita.

Sejatinya, persaksian Maulana Syaikh kepada Ummuna tentang Al-Azhar, sungguh tidaklah berlebihan. Al-Azhar memang madrasah tertua yang pendidikannya bermula dari sebuah masjid dan dimulai sejak 975 M. Lihat di wikipedianya!

Selain masa berdirinya telah lama, Al-Azhar juga sebuah kampus yang sangat produktif melahirkan ulama dengan kualitas mumpuni dan bertaraf dunia.

Di Indonesia saja, selain TGB sendiri, sebelumnya ada KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur (Presiden RI ke-4), KH. Musthafa Bisri, dan Prof. Dr. Quraish Shihab, MA., serta banyak lagi tokoh lainnya.

Keempat atau terakhir, pelajaran dari TGB sendiri. Bahwa TGB memberi kita contoh baik, bagaimana menjadi seorang anak yang patuh kepada ibu, dan taat kepada guru (Maulana Syaikh).

“Ibu adalah azimatku. Ninikda Maulana Syaikh adalah inspirasiku.” Kata TGB dalam suatu kesempatan seingat pemulis. Alhamdulillah!

Wa Allah A’lam!

Bilekere, 15 September 2020 M.