Mari Kembali Merawat Cita-Cita Besar Besar Maulana Syeikh oleh Abi Turen NW

Mari Kembali Merawat Cita-Cita Besar Besar Maulana Syeikh oleh Abi Turen NW

Maulana Syaikh adalah satu-satunya ulama di Nusa Tenggara Barat yang mampu mendirikan Organisas Islam, yakni Nahdlatul Wathan. Tentu tidak mudah, kita semua sudah mafhum bagaimana jatuh bangunnya beliau membangun ormas ini. Di tengah arus besar ormas Islam NU dan Muhammadiyah, Maulana syaikh mengajak “bangsa Sasak” meneladani dua perkumpulan itu, yakni berkumpul dalam visi dakwah, pendidikan dan sosial. Bangsa Sasak yang selama ini kecil dan inferior diajak bangkit oleh Maulana Syaikh melalui NW. Beliau menggunakan panggilan mesra kepada ummat seperti: ya fata Sasak, ya bani Sasak NTB, kaumku sasak bejulu (maju) dan lain-lain.
Beliau memberi teladan kepada kita semua, khususnya warga Nahdlatul Wathan untuk ikut terlibat dan berkontribus membela gama, membangun negara dan masyarakat. Beliau malang-melintang di pergerakan politik nasonal, belau ikut memberi suara terhadap hubungan Islam dan negara, beliau merintis madrasah madrasah di senatero Nusa tengara Barat. Semua upaya itu dilakukan dalam bingkai Iman dan taqwa sebagai prinsip dasar pergerakan NW dan merupakan visi besar Maulana.
Masa berganti masa, pasca beliau wafat NW seperti tak kunjung henti mengalami turbulensi, energi kita terkuras memproduksi narasi perpecahan. Kita tak kunjung surut saling merundung. Kita seolah tak pernah lelah saling mengucilkan. Kapan semua ini kita akhiri? Kenapa kita tak mau saling menerima, dan saling merangkul? Sungguh naif dan ironis, jika kita terus-terusan merawat ego sektoral yang partisan. Ummat sudah capek melihat kekisruhan yang tak punya ujung ini. Sungguh sayang, di tengah kekisruhan ini banyak orang membakar api di padang ilalang, sehngga kita mengalami kabut asap dan sesak nafas. Miris.
Mari kita berfikir makro, berfikir dengan cita-cita besar. NW di Nusa Tenggara Barat punya potensi besar, sumber daya Manusia NW berlimpah. Jika kekuatan itu dikelola dengan baik, kita akan lebih leluasa berkontribusi untuk agama dan negara. Kita betul-betul akan merawat legasi dan peran maulana. Tapi sekali lagi, sayang seribu sayang, energi kita terbuang sia-sia oleh narasi perpecahan. Wahai kaum intelektual dan alim ulama NW yang berbicaralah sebagai juru damai bagi ummat. Mari kita jaga NW sebagai pusaka yang diwariskan Maulana Syaikh ke ummat. Cendekiawan dan alim ulama’ jangan ikut memperkeruh suasana. Antum semua mestinya menjadi ujung tombak narasi perdamaian. Mari kita gaungkan narasi persatuan. Namun jika persatuan masih menjadi mimpi yang sulit, setidaknya berjalan-lah masing-masing mengibarkan bendera NW di penjuru-penjuru negeri. Syukur-syukur, lambat laun kedua pihak bisa bersinergi lalu bersatu. Intinya siapapun yang memperjuangkan NW pada hakikatnya sudah merawat cita-cita besar Mualana Syaikh.
Kasihan ummat, mereka sudah lelah dan bosan menyaksikan kekisruhan ini. Boleh jadi, lama-lama orang akan kehilangan simpati dan militansi. Warga Nahdaltul Wathan sejak lama sudah berjuang bagi NW menyumbangkan tenaga, pikiran dan uang. Balas-lah budi baik dan jasa mereka dengan perdamaian. Orang-orang kecil NW yang jauh dari pusat kekuasan NW tak pernah minta apa-apa, mereka tak tahu menahu gejolak yang terus dipertontokan. Mereka orang-orang biasa, bukan orang cerdik cendikia. Tapi yang merekalah abi turen yang paliing istimewa. Mereka tak punya kepentingan apapun, yang mereka punya adalah kencintannya yang luar biasa kepada Maulana Syaikh. Perasaan mereka tercabik-cabik melihat segala kekisruhan ini. Jadi, tolong dengar jeritan hati warga NW yang menjadi ujung tombak dan jangkar NW secara kultural di tingkat bawah.
Oleh: Abi Turen NW

BACA JUGA  Diselesaikan dengan Restorative Justice, Penghina Palestina di NTB Minta Maaf

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA

BACA JUGA  Para Super Mom Ikuti Pembukaan Kajian Majelis Taklim Al-Hidayah NW