Rasisme & Gagasan Kemanusiaan Islam

Rasisme & Gagasan Kemanusiaan Islam

Oleh Zulkarnaen

Ada sebuah ungkapan yang menarik dari salah seorang ulama’ dalam memuji keistimewaan Nabi Muhammad SAW. Ia mengungkapkan bahwa, Nabi seakan-akan meminta bentuk jasmani atau tubuhnya, karena saking bagus bentuk rupanya. Apa yang ingin saya sampaikan adalah, memang tidak ada yang pernah meminta hal semacam itu, termasuk Nabi.

Tidak ada kesadaran yang disadari manusia sebelum ia menjadi manusia. Sehingga kalau manusia menginginkan sesuatu, maka dia harus hidup dulu; ada eksistensinya di ruang materi. Baik Ulama’, siapapun, pasti mengakui tak ada manusia yang pernah meminta dirinya dilahirkan. Setiap manusia menemukan dirinya sudah ada di dalam kehidupan.

Sehingga bentuk rupa manusia adalah sebuah pemberian dari tuhan. Setiap manusia itu sama. Tak ada yang lebih mulia karena berbeda rupa. Tidak boleh kemudian dengan alasan apapun saling merendahkan. Yang mulia adalah yang paling takwa. Perbedaan bentuk rupa karena suku dan ras diletakkan untuk rekognisi; mengakui dan menghormati segala perbedaan yang dimiliki oleh setiap manusia. Demikian dijelaskan oleh ulama’ soal makna li ta’arofu yang berasal dari kata al i’tirof atau pengakuan.

Bilal bin Rabah adalah saksi dari kondusifitas ekosistem Islam. Nabi memperlakukan Bilal dengan sangat baik. Bilal mendapat posisi yang mulia di masyarakat Madinah saat itu. Ia menjadi seorang muadzin. Bayangkan saja anda menjadi muadzin seorang Nabi. Hal ini sangat istimewa terlebih Bilal tak hanya berkulit hitam, namun ia merupakan seorang budak dan berasal dari keluarga budak. Tidak berlebihan kemudian Dr. Craig Considine, seorang cendikiawan kristen berkesimpulan bahwa, Nabi Muhammad adalah orang pertama yang menyuarakan anti rasis.

Terlalu telat kemudian Barat menyuarakan hal ini. Peristiwa Holocaust; genosida, menunggu perang dunia ke II berkahir untuk mendeklarasikan hak asasi manusia.
Saya agak emosi bila ada orang yang mengklaim Barat sebagai sumber peradaban. Meskipun dalam sisi yang lain, Barat sangat efektif menyadarkan inferioritas ummat Islam. Saya sepertinya bisa merasakan bagaimana gamangnya para pembaharu Islam di beberapa abad yang lalu. Saya sangat respect terhadap mereka, karena mau bergerak menyadarkan ketertinggalan ummat Islam. Walau dalam sisi yang lain, ada lebih kurangnya kemudian mengatakan apa yang menjadi wacana-wacana Barat tentang kemajuan sudah menjadi wacana Islam sejak dari dulu.

Namun setidaknya ada positifnya bahwa, kita sadar Islam tidak kalah secara wacana dan gagasan dengan segala otentisitas dan perjalanannya dalam sejarah manusia.
Hal yang perlu dilakukan ke depan kemudian adalah menghadirkan wajah Islam yang solih likulli makan waz zaman. Bahwa Islam tak kalah wacananya soal kemanusiaan. Konsepsi-konsepsinya, tak ada yang bertentangan dengan kemanusiaan, bahkan sistem nilai yang terdapat di dalamnya untuk kebaikan manusia. Memastikan manusia merasa aman berada di dalam ekosistem kehidupan bersosial.

Tak ada ajaran Islam yang membolehkan untuk merendahkan sesama manusia, bahkan anjing sekalipun. Dalam khazanah Islam, Tuhan pernah menegur seorang Nabi karena rasis di dalam hati kepada anjing.
Begitulah Islam dalam menghormati sesama makhluk. Manusia adalah satu dari mahkluk ciptaan Tuhan. Hewan, tumbuhan, pohon dan segala ciptaan adalah sama.

Tak ada jalan kemudian antar sesama makhluk untuk saling mengeksploitasi. Tak boleh manusia menggunakan alam semau-mau. Tak boleh manusia memburu hewan semau-mau. Pada dasarnya manusia dan makhluk lain terintegrasi. Ada hal yang perlu dihormati oleh manusia, tak boleh berpikiran yang penting saya dapat manfaat lalu mengorbankan yang lain dengan dampak yang lebih besar. Islam tegas menolak sikap-sikap manusia yang seperti itu.

Islam ingin menghadirkan eksosistem yang sangat bagus untuk manusia. Memiliki cita-cita membangun negeri yang baik dan diampuni oleh Allah SWT. Hal-hal normatif yang dipikirkan manusia itu sesuai, ada di dalam Islam. Islam memotivasi perubahan progresif itu bisa dicapai dengan usaha. Islam dengan segala gagasan dan wacananya ingin mewujudkan cita-cita itu. Kemanusiaan yang berketuhanan menjadi jaminan dari ekosistem yang sangat kondusif terhadap seluruh sekalian alam.

Tinggal persoalan berikutnya adalah setiap muslim yang menyadari ajarannya sendiri. Sadar akan gagasan, wacana Islam dan bergerak. Karena kemunduran Islam di masa lalu disebabkan oleh hal itu. Islam hari ini tak boleh kalah. Kita tak punya pilihan lain selain progresif. Memilih yang lain berarti mundur. Terlepas dengan lebih majunya kemunitas lain, kita coba mengejar dan menjadi pesaing yang serius dalam menjalankan peradaban. Disebut oleh Mahbubuni, penulis buku Asia Hemisfer Baru Dunia bahwa islam secara perlahan akan menjadi peradaban yang akan unggul setelah menjelaskan kebangkitan Asia; China dan India dalam menyaingi kedigdayaan Barat.

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA