Sirah Nabi : Proses Turunnya Wahyu Pertama Kali

banner post atas

KAPAN TURUNNYA WAHYU

Para ulama berselisih pendapat mengenai kapan turunnya wahyu dari malaikat Jibrīl kepada Rasūlullāh ﷺ. Namun ulama bersepakat bahwasanya hari turunnya adalah hari Senin.

Pada pembahasan yang lalu, telah disebutkan hadits ketika Rasūlullāh ﷺ ditanya,

Iklan

“Kenapa engkau berpuasa pada hari Senin?”

beliau ﷺ menjawab, “Karena hari Senin adalah hari dimana saya dilahirkan dan hari dimana Allāh menurunkan wahyu kepadaku.”

Namun mengenai bulan dan tanggal tepatnya, maka terjadi silang pendapat.

Ibnul Qayyim ‘alayhissalām berkata,

“Tidak ada khilaf bahwa diutusnya Nabi (yaitu hari diturunkan wahyu kepada beliau) adalah hari senin. Namun terjadi perselisihan pada bulan apa? Dikatakan bahwa wahyu turun tanggal 8 Rabi’ul Awwal tahun 41 dari tahun gajah, dan ini adalah pendapat mayoritas. Dan dikatakan pula bahwa wahyu turun di bulan Ramadhan,

mereka berdalil dengan firman Allah

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

“Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya al-Qur’an”(QS Al-Baqarah : 185)

Mereka berkata,
“Begitu Allah memuliakan Nabi dengan kenabian maka Allah turunkan kepadanya al-Qur’an”. Dan ini pendapat sekelompok ulama.

Kelompok yang pertama mengatakan bahwa turunnya al-Qur’an di bulan Ramadhan maksudnya adalah turunnya al-Qur’an secara keseluruhan di malam Lailatul Qadar dan Baitul ‘Izzah, lalu diturunkan sedikit demi sedikit berdasarkan peristiwa-peristiwa dalam waktu 23 tahun.

Dikatakan juga bahwa permulaan turunnya wahyu adalah di bulan Rajab.” (Zaadul Ma’ad, 1/77-78)

Ibnu Hajar berkata :

وَحَكَى الْبَيْهَقِيُّ أَنَّ مُدَّةَ الرُّؤْيَا كَانَتْ سِتَّةَ أَشْهُرٍ وَعَلَى هَذَا فَابْتِدَاءُ النُّبُوَّةِ بِالرُّؤْيَا وَقَعَ مِنْ شَهْرِ مَوْلِدِهِ وَهُوَ رَبِيعٌ الْأَوَّلُ بَعْدَ إِكْمَالِهِ أَرْبَعِينَ سَنَةً وَابْتِدَاءُ وَحْيِ الْيَقَظَةِ وَقَعَ فِي رَمَضَانَ

“Al-Baihaqi menghikayatkan bahwa masa Nabi bermimipi wahyu adalah selama 6 bulan. Jika demikian, permulaan kenabian dengan mimpi terjadi pada bulan kelahiran beliau yaitu Rabi’ul Awwal ketika beliau persis berumur 40 tahun, dan permulaan wahyu dalam keadaan sadar (tidak tidur) terjadi di bulan Ramadhan.” (Fathul Baari 1/27)

Jika tentang bulan turunnya wahyu diperselisihkan (antara Rabi’ul Awwal atau Rajab atau Ramadhan) maka mengenai tanggalnya lebih tidak jelas lagi dan tidak ada dalil yang kuat .

BACA JUGA  Universitas Hamzanwadi Selong Wisuda 980 Orang Mahasiswa, Dalam Wisuda IV Diploma dan Sarjana Tahun 2019.

Dengan demikian peringatan turunnya al-Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan tentu tidak ada dalilnya sama sekali. Bahkan jika kita berpatokan bahwa al-Qur’an turun di bulan Ramadhan di malam Lailatul Qadar maka seharusnya al-Qur’an turun di 10 malam yang terakhir.

Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini :

Pertama : Nabi ﷺ tidak mencari wahyu sebagaimana yang diklaim oleh Ibnu Sina bahwasanya kenabian adalah perkara yang bisa dicari.

Seandainya Nabi ﷺ mencari wahyu, tentunya ini adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh beliau. Tetapi Nabi ﷺ ketika didatangi malaikat, beliau malah ketakutan.

Nabi memang tidak mencari wahyu dan tidak menduga kalau dirinya akan dijadikan seorang Rasul meskipun Beliau telah mengalami hal-hal yang menakjubkan, seperti batu memberi salam kepada Beliau, jantung Beliau dibuka dan dibelah, dan mimpi-mimpi yang selalu terbukti dan terjadi.

Kedua : Pentingnya memiliki istri yang shālihah. Lihatlah bagaimana peran Khadījah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā. Seorang suami tatkala mendapat masalah maka seorang istri berusaha menenangkan suaminya.

Peran Khadījah luar biasa kepada Nabi, mendengarkan keluh kesah suaminya, bahkan membawanya ke Waraqah bin Naufal, salah seorang yang shālih, untuk menjelaskan kondisi Nabi ﷺ.

Para dokter mengatakan, apabila ada orang dalam keadaan bersedih dan dia tidak mampu memikul beban itu, maka boleh diungkapkan, tetapi tidak kepada setiap orang.

Seharusnya, yang paling utama dan pertama adalah, hendaknya dia menyampaikan keluh kesahnya kepada Allāh , sebagaimana perkataan Ya’qub ‘alayhissalām (bapaknya Nabi Yūsuf):

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

“Sesungguhnya aku hanya mengeluhkan kesedihanku kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.”(QS Yūsuf : 85)

Oleh karena itu, hendaknya yang pertama dan utama adalah kita mengeluhkan segala kesulitan kita kepada Rabbul ‘ālamīn, baik melalui shalat kemudian berdo’a kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla ataupun amal Shalih lainnnya.

Setelah itu tidak masalah jika kita pergi ke sebagian orang untuk mencari solusi. Sebagaimana Nabi mengeluhkan kepada istrinya. Karenanya memiliki istri shālihah dan pengertian adalah hal yang sangat indah, bisa mengurangi beban suaminya.

BACA JUGA  Cerpen "Proposal Kebahagiaan Abadi"

Ini juga diantara tanda cerdasnya Khadījah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā, beliau mengantarkan Nabi ﷺ kepada Waraqah bin Naufal, seorang yang shālih yang mampu memberi nashihat.

Ketiga : Orang yang selalu melakukan kebaikan karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla niscaya Allāh tidak akan menghinakan dia selamanya. Ini adalah sunnatullāh yang tidak akan mungkin berubah.

Orang yang bersosialisasi, bergaul dan berinteraksi karena Allāh, bukan karena cari muka atau perhatian atau pujian, maka Allāh tidak akan pernah menghinakan dia.

Bahkan Khadījah menashihati Nabi dengan mengatakan:

كَلاَّ أَبْشِرْ فَوَاللهِ لاَ يُخْزِيْكَ اللهُ أَبَدًا فَوَاللهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمِ وَتَصْدُقُ الْحَدِيْثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُوْمَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

“Sekali-kali tidak, bergembiralah! Demi Allah sesungguhnya Allah selamanya tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allah, sungguh engkau telah menyambung tali silaturahmi, jujur dalam berkata, membantu orang yang tidak bisa mandiri, engkau menolong orang miskin, memuliakan (menjamu) tamu, dan menolong orang-orang yang terkena musibah.”
(HR. Al-Bukhari I/4 no. 3 dan Muslim I/139 no. 160)

Karena itu, orang yang kehidupannya penuh dengan membantu orang lain, dia tidak akan dihinakan oleh Allāh, dengan syarat dia membantu dengan ikhlash.

Rasūlullāh ﷺ bersabda dalam haditsnya:

عن أبي أمامة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : صَنَائِعُ الْمَعْرُوفِ تَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ ، وَصَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيدُ فِي الْعُمُر

Artinya: “Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda: “Perbuatan kebaikan akan mencegah kejadian buruk dan sedekah yang tersembunyi akan memadamkan kemurkaan Rabb serta menyambung hubungan silaturahim dapat menambah umur.”

(HR. Ath Thabrani dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’, no, 3797)

Para ulama mengatakan :

“Barangsiapa yang ingin husnul khātimah hendaknya dia berbuat baik kepada orang lain agar Allāh anugerahkan kepadanya husnul khātimah.”

 

Penulis Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja http://Www.firanda.com