Prof HAgustitin: Negara-Negara Maju Seharusnya Tidak Melakukan proteksionisme Pasar Pada Negara Berkembang

banner post atas

Kerap sekal negara maju bertindak sewena wenang melakukan proteksionisme pasar ketimbang negara-negara berkembang.

Hal ini terbukti , adanya sengketa yang sampai dibawa ke World Trade Organization (WTO).
Yang demikian itu Banyak digunakan oleh negara maju untuk memproteksi pasar dalam negerinya. Dan durasi bagi negara maju, lebih banyak melakukan tindakan proteksionisme yang tidak manusiawi ini kepada negara berkembang,”
Dalam perdagangan dunia, tidak ada negara yang benar-benar membuka pasarnya. “Tidak ada pasar yang benar-benar bebas,” katanya.
Coba Lihat saja ,Harga Minyak Pekan ini Tertekan Peningkatan Produksi AS. Karenanya,penting.skema yang lebih tepat untuk implementasi kebijakan perekonomian, sehingga hasilnya terukur dan berdampak positif.

Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur bank sentral negara-negara G20 menyebut kerja sama perdagangan internasional harus ditingkatkan karena dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi global.
“Seharusnya mesti sepakat /menyepakati perdagangan internasional sangat penting sebagai mesin pertumbuhan. Untuk itu, perlu upaya untuk mengurangi tensi yang dapat menyebabkan sentimen negatif pasar dan meningkatkan ketidakpastian sektor finansial,” ujar Menteri Keuangan Argentina Nicolas Dujovne di Bali saat Pertemuan Tahunan IMF-World Bank.

Iklan

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita juga menyebut akan menyuarakan ke dunia internasional mengenai manfaat keterbukaan ekonomi. “Kementerian Perdagangan akan negosiasi dan menyampaikan bahwa (perang dagang) ini tidak baik,” imbuh dia. Menurut Enggar, perdagangan yang melibatkan banyak pihak seharusnya mewujudkan kondisi yang saling menguntungkan, bukan memberikan keuntungan absolut bagi satu pihak atau fenomena “the winner takes it all”

Perekonomian dan daya saing industri untuk dapat menarik investasi jenis tersebut, Indonesia wajib untuk terlebih dahulu membuka diri bagi investor asing, khususnya yang berorientasi ekspor, melalui penghapusan berbagai hambatan perdagangan dan investasi. Pemetakaan tipe FDI di Indonesia yang kebanyakan berjenis market seeking (warna oranye) dan natural resources seeking (warna abu-abu). Sebaliknya, jenis FDI yang berorientasi ekspor (warna biru) masih kecil. Sumber: COMTRADE dan World Bank
Indonesia Belum Siap Menghadapi Pasar Bebas
Pandangan ini juga keliru. Pasar bebas seharusnya dimaknai sebagai peluang bukan ancaman. Seluruh negara berlomba-lomba untuk dapat bergabung dengan WTO.

BACA JUGA  Sistem Perizinan OSS, Pemda Tidak Bisa Melarang Investor Masuk Ke Daerah

Analogi ringan sepakbola, bayangkan anda sebagai pemilik klub sepak bola lokal ‘Dermayu FC’ mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan kompetisi bergengsi Liga Premier Inggris.
Tentu kita tidak.akan menolak bergabung karena takut kalah berkompetisi dan terdegradasi? Lalu kehilangan potensi pendapatan hak siar eksklusif (MFN), penjualan merchandise (ekspor) yang bernilai ratusan juta dolar dan lebih memilih berkompetisi di liga domestik yang tidak menguntungkan dan dipenuhi oleh mafia pemburu rente (rent-seekers)? Saya yakin kita semua tidak senaif itu.
Caranya agar Dermayu FC dapat bersaing dengan klub-klub besar seperti Liverpool, Chelsea, dan Manchester City? Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengundang pelatih dan pemain asing yang kompeten (investor asing) yang dapat membantu Dermayu FC agar lebih kompetitif dalam Liga Inggris.

Kita dapat mengharapkan pemain asing tersebut dapat ‘menularkan” skill-nya kepada pemain lokal kita sehingga dapat berkembang dan lebih profesional..’Negara kita akan menjadi negara yang besar dan kuat ekonominya melalui ujian-ujian. Kita memandang ke depan itu dengan rasa optimisme’.

Kenyataannya, Indonesia terlalu kecil untuk dianalogikan sebagai ‘Dermayu FC’. PDB Indonesia saat ini telah melebihi USD 1 triliun dan menjadi anggota G-20. Pada tahun 2030, Indonesia diproyeksikan akan menjadi ekonomi terbesar keempat dunia mengalahkan Turki, Jepang, dan Jerman.

Negara Indonesia memiliki banyak kelebihan untuk dapat bersaing dalam pasar bebas seperti kondisi politik yang stabil, kebijakan makroekonomi yang baik, sistem demokrasi yang mendukung, bonus demografi serta tingginya tingkat kepercayaan negara-negara terhadap pertumbuhan positif ekonomi Indonesia sebagaimana terdapat dalam Survei Ekonomi OECD 2020.

Kebijakan ekonomi secara terus menerus harus terus diperbaiki agar dapat mendukung kegiatan perdagangan dan investasi yang lebih terbuka dan kompetitif, bukan tidak mungkin kita akan menyalip Amerika Serikat dan India. Lalu mengapa masih takut menghadapi pasar bebas?

BACA JUGA  Ayoo... Daftar Jadi Peternak, Program 10 Juta Ekor Sapi Sudah Di Buka HKTI NTB.