Prof H Agustitin :WISATA BATINIAH TENTANG HAKEKAT KEMATIAN SERI 25

banner post atas

Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya (bil-Haqq). Itulah yang kamu selalu lari darinya. (QS. Qaf: 19)

Dari ayat ini dapat di pahami bahwa haki­kat kematian yang digam­barkan oleh Allah SWT dengan ungkapan bil-Haqq, sehingga kema­tian bukanlah ketiadaan, kesirnaan atau kehilangan. Allah SWT berfiman: Sekali-kali tidak! Apabila nyawa (seseorang) telah sampai ke kerongkongan, dan (ketika itu) dikata­kan: ‘Siapakah penyem­buh dan dia telah menduga bahwa sesung­guhnya itulah waktu perpisahan, dan bertautlah betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmu lah pada hari itu (tempat dan masa) penggiringan.
*Jadi terkait dengan ayat diatas kematian atau ajal merupakan akhir dari kehidupan dunia, ketiadaan nyawa dalam organisme biologis. Semua makhluk hidup pada akhirnya akan bertemu dengan ajal secara permanen, baik karena penyebab alami, seperti penyakit, atau karena penyebab tidak alami, seperti kecelakaan. Setelah kematian, tubuh makhluk hidup mengalami pembusukan.*

*Allah SWT menjelaskan kematian dalam konteks menguraikan nikmat-nikmat-Nya  kepada manusia. “Bagaimana kamu mengingkari (Allah) sedang kamu tadinya mati, kemudian dihidupkan (oleh-Nya), kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kamu dikembalikan kepada-Nya.” (QS al-Baqarah [2]: 28).*

Iklan

*Jadi bagi manusia yang mengalami perkembangan jutaan tahun akan dilemparkan  begitu saja bagai barang yang tidak berharga. Tetapi, apabila ia mampu menyucikan dirinya secara terus-menerus. Penyucian jiwa itu dengan jalan menjauhkan diri dari kekejian dan dosa, dengan jalan amal saleh selama menjalani kehidupanya.*

*Alquran menegaskan, “Mahasuci Allah Yang di dalam genggaman kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia Mahamulia lagi Maha Pengampun” (QS al-Mulk 67: 1-2)*

BACA JUGA  Prof H Agustitin: MUSIBAH DATANG KARENA KESALAHAN (DOSA) YG TIDAK DI MINIMALISIR DAN TERCEGAH KARENA USAHA , TAUBAT DAN SEDEKAH

*Ajal dalam Islam bukanlah sesuatu yang buruk. Karena, di samping mendorong manusia untuk meningkatkan pengabdiannya dalam kehidupan dunia ini, kematian juga merupakan pintu gerbang untuk memasuki kebahagiaan abadi, serta mendapatkan keadilan sejati. Ayat-ayat Alquran dan hadis Nabi menunjukkan bahwa kematian bukanlah ketiadaan hidup secara mutlak, tetapi ia adalah ketiadaan hidup di dunia. Dalam  arti bahwa manusia yang meninggal pada hakikatnya masih tetap hidup di alam lain dan dengan cara yang tidak dapat diketahui sepenuhnya.*

*Ibnu Ishak meriwayatkan ketika orang-orang musyrik yang tewas dalam  Perang Badar dikuburkan dalam satu perigi oleh Nabi dan sahabat-sahabatnya. Rasul bertanya kepada mereka yang telah tewas itu. “Wahai penghuni perigi, wahai Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Ummayah bin Khalaf; Wahai Abu Jahl bin Hisyam,  (seterusnya beliau menyebutkan nama orang-orang yang di dalam perigi itu satu per  satu). Wahai penghuni perigi! Adakah kamu telah menemukan apa yang dijanjikan Tuhanmu itu benar-benar ada? Aku telah mendapati apa yang telah dijanjikan Tuhanku.”*

*“Rasulullah SAW bersabda, “Kamu sekalian tidak lebih mendengar dari mereka, tetapi mereka tidak dapat menjawabku”*

*Kematian yang dialami oleh manusia dapat berupa kematian mendadak, seperti serangan  jantung, tabrakan, dan sebagainya, serta dapat juga merupakan kematian normal yang terjadi melalui proses menua secara perlahan. Yang mati mendadak maupun yang normal, kesemuanya mengalami apa yang dinamai sakarat al-maut (sekarat), yakni  semacam hilangnya kesadaran yang diikuti oleh lepasnya ruh dan jasad*

*Dalam keadaan mati mendadak, sakarat  al-maut  itu hanya terjadi singkat, yang mengalaminya akan merasa sangat sakit karena kematian yang dihadapinya ketika itu—diibaratkan oleh Nabi—seperti duri yang berada dalam kapas dan yang dicabut dengan keras*

BACA JUGA  Prof Agustitin: KONTEMPELASI

*Banyak ulama tafsir menunjuk ayat wan nazi’at gharqa (Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras) (QS an-Nazi’at [79]:  1) sebagai isyarat kematian  mendadak. Sedangkan, lanjutan ayat surah tersebut, yaitu wan nasyithati nasytha (malaikat-malaikat yang mencabut ruh dengan lemah lembut) sebagai isyarat kepada  kematian yang dialami secara perlahan-lahan.*

*Kematian yang melalui proses lambat itu dan yang dinyatakan oleh ayat di atas sebagai “dicabut dengan lemah lembut”, sama keadaannya dengan proses yang dialami seseorang  pada saat kantuk sampai dengan tidur (QS az-Zumar [39]: 42).*