Berada dalam ruang di mana ekspresi pikiran dan spiritual bisa berkelana ke mana ia suka, membuat hidup jadi bergairah dalam relung relung cahaya. Tetapi ini mungkin sejenak saja. Sebab di ruang lain setelah ini kita masih menyaksikan, pedang-pedang masih berkeliaran. Hujatan ,cacian, hinaan bahkan kekerasan itu siap dilontarkan kepada siapa saja yang dianggap menghujat Tuhan, sambil berteriak: Tuhan Maha Besar”.
“Kalian bohong. Kalian ingin menyaingi Tuhan”. Dan akan di demo ramai-ramai dengan penuh kebencian.
Di jagat raya yang berhenti pada pemahaman syariat tak pernah berhenti sepanjang masa, dalam nada puja-puji yang memabukkan maupun sumpah serapah dan dendam kesumat yang tak pernah selesai.
Situasi yang demikian sarat dengan beragam mitos dan dongeng-dongeng yang memesona sekaligus merobek-robek nurani jagad ketuhanan.
Situasi demikian Orang orang bijak hanya bisa menulis berbaris-baris puisi Kerinduan yang mencengkeram amat kuat dalam dirinya dan penuh nilai nilai yang mewakili dirinya.
Di senandungkan puisi-puisi Rindu Kekasih itu di pasar-pasar, di warung-warung, di surau-surau dan di kerumunan-kerumunan. Hari-hari membumikan rasa Tuhan , menghampiri ke rumahnya dan menempati seluruh ruang eksistensinya. Dan dia selalu ingin menyambutnya dengan riang lalu menjemput-Nya di Langit dan manapun Dia Berada. Orang orang yang bijak itu ingin selalu bersama-Nya, menyatu dalam “Tubuh-Nya”. Orang bijak itu menyebutnya proses merasuk dan menubuh dari bawah ke atas sebagai Ittihad. Dalam puncak ekstase yang melayang-layang dan berteriak keras “tentang al Haq” (Kebenaran). Kata-kata ini mengguncang dan menggetarkan jagat raya manusia.
Ini seharusnya terus dengan penuh semangat disebarkan terus tentang rahasia Tuhan kepada semesta alam. Dan jangan biarlah kata-kata itu menjadi milik hati kita.
Gagasan pluralisme agama-agama jangan menjadi I keniscayaan karena hakekatnya semua agama adalah sama. Para pemeluk agama tak pernah berhenti mencari Sang Realitas, melalui beragam jalan, berbagai nama.
Menjadi keharusan untuk “menghentikan pernyataan yang menyalak”, lalu pergi. Karena semua agama adalah milik Allah. Setiap golongan memeluknya bukan karena pilihannya, tetapi dipilihkan Tuhan. Orang yang mencaci orang lain dengan menyalahkan agamanya, dia telah memaksakan kehendaknya sendiri. Ingatlah, bahwa Budha ,Yahudi, Nasrani, Islam Hindu dan lain-lain adalah sebutan-sebutan dan nama-nama yang berbeda saja.
Tetapi tujuannya tidak berbeda dan tidak berubah”. “Seperti bait-bait puisi ini”:
تفكرت فى الاديان جد تحقق فألفيتها اصلا له شعبا جما
فلا تطلبن للمرء دينا فإنه يصد عن الاصل الوثيق وانما
يطالبه اصل يعبر عنده جميع المعالى والمعانى فيفهما
Sungguh, aku tlah merenung panjang agama-agama
Aku temukan satu akar dengan begitu banyak cabang
Jangan kau paksa orang memeluk satu saja
Karena akan memalingkannya dari akar yang menghunjam
Seyogyanya biar dia mencari akar itu sendiri
Akar itu akan menyingkap seluruh keanggunan dan sejuta makna
Lalu dia akan mengerti
Pandangan Pluralisme Agama, sebaiknya diucapkan oleh siapa saja, untuk menggambarkan manifesto kebebasan beragama, dan tentu saja merupakan ekspresi Islami yang essensial yang melampaui perbedaan-perbedaan. Keanekaragaman individu dengan sifat kualitatif dan kepercayaan yang berbeda-beda akan senantiasa eksis di manapun dan kapanpun, dan tak bisa dilepaskan, dengan cara apapun dan oleh siapapun, dari bingkai raksasa semesta ciptaan Tuhan.




