Prof H Agustitin: MENJADI INSAN PRODUKTIF UNTUK TERCIPTANYA RAHMATAN LIL ALAMIN

banner post atas

Rasulullah SAW bersabda: “Bekerjalah untuk duniamu seakan – akan kamu hidup selamanya dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan – akan kamu mati besok”. Namun sayangnya, banyak dari kita yang justru melakukan sebaliknya. Memang si era globalisasi saat ini, kita sebagai manusia produktif senantiasa dituntut untuk bekerja keras, bukan hanya sekadar rajin, setia dan gigih namun juga harus dapat menyeimbangkannya dengan nilai – nilai yang ada di dalam agam Islam.

Memperhatikan sabda Rosulillah tsb bekerja dan beribadah kepada Allah bagaikan sekeping uang logam, jika rusak sebelah tiada arti
Jadi bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup merupakan kewajiban demikian halnya dengan beribadah kepada Allah.

Karenaitu semangat untuk bekerja harus bisa di nangis menjadi budaya atau sistem nilai yang dalam hal ini biasa disebut “produktivitas atau bisa kita sebut sebagai etos kerja”

Iklan

Bekerja dengan semangat ,sungguh sungguh dan penuh semangat untuk selalu mengikuti jalan yang lurus, dalam hal ini harus dijadikan pedoman oleh siapapun yang masih hidup.

B kerja dalam pengertian luas dapat di artikan semua bentuk usaha yang dilakukan oleh , baik itu yang berkaitan dengan materi maupun non – materi, fisik maupun intelektual dan tentunya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dunia dan akhirat.

Bentuk usaha atau bekerja yang sungguh sungguh guna mengaktualisasikan dirinya sebagai seorang hamba Allah memanfaatkan dunia dan mengelola alam untu kemanfaatan diri sendiri dan orang lain sebagai upaya menciptakan masyarakat rahmatan.lil alamin.

Berbagai aktivitas dinamis yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan jasmani maupun rohani dengan upaya yang sungguh sungguh juga merupakan produktifitas untuk meraih prestasi sebagai pengabdian diri kepada Allah SWT.secara total.

Rasulullah SAW bersabda,
”Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang di antara kamu yang melakukan pekerjaan dengan tekun, rapi dan teliti”. Bahkan Rasulullah sendiri selalu memilih seseorang yang tepat untuk melaksanakan suatu tugas. Beliau selalu melihat seseorang dari sisi keahlian, iman dan.yang terpenting adalah keprofesionalan.

BACA JUGA  Doa hari ini Senin 27 Juli 2020

Dalam al-Qur’an yang menyatakan keimanan yang diikuti oleh amal saleh yang berorientasi pada ketaqwaan.

Sebagai seorang muslim melakukan pekerjaan yang dimiliki dengan sungguh sungguh, dan tetap tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang pemeluk agama.

Dalam hal ini sebagai muslim diwajibkan untuk bekerja dengan sungguh – sungguh dan tetap harus mengikuti pedoman hidup kita yakni al-Qur’an serta al-Hadits.

Sebagai manusia memang diwajibkan untuk bersungguh mencari solusi terhadap masalah masalah yang berkaitan dengan dunia, dan akhirat.

Produktivitas kerja juga sebagai pengukuran output berupa barang atau jasa dalam hubungannya dengan input yang berupa , modal, materi atau bahan baku ,peralatan dan karyawan

Jadi hakikat produktivitas berkaitan erat dengan kegiatan produksi yang dapat dilaksanakan bila tersedia faktor-faktor produksi: tenaga kerja, bahan baku dan dana

Produksi harus menghasilkan manfaat dan keuntungan melalui manusia terhadap sumber-sumber kekayaan lingkungan”.
Dengan demikian produksi adalah proses kerja yang dapat menghasilkan atau menambah nilai guna suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber daya manusia dan sumberdaya alam.

Dalam konsep Islam produksi harus dikendalikan oleh kriteria objektif maupun subjektif.
– Kriteria objektif tercermin dalam bentuk kesejahteraan yang dapat diukur dari segi uang. ‘ – – – – -Subjektif dalam bentuk kesejahteraan yang dapat diukur dari segi etika ekonomi yang didasarkan al-Qur`an dan as-Sunnah.

Dalam konsep Islam keberhasilan sebuah sistem ekonomi tidak hanya disandarkan pada segala sesuatu yang bersifat materi. Tapi setiap aktivitas ekonomi termasuk produksi bisa menerapkan nilai-nilai, norma, etika, atau dengan kata lain akhlak yang baik dalam berproduksi , untuk tujuan kemaslahatan umum bisa tercapai dengan aktivitas produksi yang total.

Dalam pandangan ekonomi Islam produksi harus mengacu pada nilai utility dan masih dalam bingkai nilai halal serta tidak membahayakan bagi diri seseorang ataupun sekelompok masyarakat.

BACA JUGA  Prof H Agustitin: Bulan Ramadan Merupakan Sinyal UMAT Manusia Tentang Ramat, Magfiroh dan kasih sayang Allah Kepad-Nya

Produksi merupakan refleksi yang dari surah al-Baqarah [2] ayat  219, yang menjelaskan tentang manfaat produksi.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membuat mimbar. Dari Sahal berkata, “Rasulullah telah mengutus kepada seorang wanita, (kata beliau): ‘Perintahkan anakmu si tukang kayu itu untuk membuatkan sandaran tempat dudukku, sehingga aku bisa duduk di atasnya.”
(Riwayat Imam Bukhari).

Pada masa Rasulullah SAW, orang-orang biasa memproduksi barang, dan beliau pun mendiamkan aktivitas mereka, dan diamnya beliau menunjukkan adanya pengakuan (taqrir) terhadap aktivitas berproduksi .

Islam lebih melihat pada proses produksi agar dapat menjangkau makna yang lebih yang lebih luas, tidak hanya pencapaian aspek yang bersifat duni juga danakhirat.

M elakukan produktivitas di harapkan dapat
1, Untuk mencapai kemakmuran suatu bangsa dan taraf hidup manusia.

2.Al-Qur`an telah meletakkan landasan yang jelas tentang produksi yaitu diperintahkannya bekerja keras dalam mencari kehidupan.

3, Allah Swt telah menganugerahkan alam semesta untuk kesejahteraan manusia.

4, Aktivitas kerja manusia dalam melakukan produksi sebagai dasar berjalannya roda ekonomi umat.

Seperti yang telah di contohkan oleh “Khalifah Umar bin Abdul Aziz” dalam masa dua tahun mampu  memakmurkan masyarakatnya melalui upaya produktivitas umat.

Semua faktor produksi menjadi produktif sehingga terjadi full employment.  Inilah makna dari produktivitas yang menurut ajaran Islam gunan mewujutkan “rohmatan lil alamim. “