Pantun Renungan (edisi19) Perintah dan Larangan Tuhan Untuk Kemaslahatan Insan

banner post atas

 

Hikam Ibnu Athoillah Assakandari
Tentang taat dan maksiat pada Ilahi
Mari merenung dan instropeksi diri
Untuk Perbaikan diri kita nanti

Manfaat Ibadah tuk kita sendiri
Maksiat malah mencelakakan diri
Semua kembali ke diri sendiri
Tiada berpengaruh pada Ilahi

Iklan

La Tanfa’uhu Tho’atuka
Ketaatanmu bagi-Nya tak berguna
Wa la Tadhurruhu Ma’shiyatuka
Maksiatmu tak membahayakan-Nya

Allah menyuruh berbuat begini
Dan melarang untuk melakukan ini
Demi kepentingan kita sendiri
Tak berpengaruh pada Rabbul ‘Izzati
Tak bertambah kemuliaan Ilahi
Karena hamba-Nya mendekati
Tak berkurang kemuliaan Robbi
Karena hamba-Nya menjauhi

Dalam sebuah hadits Qudsi
Di kitab al-Arba’in an-Nawawi
Bila semua hamba mengabdi
Tak menambah kekuasaan Ilahi

Masih dalam matan hadist ini
Bila sebaliknya yang terjadi
S’mua hamba maksiat pada ilahi
Kekuasaan Allah tak terkurangi

Amal kita kan menentukan posisi
Apakah kita beruntung atau rugi
Bila tak ingin menyesal nanti
Ketaatan mesti menghiasi diri

Kita memang sulit ‘tuk konsistensi
Taat kita mengalami fluktuasi
Kadang ia datang kadang ia pergi
Disinilah pentingnya menjaga hati

Ya Robb Tuhan pembolak balik hati
Teguhkan hati kami untuk mengabdi
Sehingga kami layak tuk menikmati
Surga-MU yang indah di akhirat nanti

Aamiin…

*Penjelasan*:

Syaikh al-Islam Izzudin Abdussalam yang dikenal sebagai sultan para ulama mengatakan dalam kitabnya *al-Qowaid al-Kubro al-Marsum bi Qowaid al-Ahkam Fi Ishla al-Anam* mengatakan:
التكاليف كلها راجعة إلى مصالح العباد فى دنياهم واخراهم. والله غني عن عبادة الكل ، ولا تنفعه طاعة الطائعين ، ولا تضره معصية العاصين

“Al-takalif (aturan Allah SWT) semuanya dibuat untuk kemaslahatan (kepentingan) hamba-hamba-Nya (manusia) dalam kehidupan mereka di dunia maupun di akhirat. Allah tidak membutuhkan pengabdian mereka. Ketaatan mereka kepada-Nya tidak memberikan manfaat apapun bagi-Nya, dan kedurhakaan mereka tidak merugikan Dia sama sekali” (Syaik al-Islam Izzuddin Abdil ‘Aziz bin Abdissalam, *al-Qowaid al-Kubro al-Marsum bi Qowaid al-Ahkam Fi Ishla al-Anam*, Juz 2, Dar al-Qolam, cet. 1, th.2000, hal.126).
Ungkapan Syaikh al-Islam Izzuddin tersebut teryata juga dikemukakan oleh Syaikh Ibnu Athaillah al-Sakandari dalam “Al-Hikam”nya, dimana beliau mengatakan:

لا تَنْفَعُهُ طاعَتُكَ وَلا تَضُرُّهُ مَعْصِيَتُكَ. وإنَّما أمَرَكَ بِهذِهِ وَنَهاكَ عَنْ هذِهِ لِما يَعودُ عَلَيْكَ
“Ketaatanmu kepada Allah tak memberi-Nya manfaat (keuntungan) apapun. Dan pembangkanganmu kepada-Nya tak merugikan Dia sama sekali. Dia memerintahkanmu melakukan ini itu atau melarang ini atau itu, hanyalah untuk (keuntungan) kamu sendiri”.
Lalu beliau melanjutkan dengan untaian hikamnya:

لا يَزيدُ في عِزِّهِ إقْبالُ مَنْ أَقْبَلَ، وَلا يَنْقُصُ مِنْ عِزِّهِ إدْبارُ مَنْ أدْبَرَ

“Tidaklah bertambah kemulyaan Allah karena seseorang mendekat kepada-Nya, dan tidak berkurang kemuliaan-Nya karena seseorang menjauhi-Nya.

Hal ini sejalan dengan hadits Rasulilah Shallalllahu ‘alaihi wasallam dalam hadits qudsinya yang saya kutip dari kitab hadits al-Arba’in al-Nawawi nomor ke -24:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ اْلغِفَارِي, عَنْ النّبِيّ صلى الله عليه وسلم. فِيمَا رَوَىَ عَنِ اللّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَىَ أَنّهُ قَالَ: … يَا عِبَادِي إِنّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرّي فَتَضُرّونِي. وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُونِي
يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ, وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَتْقَىَ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ. مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً.
يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. كَانُوا عَلَىَ أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً. يَا عِبَادِي لَوْ أَنّ أَوّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ. وَإِنْسَكُمْ وَجِنّكُمْ. قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي. فَأَعْطَيْتُ كُلّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ. مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمّا عِنْدِي إِلاّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ.
يَا عِبَادِي إِنّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ. ثُمّ أُوَفّيكُمْ إِيّاهَا. فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللّهَ. وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنّ إِلاّ نَفْسَه

“Dari Abu Dzarr al-Ghifary RA., dari Nabi SAW., dalam apa yang diriwayatkannya dari Rabb-nya ‘Azza Wa Jalla bahwasanya Dia berfirman: …Wahai para hamba-Ku sesungguhnya kalian tidak akan mampu menimpakan bahaya kepada-KU sehingga kalian bisa membayakan-KU dan tidak akan mampu menyampaikan manfa’at kepada-KU sehingga kalian bisa memberi manfa’at pada-KU.

Wahai para hamba-Ku, andaikata hati generasi terdahulu dan akhir dari kalian, golongan manusia dan jin kalian sama seperti hati orang paling takwa di antara kalian (mereka semua adalah ahli kebajikan dan takwa), maka hal itu (keta’atan yang diperbuat makhluk-red.) tidaklah menambah sesuatupun dari kekuasaan-KU.
Wahai para hamba-Ku, andaikata hati generasi terdahulu dan akhir dari kalian, golongan manusia dan jin kalian sama seperti hati orang paling fajir (bejad) di antara kalian (mereka semua ahli maksiat dan bejad), maka hal itu (kemaksiatan yang mereka perbuat-red.) tidaklah mengurangi seseuatupun dari kekuasaan-KU.
Wahai para hamba-Ku, andaikata generasi terdahulu dan akhir dari kalian, golongan manusia dan jin kalian semuanya berada di sebuah bukit/tempat (yang luas), lalu meminta kepada-Ku, lantas Aku kabulkan permintaan masing-masing mereka, maka hal itu tidaklah mengurangi apa yang ada di sisi-Ku kecuali sebagaimana jarum bila dimasukkan ke dalam lautan.
Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya ia hanyalah perbuatan-perbuatan kalian yang aku perhitungkan bagi kalian kemudian Aku cukupkan buat kalian; barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah dan barangsiapa yang mendapatkan selain itu, maka janganlah ia mencela selain dirinya sendiri.” (HR.Muslim)

Akhinya marilah membiasakan diri kita untuk taat dan melakukan kebaikan-kebaikan yang berupa amal soleh yang mana itu semuanya untuk kepentingan dan kemaslahatan kita juga, bukan untuk sang pencipta, Rabb al-‘Izati.

Wallahu a’lam bi al-Showab

Semoga Bermanfaat.
*Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi* , 18 10 2020